FACEBOOK, Tasawuf Djawa
Syahdan semenjak awal Orde Baru pada pertengahan 1960-an sampai sekarang, setiap tahun kita atau setidaknya saya, mengalami cuci otak oleh berita-berita utama media massa Indonesia tentang kisah sukses dalam berhutang. Saya sendiri bahkan sempat menjadi wartawan yang harus meliputnya. Menjadi saksi dari sebuah ironi, sementara delegasi-delegasi negara-negara pemberi hutang tinggal di hotel-hotel sederhana, yang dekat dengan tempat persidangan, sehingga bisa berjalan kaki, atau naik taksi atau mengendarai mobil sederhana, delegasi Indonesia yang berhutang, tinggal di hotel berbintang lima yang bergengsi dengan menyewa limousine nan mewah.
Pada Sidang Konsultasi Negara-negara Donor untuk Indonesia di Paris tahun 1996 misalnya, saya sempat terperangah melihat salah seorang anggota delegasi Australia, yaitu Dr. Peter Mc. Cawley hadir hanya dengan menggunakan sepatu sandal dan baju batik dari bahan katun yang sangat sederhana. Masya Allah. Dan sampai sekarang, entah ini ironi juga atau bukan, saya belum pernah mendengar, baik ulama, tokoh-tokoh umat Islam lebih-lebih lagi partai Islam di Dewan Perwakilan Rakyat, membahas ketergantungan Indonesia pada hutang luar negeri berdasarkan nilai-nilai keislaman. Mudah-mudahan pendapat saya ini salah.
Untuk apa saya ceritakan semua itu? Inilah kaitannya. Gusti Allah yang memiliki segala apa yang di langit dan di bumi, bahkan di seluruh jagad raya ini telah berulang kali menjanjikan di dalam Al Qur’an, akan menganugerahkan kebahagiaan dan kemuliaan di dunia maupun di akhirat, untuk mewariskan bumi ini kepada hamba-hamba-Nya yang senantiasa taat kepada Allah dan Rasul-Nya.
Cobalah kaji beberapa contoh berikut ini : “Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya agar kamu diberi rahmat” (Ali Imran : 132) Kemudian Al-Anbiya : 105, “Dan sungguh Kami telah menetapkan di dalam Zabur sesudah peringatan (Taurat) bahwa sesungguhnya bumi akan diwarisi hamba-hambaKu yang saleh”. Selanjutnya lebih tegas lagi adalah An Nuur : 52, 54 dan 55. Ayat 52 dan 54 memerintahkan sekaligus menjanjikan barang siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya akan diberikan kemenangan, yang diuraikan lagi dalam ayat 55 sebagai berikut: “Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh di antara kamu, sungguh Dia akan menjadikan mereka pimpinan di muka bumi sebagaimana Dia telah menjadikan pemimpin orang-orang sebelum mereka, dan sungguh Dia meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhoi-Nya untuk mereka, dan sungguh Dia akan menggantikan ketakutan mereka dengan keamanan. Mereka menyembahKu, tidak menyekutukanKu dengan sesuatu. Dan barang siapa yang ingkar sesudah demikian itu, maka mereka itulah orang yang fasik”.
Masih banyak lagi ayat-ayat yang memuat janji-janji Allah untuk memudahkan jalan keluar dari berbagai kesulitan, memberi rejeki yang tiada disangka-sangka datangnya, melimpahkan barokah-Nya dari langit dan dari bumi, membuat hamba-hamba-Nya tidak akan merasa khawatir dan tidak pula bersedih hati, memberikan pembeda yang benar dan yang salah, menghapuskan dosa-dosa dan kesalahan serta menganugerahkan pahala yang baik di akherat kelak. Dan “Tidak ada perubahan dari janji-janji Allah” (Yunus: 64).
Demikian tegas janji-janji Allah, bahkan diulang-ulang. Tetapi mengapa umat Islam terpuruk kehidupannya di dunia? Mengapa banyak diantara kita yang hidup menderita, miskin dan papa? Bodoh dan terbelakang? Didera berbagai wabah penyakit dan bencana. Maasyaa Allaah.
Komuditas kartu pos sudah semakin jarang. Kartu pos sudah dikalahkan teknologi. DANTO'S POST CARD adalah komuditas kartu pos yang mengambil tema siar. Berminat bisa email, PM, FB, SMS ke +62085775840569. 50 ex. Rp.150.000 untuk wilayah Indonesia sudah termasuk ongkos kirim.( 50 ex. U$ 100 ). Donasi No. Rek. 0005279566 Bank BNI 46.
KESEDERHANAAN DALAM HITAM PUTIH
Warna secara psikologis punya pengaruh terhadap rasa. Warna-warna tertentu menjadi simbol dari sesuatu. Merah misalnya melambangkan keberanian, hitam melambangkan kemurungan, putih melambangkan kesucian. Warna-warna terang melambangkan keceriaan. Warna hitam putih adalah warna yang menunjukkan kesederhanaan.
Dalam dunia fotografi, warna merupakan salah satu elemen penting dalam membuat suatu karya foto. Menatap karya foto hitam putih, kadang menimbulkan kesan yang lain. Kadang timbul eksotis, mistis, religis dan menunjukkan pernyataan yang lebih bermakna mendalam. Pernyataan Ansel Adam seniman fotografi abad ini "Forget what it looks like. How does is feel?" Menjadi tak berlebihan dalam kontek ini.
Kesederhanaan sebuah kata yang mudah sekali diucapkan tapi sulit untuk dilaksanakan. Dalam kondisi bangsa yang mempunyai utang ribuan trilyun, kesederhanaan menjadi kata kunci yang semestinya dilakukan mulai dari pejabat kelurahan sampai pejabat paling tinggi beserta wakil-wakil rakyatnya. Mereka semestinya bisa menjadi panutan masyarakat.
Apakah mereka bisa menjadi panutan dalam hal kesederhanaan ?....................................................
Justru dalam kehidupan petani, nelayan, buruh, orang yang terpinggirkan kadang kita malah bisa menemukan contoh kesederhanaan.
Bisakah kita berkesederhanaan? .............................
Dalam dunia fotografi, warna merupakan salah satu elemen penting dalam membuat suatu karya foto. Menatap karya foto hitam putih, kadang menimbulkan kesan yang lain. Kadang timbul eksotis, mistis, religis dan menunjukkan pernyataan yang lebih bermakna mendalam. Pernyataan Ansel Adam seniman fotografi abad ini "Forget what it looks like. How does is feel?" Menjadi tak berlebihan dalam kontek ini.
Kesederhanaan sebuah kata yang mudah sekali diucapkan tapi sulit untuk dilaksanakan. Dalam kondisi bangsa yang mempunyai utang ribuan trilyun, kesederhanaan menjadi kata kunci yang semestinya dilakukan mulai dari pejabat kelurahan sampai pejabat paling tinggi beserta wakil-wakil rakyatnya. Mereka semestinya bisa menjadi panutan masyarakat.
Apakah mereka bisa menjadi panutan dalam hal kesederhanaan ?....................................................
Justru dalam kehidupan petani, nelayan, buruh, orang yang terpinggirkan kadang kita malah bisa menemukan contoh kesederhanaan.
Bisakah kita berkesederhanaan? .............................
Sabtu, 16 Juli 2011
Minggu, 10 Juli 2011
Lomba dan Pameran Foto Kebudayaan Indonesia 2011
Lomba dan Pameran Foto Kebudayaan Indonesia 2011
Petunjuk Teknis
Memperebutkan Piala Presiden dan Uang Pembinaan
A. Latar BelakangMemperebutkan Piala Presiden dan Uang Pembinaan
Kebudayaan merupakan karakter dan jati diri bagi setiap bangsa. Bangsa Indonesia memiliki keragaman budaya yang tersebar di seluruh pelosok tanah air dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Rote dengan keunikan dan identitas masing-masing. Keragaman Budaya tersebut harus didokumentasikan dan dipublikasikan kepada masyarakat sehingga timbul peduli untuk melindungi, mengembangkan dan memanfaatkan.
Lomba dan Pameran Foto Kebudayaan Indonesia merupakan wahana yang efektif dalam mendokumentasikan dan mempublikasikan hasil-hasil kebudayaan. Foto di samping sebagai alat dokumentasi juga sebagai media komunikasi visual mempunyai peran yang sangat penting dalam penyebarluasan informasi.
B. Tujuan
- Memberikan ruang ekspresi dan apresiasi kepada masyarakat pecinta fotografi untuk dapat meningkatkan kreativitas dalam pengambilan objek budaya.
- Mendorong tumbuhya rasa cinta terhadap hasil budaya bangsa Indonesia baik yang diwariskan nenek moyang , maupun yang sedang berkembang saat ini.
- Menginventarisasi dan mendokumentasikan keragaman budaya Indonesia yang tersebar di 33 provinsi.
- Memberikan informasi seluas-luasnya kepada masyarakat tentang keanekaragaman budaya bangsa Indonesia.
“Wonderful Indonesia”
D. Kategori Peserta Lomba
- Pelajar
- Mahasiswa
- Umum
- Lomba ini terbuka untuk pelajar, mahasiswa, dan umum, Warga Negara Indonesia;
- Tidak dipungut biaya;
- Karya foto yang dikirim adalah karya ciptaan sendiri, belum pernah dipublikasikan di media cetak skala nasional dan belum pernah memenangkan penghargaan dalam lomba fotografi tingkat nasional atau internasional;
- Foto yang diikutsertakan dalam lomba adalah hasil foto yang benar-benar dari pemotretan baik menggunakan kamera digital atau kamera analog (kamera film);
- Peserta diberikan kebebasan dalam memilih objek hasil-hasil kebudayaan bangsa Indonesia yang tersebar di seluruh tanah air;
- Setiap peserta diperbolehkan mengirimkan maksimal 5 buah karya foto;
- Olah digital diperbolehkan, sebatas perbaikan kualitas foto tanpa merubah keaslian objek (sharpening, cropping, color balance, dan saturasi warna);
- Tidak diperbolehkan mengirimkan foto berupa kombinasi lebih dari satu foto atau menghilangkan/mengubah elemen-elemen dalam satu foto;
- Setiap foto harus dilengkapi identitas diri peserta seperti: kategori, nama fotografer, judul foto, alamat, nomor telepon/hp, e-mail atau secara terpisah dilampiri diskripsi karya dan fotokopi identitas diri seperti kartu pelajar, kartu mahasiswa, KTP, SIM atau surat keterangan lainnya;
- Hak cipta melekat pada fotografer, namun Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata diberikan hak untuk mempublikasikan semua foto yang masuk ke Panitia untuk kepentingan non-komersial tanpa harus ijin dari pemiliknya. Panitia dibebaskan tuntutan pihak III bila foto digunakan untuk kepentingan komersial;
- Foto yang dikirim ke Panitia tidak dikembalikan dan menjadi koleksi Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata;
- Tata cara/prosedur pengiriman karya:
Karya foto diperkecil (resize) dengan ukuran sisi terpanjang 1024 pixel, disimpan dalam JPG skala 6, dan dikirim ke Panitia melalui e-mail dengan alamat: lombafotonasional2011@senimedia.org / lombafotonasional2011@gmail.com - Pengiriman karya dimulai bulan Juni 2011 dan ditutup tanggal 29 Juli 2011 pukul 19.00 WIB;
- Dengan mengirimkan karya foto berarti peserta telah dianggap menyetujui semua persyaratan yang telah ditetapkan oleh Panitia;
- Panitia berhak mendiskualifikasi peserta sebelum dan sesudah penjurian apabila dianggap melakukan kecurangan;
- Seleksi karya untuk memilih 30 nominator, yang terdiri dari 10 foto kategori pelajar, 10 foto kategori mahasiswa, dan 10 foto kategori umum, pada tanggal 1 Agustus 2011;
- Para nominator akan diundang ke Jakarta untuk mengikuti workshop dan hunting pemotretan pada tanggal 16 – 17 Agustus 2011;
- Panitia akan menanggung biaya transportasi peserta (dari daerah asal ke Jakarta P.P.) yang terpilih sebagai nominator, transportasi lokal, akomodasi dan konsumsi selama mengikuti workshop dan hunting pemotretan di Jakarta.
- Pengumuman pemenang pada tanggal 17 Agustus 2011;
- Penyerahan hadiah pada tanggal 18 Agustus 2011;
- Pajak (PPh) hadiah ditanggung pemenang;
- Keputusan dewan juri mutlak tidak dapat diganggu gugat;
- Panitia akan memilih 40 karya foto terbaik dari setiap kategori yang layak untuk dipamerkan bersama dengan 30 karya nominator, pemenang Lomba Cipta Seni Pelajar, dan karya-karya foto undangan;
- Pameran akan dilaksanakan pada tanggal 18 – 20 Agustus 2011 di Jakarta;
- Untuk informasi Lomba peserta dapat mengunjungi Website: www.senimedia.org
- Koordinasi lebih lanjut dapat menghubungi:
Pustanto telp. 021 – 5725561, 0811831866.
Yusuf Hartanto telp. 08176011066 atau
Subdit Seni Media, Direktorat Kesenian Gedung “E” Lantai 9, Komplek Kemendiknas.
Jl. Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta 10270. Telepon/faksimili: (021) 5725561, 5725534
- Pelajar mendapatkan hadiah:
- Juara I: Piala Presiden, piagam dan uang sebesar Rp. 10.000.000
- Juara II: Piala Presiden, piagam dan uang sebesar Rp. 5.000.000
- Juara III: Piala Presiden, piagam dan uang sebesar Rp. 4.000.000
- Harapan I: Piala Presiden, piagam dan uang sebesar Rp. 3.000.000
- Harapan II: Piala Presiden, piagam dan uang sebesar Rp. 2.000.000
- Mahasiswa mendapatkan hadiah:
- Juara I: Piala Presiden, piagam dan uang sebesar Rp. 15.000.000
- Juara II: Piala Presiden, piagam dan uang sebesar Rp. 8.000.000
- Juara III: Piala Presiden, piagam dan uang sebesar Rp. 6.000.000
- Harapan I: Piala Presiden, piagam dan uang sebesar Rp. 4.000.000
- Harapan II: Piala Presiden, piagam dan uang sebesar Rp. 2.000.000
- Umum mendapatkan hadiah:
- Juara I: Piala Presiden, piagam dan uang sebesar Rp. 20.000.000
- Juara II: Piala Presiden, piagam dan uang sebesar Rp. 10.000.000
- Juara III: Piala Presiden, piagam dan uang sebesar Rp. 7.500.000
- Harapan I: Piala Presiden, piagam dan uang sebesar Rp. 5.000.000
- Harapan II: Piala Presiden, piagam dan uang sebesar Rp. 3.000.000
- Kesesuaian Tema (isi foto)
- Daya tarik
- Keunikan
- Harmonisasi
- Arbain Rambey (Fotografer, Editor Foto Kompas, Jakarta)
- Darwis Triadi (Fotografer dan Dosen, Jakarta)
- Ferry Ardiyanto (Fotografer dan Dosen Universitas Trisakti, Jakarta)
- Goenadi Haryanto (Fotografer dan Dosen, Jakarta)
- Sri Bimo Seloaji (Fotografer, Jakarta)
Hal-hal yang belum tercantum dalam Petunjuk Teknis ini, akan diberitahukan lebih lanjut. Kegiatan ini dilaksanakan oleh Direktorat Kesenian, Direktorat Jenderal Nilai Budaya Seni dan Film, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata.
Selasa, 21 Juni 2011
Fotojurnalis, Melakukan Segala dengan Kameranya
FOTOMEDIA, Mei 2003, kr/arb
Dalam banyak diskusi fotografi, umumnya dengan kelompok-kelompok fotografi mahasiswa, pertanyaan ini hampir selalu muncul : "Dalam suatu keadaan tertentu di mana ada orang dalam kesulitan, seorang fotografer sebaiknya menolong atau memotret?"
Coba kita simak kasus Kevin Carter, fotografer lepas untuk kantor berita Reuters dan Sygma Photos New York di Afrika Selatan. Pada awal tahun 1993, Carter mendapat tugas meliput kasus kelaparan besar di Sudan. Banyak foto yang dihasilkan Carter dari liputannya ini. Dan sebuah foto dari liputannya itu kemudian mendapat hadiah sangat bergengsi untuk fotojurnalis, Hadiah Pulitzer pada tahun 1994.
Fotonya yang memenangkan hadiah itu adalah gambar seorang anak kecil yang terjatuh dalam perjalanan menuju posko pembagian makanan. Di dekat anak itu, seekor burung pemakan bangkai menunggu, seakan yakin bahwa anak kecil itu sebentar lagi menjadi santapannya.
Saat menerima Hadiah Pulitzer di New York tanggal 23 Mei 1994 di New York, tidak ada yang menyangka bahwa Carter telah menyimpan kesedihan tersendiri. Kepada beberapa temannya, Carter mengatakan bahwa ia merasa berdosa telah meninggalkan anak kecil itu. Ia kuatir kalau anak itu betul-betul dimakan burung pemakan bangkai. Jadi, saat menerima Hadiah Pulitzer itu sebenarnya Carter telah mengalami penderitaan batin yang dalam. Dua bulan kemudian, ia ditemukan mati bunuh diri di Johannesburg, Afrika Selatan. Dalam sebuah surat yang ditinggalkannya, Carter menegaskan bahwa ia mengalami penderitaan batin akibat terlalu mementingkan pekerjaannya dibandingkan kewajiban kemanusiaan.
Nasib Carter di atas bisa dikatakan sebagai sebuah kasus ekstrim untuk pekerjaan seorang fotojurnalis pada masalah membenturkan etika profesi dan etika moral. Kasus Carter ini menjadi makin menarik karena setelah Carter bunuh diri, diberitakan bahwa anak dalam foto Carter itu ternyata masih segar bugar, sama sekali tidak menjadi santapan burung pemakan bangkai seperti yang dibayangkan Carter.
Namun kasus lain yang lebih kecil bisa saja dialami fotojurnalis di mana pun termasuk di Indonesia. Tulisan ini tidak akan memberikan penegasan pada pilihan yang harus diambil seorang fotojurnalis, namun mengajak berpikir bahwa dengan kameranya sebenarnya seorang fotojurnalis bisa berbuat lebih banyak daripada sekadar menolong secara langsung.
Menghentikan perang
Pada perang Vietnam, Edward Adams yang biasa dipanggil Eddie Adams dari kantor berita Associated Press, AS, berniat memotret ganasnya perang di Saigon. Waktu itu tanggal 1 Februari 1968 adalah Hari Raya Tet, hari yang dianggap suci oleh orang Vietnam. Tidak ada yang menyangka bahwa pasukan Vietcong menyerang Saigon justru pada hari itu. Perang ini kemudian dikenal dengan "Tet Offensive".
Di tengah hiruk pikuk perang kota di Saigon, Adams melihat serombongan polisi Vietnam membawa seorang tawanan. Rombongan itu lalu berbelok ke sebuah lorong. Adams memutuskan untuk mengikuti rombongan itu dan meninggalkan adegan perang yang sedang seru di tengah.
Rombongan berhenti di sebuah sudut dimana sebuah jip menunggu. Dari dalam jip, Kepala Polisi Vietnam, Brigjen Nguyen Ngoc Loan turun dan langsung menghampiri tawanan yang dituduh sebagai salah satu pemimpin penyusupan Veitcong ini. Para Polisi lain segera menyingkir melihat Loan berjalan perlahan menuju sang tawanan yang tangannya terikat di belakang badannya ini.
Naluri Adams mengatakan bahwa akan terjadi sesuatu. Ia menyiapkan Nikon F-2nya yang terisi film B/W Kodak Tri X Pan. Dan kemudian dalam hitungan waktu sangat singkat, Loan mengeluarkan pistol dari pinggangnya dan menembak kepala tawanan itu dalam jarak yang sangat dekat. Waktu sangat singkat, namun Adams mendapatkan gambar adegan itu, bahkan foto itu memenangkan hadiah Pulitzer tahun 1969.
Waktu Eddie Adams ke Jakarta pada tahun 1995, ia bercerita bahwa sejak sang tawanan didekati Loan, dirinya sudah merasa akan terjadi pembunuhan jalanan. "Yang bisa saya lakukan adalah memotret," kata Adams.
Sebelum kita membahas masalah yang ada di balik foto Adams lebih jauh lagi, kita lihat lagi sebuah kejadian yang masih di Perang Vietnam. Kejadian terjadi kira-kira empat tahun setelah Tet Offensive tadi.
Waktu itu 8 Juni 1972, Kota Trang Bang sekitar 40 kilometer barat Saigon sudah dikuasai Vietcong. Pasukan Vietnam Utara ini menutup akses darat dari Trang Bang ke Saigon lewat Jalan Raya nomor 1. Dengan blokade itu, otomatis terjadi kelumpuhan di ruas Trang Bang-Saigon. Maka pasukan Veitnam Selatan minta bantuan angkatan udaranya yang dibantu pasukan AS untuk melakukan pengeboman terhadap posisi Vietcong di sana.
Terjadi kesalahan besar, Bom Napalm (yang biasa juga disebut bom bensin) jatuh di wilayah pengungsi Vietnam Selatan yang sedang meninggalkan Trang Bang. Banyak sekali korban jatuh. Seorang fotografer asal Vietnam Selatan, Huynh Cong Ut, atau yang biasa dipanggil teman-temannya dengan "Nick Ut" sedang berjalan kaki dari Saigon ke Trang Bang. Ia dengan jelas melihat semua adegan dengan lengkap, sejak pesawat pembom meninggalkan Saigon sampai dengan adegan pembomannya.
Rombongan orang yang terluka oleh Napalm salah sasaran itu melewati Nick Ut, termasuk seorang gadis kecil Phan Thi Kim Phuc yang telanjang bulat. Pakaian gadis itu sudah terbakar habis, sementara punggungnya penuh luka bakar.
Nick Ut merasa tidak bisa berbuat apa-apa pada luka-luka yang diderita Phan. Ia berangkat ke Trang Bang memang dengan tujuan membuat liputan semata. Nick Ut tidak membawa peralatan P3K apa pun selain kamera Leicanya yang terisi film B/W Kodak Tri X Pan. Nick Ut akhirnya memotret adegan Phan sedang berlari itu, dan fotonya ini meraih Hadiah Pulitzer tahun 1973.
Efek Jangka Panjang
Ada dua hal penting yang terjadi akibat foto-foto yang dibuat Eddie Adams dan Nick Ut tadi. Foto Adams membuat orang-orang Amerika marah pada Perang Vietnam. Foto penembakan jalanan tanpa pengadilan yang dilakukan Kepala Polisi Loan itu telah membeberkan kebobrokan perang secara umum. Dalam sebuah ulasan tentang foto Adams itu tertulis komentar begini: "Kami semua jadi ragu. Demokrasi dan kebebasan seperti inikah yang dibela Amerika?"
Foto Adams itu dan juga ulasan-ulasan yang kemudian muncul di berbagai surat kabar membuat para warga AS yang notabene membayar pajak untuk membiayai Perang Vietnam marah. Mereka mulai bertanya-tanya pada motivasi AS terlibat di Vietnam. Keganasan jalanan yang direkam Adams diyakini hanya sebagian dari keganasan yang sebenarnya terjadi. Dan keganasan itu jauh dari misi yang digembar-gemborkan pemerintah AS untuk menyakinkan warganya pada keterlibatan negara adidaya itu di Vietnam.
Puncak kemarahan warga AS pada Perang Vietnam makin menjadi setelah foto Nick Ut tercetak di berbagai media massa. Warga AS melihat kesalahan pengeboman itu sudah tidak bisa ditolerir lagi. AS meninggalkan Vietnam tidak lama kemudian.
Pada kasus foto Eddie Adams dan Nick Ut, terlihat bahwa kedua fotografer memang teguh tugas yang diembannya, yaitu memotret. Adams tidak menolong orang yang dihukum mati di jalanan itu selain karena dia tidak punya cukup legitimasi untuk menghentikannya, ia juga merasa yakin bisa "menolong" dengan cara lain. Dengan memotret adegan itu lalu mengedarkannya, Adams merasa telah berbuat sesuatu yang jauh lebih besar kadarnya daripada sekedar berusaha berteriak-teriak agar hukuman mati jalanan itu tidak dilaksanakan.
Yang dilakukan Nick Ut pun tidak jauh berbeda. Ia lebih memilih memotret karena memang pilihannya hanya itu. Namun, dengan mengedarkan fotonya ke seluruh dunia, "pertolongan" yang lebih besar telah datang ke Vietnam. Pada akhir tahun 90-an lalu, Nick Ut mencari Phan Thi Kim Phuc yang telah menikah dengan warga Kanada. Ia memotret lagi Phan yang sedang menggendong bayinya. Punggung Phan yang tampak "mengerikan" akibat bekas terbakar pada 30 tahun sebelumnya diekspos Nick Ut dengan baik. Dan dengan fotonya itu, kembali Nick Ut mendapat penghargaan.
Bagi seorang fotojurnalis, kewajiban di lapangan adalah memotret. Dalam peristiwa bencana alam misalnya. Seorang fotojurnalis harus mengutamakan tugas memotret. Dengan foto-fotonya, ia bisa memberitakan realitas sebuah bencana kepada semua orang. Tanpa fotonya, orang di luar tidak akan tahu bahwa ada bencana alam di suatu tempat.
Sebuah foto bisa mempunyai kekuatan yang luar biasa yang tidak terbayangkan siapa pun. Foto karya Adams dan Nick Ut adalah contoh bagaimana foto bisa mempercepat berhentinya perang. Jadi, seorang fotojurnalis harus yakin bahwa dengan kameranya ia bisa berbuat banyak. Kamera adalah senjata yang ampuh di tangan fotojurnalis yang baik. (kr/arb)
Dalam banyak diskusi fotografi, umumnya dengan kelompok-kelompok fotografi mahasiswa, pertanyaan ini hampir selalu muncul : "Dalam suatu keadaan tertentu di mana ada orang dalam kesulitan, seorang fotografer sebaiknya menolong atau memotret?"
Coba kita simak kasus Kevin Carter, fotografer lepas untuk kantor berita Reuters dan Sygma Photos New York di Afrika Selatan. Pada awal tahun 1993, Carter mendapat tugas meliput kasus kelaparan besar di Sudan. Banyak foto yang dihasilkan Carter dari liputannya ini. Dan sebuah foto dari liputannya itu kemudian mendapat hadiah sangat bergengsi untuk fotojurnalis, Hadiah Pulitzer pada tahun 1994.
Fotonya yang memenangkan hadiah itu adalah gambar seorang anak kecil yang terjatuh dalam perjalanan menuju posko pembagian makanan. Di dekat anak itu, seekor burung pemakan bangkai menunggu, seakan yakin bahwa anak kecil itu sebentar lagi menjadi santapannya.
Saat menerima Hadiah Pulitzer di New York tanggal 23 Mei 1994 di New York, tidak ada yang menyangka bahwa Carter telah menyimpan kesedihan tersendiri. Kepada beberapa temannya, Carter mengatakan bahwa ia merasa berdosa telah meninggalkan anak kecil itu. Ia kuatir kalau anak itu betul-betul dimakan burung pemakan bangkai. Jadi, saat menerima Hadiah Pulitzer itu sebenarnya Carter telah mengalami penderitaan batin yang dalam. Dua bulan kemudian, ia ditemukan mati bunuh diri di Johannesburg, Afrika Selatan. Dalam sebuah surat yang ditinggalkannya, Carter menegaskan bahwa ia mengalami penderitaan batin akibat terlalu mementingkan pekerjaannya dibandingkan kewajiban kemanusiaan.
Nasib Carter di atas bisa dikatakan sebagai sebuah kasus ekstrim untuk pekerjaan seorang fotojurnalis pada masalah membenturkan etika profesi dan etika moral. Kasus Carter ini menjadi makin menarik karena setelah Carter bunuh diri, diberitakan bahwa anak dalam foto Carter itu ternyata masih segar bugar, sama sekali tidak menjadi santapan burung pemakan bangkai seperti yang dibayangkan Carter.
Namun kasus lain yang lebih kecil bisa saja dialami fotojurnalis di mana pun termasuk di Indonesia. Tulisan ini tidak akan memberikan penegasan pada pilihan yang harus diambil seorang fotojurnalis, namun mengajak berpikir bahwa dengan kameranya sebenarnya seorang fotojurnalis bisa berbuat lebih banyak daripada sekadar menolong secara langsung.
Menghentikan perang
Pada perang Vietnam, Edward Adams yang biasa dipanggil Eddie Adams dari kantor berita Associated Press, AS, berniat memotret ganasnya perang di Saigon. Waktu itu tanggal 1 Februari 1968 adalah Hari Raya Tet, hari yang dianggap suci oleh orang Vietnam. Tidak ada yang menyangka bahwa pasukan Vietcong menyerang Saigon justru pada hari itu. Perang ini kemudian dikenal dengan "Tet Offensive".
Di tengah hiruk pikuk perang kota di Saigon, Adams melihat serombongan polisi Vietnam membawa seorang tawanan. Rombongan itu lalu berbelok ke sebuah lorong. Adams memutuskan untuk mengikuti rombongan itu dan meninggalkan adegan perang yang sedang seru di tengah.
Rombongan berhenti di sebuah sudut dimana sebuah jip menunggu. Dari dalam jip, Kepala Polisi Vietnam, Brigjen Nguyen Ngoc Loan turun dan langsung menghampiri tawanan yang dituduh sebagai salah satu pemimpin penyusupan Veitcong ini. Para Polisi lain segera menyingkir melihat Loan berjalan perlahan menuju sang tawanan yang tangannya terikat di belakang badannya ini.
Naluri Adams mengatakan bahwa akan terjadi sesuatu. Ia menyiapkan Nikon F-2nya yang terisi film B/W Kodak Tri X Pan. Dan kemudian dalam hitungan waktu sangat singkat, Loan mengeluarkan pistol dari pinggangnya dan menembak kepala tawanan itu dalam jarak yang sangat dekat. Waktu sangat singkat, namun Adams mendapatkan gambar adegan itu, bahkan foto itu memenangkan hadiah Pulitzer tahun 1969.
Waktu Eddie Adams ke Jakarta pada tahun 1995, ia bercerita bahwa sejak sang tawanan didekati Loan, dirinya sudah merasa akan terjadi pembunuhan jalanan. "Yang bisa saya lakukan adalah memotret," kata Adams.
Sebelum kita membahas masalah yang ada di balik foto Adams lebih jauh lagi, kita lihat lagi sebuah kejadian yang masih di Perang Vietnam. Kejadian terjadi kira-kira empat tahun setelah Tet Offensive tadi.
Waktu itu 8 Juni 1972, Kota Trang Bang sekitar 40 kilometer barat Saigon sudah dikuasai Vietcong. Pasukan Vietnam Utara ini menutup akses darat dari Trang Bang ke Saigon lewat Jalan Raya nomor 1. Dengan blokade itu, otomatis terjadi kelumpuhan di ruas Trang Bang-Saigon. Maka pasukan Veitnam Selatan minta bantuan angkatan udaranya yang dibantu pasukan AS untuk melakukan pengeboman terhadap posisi Vietcong di sana.
Terjadi kesalahan besar, Bom Napalm (yang biasa juga disebut bom bensin) jatuh di wilayah pengungsi Vietnam Selatan yang sedang meninggalkan Trang Bang. Banyak sekali korban jatuh. Seorang fotografer asal Vietnam Selatan, Huynh Cong Ut, atau yang biasa dipanggil teman-temannya dengan "Nick Ut" sedang berjalan kaki dari Saigon ke Trang Bang. Ia dengan jelas melihat semua adegan dengan lengkap, sejak pesawat pembom meninggalkan Saigon sampai dengan adegan pembomannya.
Rombongan orang yang terluka oleh Napalm salah sasaran itu melewati Nick Ut, termasuk seorang gadis kecil Phan Thi Kim Phuc yang telanjang bulat. Pakaian gadis itu sudah terbakar habis, sementara punggungnya penuh luka bakar.
Nick Ut merasa tidak bisa berbuat apa-apa pada luka-luka yang diderita Phan. Ia berangkat ke Trang Bang memang dengan tujuan membuat liputan semata. Nick Ut tidak membawa peralatan P3K apa pun selain kamera Leicanya yang terisi film B/W Kodak Tri X Pan. Nick Ut akhirnya memotret adegan Phan sedang berlari itu, dan fotonya ini meraih Hadiah Pulitzer tahun 1973.
Efek Jangka Panjang
Ada dua hal penting yang terjadi akibat foto-foto yang dibuat Eddie Adams dan Nick Ut tadi. Foto Adams membuat orang-orang Amerika marah pada Perang Vietnam. Foto penembakan jalanan tanpa pengadilan yang dilakukan Kepala Polisi Loan itu telah membeberkan kebobrokan perang secara umum. Dalam sebuah ulasan tentang foto Adams itu tertulis komentar begini: "Kami semua jadi ragu. Demokrasi dan kebebasan seperti inikah yang dibela Amerika?"
Foto Adams itu dan juga ulasan-ulasan yang kemudian muncul di berbagai surat kabar membuat para warga AS yang notabene membayar pajak untuk membiayai Perang Vietnam marah. Mereka mulai bertanya-tanya pada motivasi AS terlibat di Vietnam. Keganasan jalanan yang direkam Adams diyakini hanya sebagian dari keganasan yang sebenarnya terjadi. Dan keganasan itu jauh dari misi yang digembar-gemborkan pemerintah AS untuk menyakinkan warganya pada keterlibatan negara adidaya itu di Vietnam.
Puncak kemarahan warga AS pada Perang Vietnam makin menjadi setelah foto Nick Ut tercetak di berbagai media massa. Warga AS melihat kesalahan pengeboman itu sudah tidak bisa ditolerir lagi. AS meninggalkan Vietnam tidak lama kemudian.
Pada kasus foto Eddie Adams dan Nick Ut, terlihat bahwa kedua fotografer memang teguh tugas yang diembannya, yaitu memotret. Adams tidak menolong orang yang dihukum mati di jalanan itu selain karena dia tidak punya cukup legitimasi untuk menghentikannya, ia juga merasa yakin bisa "menolong" dengan cara lain. Dengan memotret adegan itu lalu mengedarkannya, Adams merasa telah berbuat sesuatu yang jauh lebih besar kadarnya daripada sekedar berusaha berteriak-teriak agar hukuman mati jalanan itu tidak dilaksanakan.
Yang dilakukan Nick Ut pun tidak jauh berbeda. Ia lebih memilih memotret karena memang pilihannya hanya itu. Namun, dengan mengedarkan fotonya ke seluruh dunia, "pertolongan" yang lebih besar telah datang ke Vietnam. Pada akhir tahun 90-an lalu, Nick Ut mencari Phan Thi Kim Phuc yang telah menikah dengan warga Kanada. Ia memotret lagi Phan yang sedang menggendong bayinya. Punggung Phan yang tampak "mengerikan" akibat bekas terbakar pada 30 tahun sebelumnya diekspos Nick Ut dengan baik. Dan dengan fotonya itu, kembali Nick Ut mendapat penghargaan.
Bagi seorang fotojurnalis, kewajiban di lapangan adalah memotret. Dalam peristiwa bencana alam misalnya. Seorang fotojurnalis harus mengutamakan tugas memotret. Dengan foto-fotonya, ia bisa memberitakan realitas sebuah bencana kepada semua orang. Tanpa fotonya, orang di luar tidak akan tahu bahwa ada bencana alam di suatu tempat.
Sebuah foto bisa mempunyai kekuatan yang luar biasa yang tidak terbayangkan siapa pun. Foto karya Adams dan Nick Ut adalah contoh bagaimana foto bisa mempercepat berhentinya perang. Jadi, seorang fotojurnalis harus yakin bahwa dengan kameranya ia bisa berbuat banyak. Kamera adalah senjata yang ampuh di tangan fotojurnalis yang baik. (kr/arb)
Jumat, 20 Mei 2011
SISTEM ZONA ala ANSEL ADAMS
FOTOMEDIA. No. 4, 1994. ARBAIN RAMBEY
Untuk memahami sistem zona Ansel Adams, kita harus sudah memahami kerja di kamar gelap yang meliputi peoses cuci dan cetak hitam putih. Selain itu, sistem zona mengharuskan kita mempunyai suatu standar baku yang jelas tolok ukurnya.
Pertama, kita harus menentukan posisi standar alat pembesar (enlarger) kita. Tandai ketinggian posisi pilihan kita itu agar kalau kita mencetak foto, ketinggian standarlah yang dipakai. Beda ketinggian posisi lensa enlarger, berarti beda pula intensitas penyinaran saat mencetak.
Kedua, kita standarkan pula bukaan diafragma enlarger yang kita pakai. Kalau kita memutuskan memakai f/8, pakailah selalu bukaan ini untuk mencetak kapanpun.
Ketiga, kita standarkan tingkat kontras kertas yang akan kita pakai. Sekali kita memutuskan memakai kertas grade 3, pakailah selalu kertas kelas ini.
Dan keempat, biasakanlah mamakai obat-obat kamar gelap yang dicampur dengan pas, serta selalu segar. Jangan lupa pula untuk menstandarkan suhu kamar gelap dan juga obat-obatan yang dipakai.
Setelah kita menstandarkan segala perlengkapan, kini saatnya kita menata film dan lama pencahayaan standar kita. Sekali kita memutuskan memakai sebuah merek film, pakailah merek itu terus. Dan sekali kita memakai suatu ISO tertentu, pakai pula ISO itu untuk seterusnya. Warna hitam mutlak pada kertas foto terbentuk akibat penyinaran dari bagian negatif yang bening. Untuk itu, kita harus memiliki satu bingkai dari film yang sama sekali tidak pernah disinari sehingga ia bening total. Negatif bening total ini berguna untuk mencari tolok ukur berapa lama kita harus menyinari kertas sampai mendapatkan warna hitam mutlak.
Dari film yang bening total itu, kita membuat cetakan ke kertas pada setelan standar di atas. Buat beberapa cetakan, paling baik dengan cara test stripes pada satu lembar kertas. Beda lama penyinaran antara cetakan yang satu dengan yang lain buatlah teratur, misalnya selang dua detik.
Perhatikan cetakan-cetakan kita. Pada suatu saat tertentu, warna hitam sudah tidak bisa bertambah lagi. Dan waktu yang diperlukan untuk mencapai kondisi hitam mutlak ini adalah waktu yang tepat untuk penyinaran-penyinaran pada pencetakan foto kita.
Sekarang kita mulai mengukur berapa sebenarnya ISO film yang kita pakai. Cara ini tidak lazim pada foto warna, namun pada foto hitam putih sering terjadi bahwa ISO yang tertera di kemasan tidak selalu tepat seperti tercantum pada film.
Potretlah sebuah grey card pada penyinaran yang rata. Lalu cetak foto grey card tadi dengan lama penyinaran yang telah kita dapat. Buat lagi beberapa cetakan dengan penyinaran yang over dan juga under sampai beberapa stop, dengan mengubah bukaan diafragma lensa enlarger. Jangan mengubah-ubah lamanya penyinaran.
Perhatikan, dari beberapa cetakan, mana yang paling mirip dengan grey card asli. Biasanya, pencetakan dengan waktu standar justru bukanlah yang mirip. Inilah fakta bahwa sebenarnya angka ISO yang tertera di kemasan film tidak tepat seperti itu.
Kalau misalnya cetakan yang mirip dengan grey card asli adalah yang under satu stop, berarti ISO film kita lebih tinggi satu tingkat daripada yang tertera di kemasannya. Misalkan di kemasan tertera sebagai ISO-100, lain kali kalau dipakai memotret anggaplah sebagai ISO-200.
Saat kita memotret, pergunakanlah setelan ISO seperti hasil pengukuran kita, dan kalau mencetak pergunakanlah lama waktu standar yang kita peroleh pada pencetakan hitam mutlak.
Setelah itu, kita perlu membuat tabel sistem zona. Kita cetak lagi foto grey card dengan beberapa kombinasi bukaan. Kita harus mendapatkan bermacam cetakan dari yang hitam pekat sampai yang putih total.
Cetakan-cetakan inilah yang disebut tabel sistem zona, dan dapat kita gunakan untuk memperkirakan tone dalam suatu pemotretan.
Ansel Adams membagi berbagai gradasi foto dalam sepuluh zona, yaitu dari zona nol sampai zona sembilan. Yang disebut zona nol adalah hitam total maksimal yang bisa dicapai kertas foto, sedangkan zona sembilan adalah putih total pada kertas foto yang belum pernah tersinari sama sekali.
Zona 0-3 biasa disebut zona bayangan, zona 4-6 adalah zona menengah yang biasanya menjadi "terjemahan" warna-warna merah, biru atau hijau, sedangkan zona 7-9 adalah zona highlights atau zona terang untuk pantulan-pantulan warna atau tekstur yang sangat tipis.
Teori zona Ansel Adams memang tidak mudah untuk dipahami apalagi oleh pemula. Para pakar foto pun tidak begitu saja bisa menandingi Ansel Adams walau teorinya telah dibahas di mana-mana. Cara Adams memang cara sangat teliti dan akurat.
Selain sangat berbakat, Ansel telah membekali dirinya dengan ketekunan yang tidak kenal lelah dalam waktu sangat lama. Ia fotografer besar yang sulit dicari tandingannya. (ARB)
Untuk memahami sistem zona Ansel Adams, kita harus sudah memahami kerja di kamar gelap yang meliputi peoses cuci dan cetak hitam putih. Selain itu, sistem zona mengharuskan kita mempunyai suatu standar baku yang jelas tolok ukurnya.
Pertama, kita harus menentukan posisi standar alat pembesar (enlarger) kita. Tandai ketinggian posisi pilihan kita itu agar kalau kita mencetak foto, ketinggian standarlah yang dipakai. Beda ketinggian posisi lensa enlarger, berarti beda pula intensitas penyinaran saat mencetak.
Kedua, kita standarkan pula bukaan diafragma enlarger yang kita pakai. Kalau kita memutuskan memakai f/8, pakailah selalu bukaan ini untuk mencetak kapanpun.
Ketiga, kita standarkan tingkat kontras kertas yang akan kita pakai. Sekali kita memutuskan memakai kertas grade 3, pakailah selalu kertas kelas ini.
Dan keempat, biasakanlah mamakai obat-obat kamar gelap yang dicampur dengan pas, serta selalu segar. Jangan lupa pula untuk menstandarkan suhu kamar gelap dan juga obat-obatan yang dipakai.
Setelah kita menstandarkan segala perlengkapan, kini saatnya kita menata film dan lama pencahayaan standar kita. Sekali kita memutuskan memakai sebuah merek film, pakailah merek itu terus. Dan sekali kita memakai suatu ISO tertentu, pakai pula ISO itu untuk seterusnya. Warna hitam mutlak pada kertas foto terbentuk akibat penyinaran dari bagian negatif yang bening. Untuk itu, kita harus memiliki satu bingkai dari film yang sama sekali tidak pernah disinari sehingga ia bening total. Negatif bening total ini berguna untuk mencari tolok ukur berapa lama kita harus menyinari kertas sampai mendapatkan warna hitam mutlak.
Dari film yang bening total itu, kita membuat cetakan ke kertas pada setelan standar di atas. Buat beberapa cetakan, paling baik dengan cara test stripes pada satu lembar kertas. Beda lama penyinaran antara cetakan yang satu dengan yang lain buatlah teratur, misalnya selang dua detik.
Perhatikan cetakan-cetakan kita. Pada suatu saat tertentu, warna hitam sudah tidak bisa bertambah lagi. Dan waktu yang diperlukan untuk mencapai kondisi hitam mutlak ini adalah waktu yang tepat untuk penyinaran-penyinaran pada pencetakan foto kita.
Sekarang kita mulai mengukur berapa sebenarnya ISO film yang kita pakai. Cara ini tidak lazim pada foto warna, namun pada foto hitam putih sering terjadi bahwa ISO yang tertera di kemasan tidak selalu tepat seperti tercantum pada film.
Potretlah sebuah grey card pada penyinaran yang rata. Lalu cetak foto grey card tadi dengan lama penyinaran yang telah kita dapat. Buat lagi beberapa cetakan dengan penyinaran yang over dan juga under sampai beberapa stop, dengan mengubah bukaan diafragma lensa enlarger. Jangan mengubah-ubah lamanya penyinaran.
Perhatikan, dari beberapa cetakan, mana yang paling mirip dengan grey card asli. Biasanya, pencetakan dengan waktu standar justru bukanlah yang mirip. Inilah fakta bahwa sebenarnya angka ISO yang tertera di kemasan film tidak tepat seperti itu.
Kalau misalnya cetakan yang mirip dengan grey card asli adalah yang under satu stop, berarti ISO film kita lebih tinggi satu tingkat daripada yang tertera di kemasannya. Misalkan di kemasan tertera sebagai ISO-100, lain kali kalau dipakai memotret anggaplah sebagai ISO-200.
Saat kita memotret, pergunakanlah setelan ISO seperti hasil pengukuran kita, dan kalau mencetak pergunakanlah lama waktu standar yang kita peroleh pada pencetakan hitam mutlak.
Setelah itu, kita perlu membuat tabel sistem zona. Kita cetak lagi foto grey card dengan beberapa kombinasi bukaan. Kita harus mendapatkan bermacam cetakan dari yang hitam pekat sampai yang putih total.
Cetakan-cetakan inilah yang disebut tabel sistem zona, dan dapat kita gunakan untuk memperkirakan tone dalam suatu pemotretan.
Ansel Adams membagi berbagai gradasi foto dalam sepuluh zona, yaitu dari zona nol sampai zona sembilan. Yang disebut zona nol adalah hitam total maksimal yang bisa dicapai kertas foto, sedangkan zona sembilan adalah putih total pada kertas foto yang belum pernah tersinari sama sekali.
Zona 0-3 biasa disebut zona bayangan, zona 4-6 adalah zona menengah yang biasanya menjadi "terjemahan" warna-warna merah, biru atau hijau, sedangkan zona 7-9 adalah zona highlights atau zona terang untuk pantulan-pantulan warna atau tekstur yang sangat tipis.
Teori zona Ansel Adams memang tidak mudah untuk dipahami apalagi oleh pemula. Para pakar foto pun tidak begitu saja bisa menandingi Ansel Adams walau teorinya telah dibahas di mana-mana. Cara Adams memang cara sangat teliti dan akurat.
Selain sangat berbakat, Ansel telah membekali dirinya dengan ketekunan yang tidak kenal lelah dalam waktu sangat lama. Ia fotografer besar yang sulit dicari tandingannya. (ARB)
ANSEL ADAMS, MAESTRO FOTO HITAM PUTIH
FOTOMEDIA. No. 4, 1994. ARBAIN RAMBEY
Siapapun yang tidak kenal nama Ansel Adams, sulit untuk mengklaim bahwa dirinya adalah penggemar fotografi hitam putih. Ansel Adams yang fotografer asal AS ini, bisa dikatakan merupakan salah satu fotografer hitam putih yang paling menonjol.
Karya-karya Adams yang hampir semua merupakan foto pemandangan dan alam benda, sangat indah dan khas. Kehalusan detil, kontras foto dan juga keunggulan teknis lain pada foto-foto karyanya sulit ditiru atau bahkan disamai siapapun.
Dalam foto-foto karya Adams, semua nada muncul dengan sangat pas. Hitam pekat sampai putih total semuanya tersaji dalam porsi yang sebaiknya jangan diubah lagi. Dan itulah sebabnya hampir semua cetakan asli karya Adams berharga sampai jutaan rupiah perlembarnya.
Popularitas Adams didapat dari usahanya yang sangat keras di bidang fotografi hitam putih. Ia sangat intens dalam mempelajari sifat-sifat film dan kertas hitam putih. Pendalamannya yang merupakan gabungan antara teori dasar fotografi dan pengalaman empiris itu, akhirnya membuahkan teori sistem zona (zone system) yang banyak dianut para fotografer hitam putih di dunia.
Pendekatan yang dilakukan Adams dalam menghasilkan sebuah foto adalah proses-proses yang tidak sederhana. Bagi fotografer otodidak ini, sebuah foto adalah media analisis. Foto adalah aksi manusia atas kesadarannya pada alam, seperti dikatakan Adams dalam sebuah publikasi cetak perusahaan peralatan fotografi Hasselblad dari Swedia.
Bagi Adams, fotografi adalah seni mengamati suatu keadaan, dan efektivitas fotografi ditentukan oleh kuat dan intensnya sebuah pengamatan. Hanya pengamatan dan keputusan hasil pengamatan yang kuat yang akan menghasilkan foto bermutu. Fotografi sangat terbatas yaitu cuma tersaji pada sehelai kertas, namun dengan keterbatasannya itu, kalau diolah dengan benar sebuah foto justru akan memiliki kekuatan yang sangat besar.
Dengan definisi tentang pengolahan dari pengalaman itu, Adams mengatakan bahwa tidak ada teori komposisi yang bisa dianut.
"Tidak ada hukum pasti tentang komposisi dalam fotografi. Yang ada hanyalah foto baik atau foto buruk!." kata Adams. Ucapannya itu seakan menegaskan bahwa foto yang baik itu memang baik, bukan karena komposisinya atau hal-hal lain.
Ucapan Adams barangkali banyak benernya. Karya-karya fotografer top biasanya memang mengabaikan teori komposisi. Alex Webb dari kantor berita foto Magnum misalnya, justru sering dengan sengaja memasang sebuah pohon hitam melintang di tengah fotonya, namun justru menghasilkan foto yang menarik. Fotografer pemenang Pulitzer, Eddie Adams, bahkan mengatakan bahwa untuk belajar komposisi sebaiknya sering melihat komik.
Sebenarnya, foto karya Ansel Adams sudah tercipta sebelum ia menjepretkan rana kamera format besarnya (sejak beberapa tahun lalu Ansel Adams juga menggunakan kamera medium format).
Sebelum memotret suatu pemandangan misalnya, di otak Adams telah berlangsung berbagai visualisasi pada hasil final fotonya nanti. Inti utama rancangan visualisasi dalam otak Adams adalah bagaimana agar foto karyanya bisa memiliki definite departure from reality (tidak seperti yang dilihat mata pada pemandangan aslinya).
Dengan berbagai rancangan yang sangat matang sebelum menjepretkan rana, foto-foto Adams memang hampir tidak memerlukan rekayasa kamar gelap seperti dodging, burning atau mengganti-ganti tingkat kontras kertas.
Rekayasa yang dilakukan Adams memang terjadi tidak di kamar gelap, namun di dalam proses kreatifnya selama bertahun-tahun. Pengalamannya dalam berbagai pendekatan, pemotretan dan pencetakan, membuatnya betul-betul tahu kapan bisa menjepretkan rana untuk menghasilkan negatif prima.
"Pendekatan fotografi saya membutuhkan keseriusan dan juga tekad untuk memahami teori dasar fotografi sedalam-dalamnya. Memang ini membutuhkan waktu yang lama, namun saya rasa hanya cara ini yang bisa dilakukan," demikian Adams tentang pengalamannya.
Secara tegas Adams mengatakan bahwa teori dasar fotografi harus dipahami fotografer manapun untuk bisa maju dan mampu mendapatkan gaya khas. Tanpa memahami teori dasar fotografi, seorang fotografer tidak akan pernah tahu apa sebenarnya yang sedang terjadi.
Namun seperti telah disinggung di atas, Adams memang tidak mendasarkan kemampuannya semata dari teori. Ia menambahkan pengalaman empiris yang mungkin tidak dimiliki orang lain. Pengalaman empiris hasil penelitian Adams yang paling menonjol adalah pemahamannya yang sangat dalam pada kemampuan kertas foto "menampung" gradasi yang ada di alam nyata. Juga sistem zona.
Dalam penelitian Adams, kontras yang terjadi di alam antara keadaan sangat terang dan sangat gelap berbanding antara 1600 banding 1. Artinya, bagian paling terang di alam 1600 kali lebih cerah daripada bagian tergelap.
Sedangkan kertas foto cuma mampu menampung perbandingan kecerahan 1 : 50. Daya tarik utama foto-foto Adams terjadi karena ia mampu menerjemahkan perbedaan perbandingan itu dengan baik, antara lain dengan bantuan sistem zonanya.
Secara urut, beginilah tahap-tahap yang dilakukan Ansel Adams dalam menghasilkan sebuah karya foto.
1. Perhatikan "daerah" yang akan dipotret, dan batasi dengan baik. Kenali baik-baik daerah itu, cari bagian mana yang paling gelap. Jangan mudah terkecoh. Secara sekilas kita akan mengira bahwa kain hitam adalah bagian tergelap pada sebuah foto.
Kenyataannya, kain hitam kalau dipotret dan lalu dicetak dengan benar, hanya akan menghasilkan abu-abu tua. Dari pengalaman, bayangan biasanya merupakan bagian tergelap dari sebuah foto. Benda-benda lain yang berwarna hitam sebenarnya hanya abu-abu dalam fotonya nanti. Pengalaman akan mengajari kita memahami hal ini.
Kalau kita ingin sedikit mendapatkan kepastian tentang benda yang akan tampak hitam dalam foto, ambillah sebuah kartu pos lalu letakkan di atas lampu minyak sehingga ia menjadi hitam tertutup jelaga. Hitamnya jelaga nyaris merupakan hitam mutlak dalam foto hitam putih.
2. Sekarang perhatikan bagian paling terang pada daerah yang akan kita potret. Sama halnya seperti saat mencari bagian paling gelap, kita harus waspada agar tidak terkecoh. Kertas putih sering justru menghasilkan abu-abu muda pada foto.
Kilatan logam yang memantulkan sinar matahari bisa dikatakan akan menghasilkan warna putih total pada foto.
3. Setelah mendapatkan dua bagian ekstrem pada daerah yang akan kita potret, pikirkan bagaimana "meringkas" jarak kedua kecerahan ekstrem itu ke dalam negatif film. dan juga ke kertas fotonya nanti.
Usahakan bijaksana memahami hal itu. Sebuah sendok yang mengkilat akan menjadi bagian terputih pada foto kita, namun misalnya sendok itu tidak jadi ikut dipotret, sebuah taplak putih di bawah sendok haruslah menjadi bagian terputih dari foto kita nanti.
Pemahaman keadaan relatif ini perlu sebab foto hitam putih memang menerjemahkan apa yang ada di alam semata ke dalam nuansa hitam putih. Selain itu, Adams memang mengatakan bahwa pada foto hitam putih, walau memotret keadaan nyata, haruslah tampak tidak seperti mata melihat. Harus ada nilai tambah secara visual, terutama karena foto itu menyandang predikat sebagai sebuah karya.
4. Setelah mendapatkan "kunci" kedua keadaan ekstrem, kita telusuri gradasi tengahnya. Sebaiknya pemotret membekali dirinya dengan grey card (kartu abu-abu 18 persen yang biasanya dijadikan tolok ukur pencahayaan).
Bandingkan bagian paling terang dan bagian tergelap dengan gray card tadi. Dengan membuat perbandingan secara visual tadi, efek subjektif sudah terjadi di benak fotografer.
Selain itu, pemotret juga harus sudah paham perbandingan "nada" antarwarna. Bagaimana bila warna merah diletakkan di atas dasar hijau atau biru, demikian pula sebaliknya. Ada efek visual yang terjadi di mata antara merah di atas dasar biru atau merah di atas dasar hijau, walau dalam kenyataannya warna itu tidak berubah.
Pemahaman berbagai gradasi nada itulah yang membuat Adams sulit ditandingi siapapun, terutama untuk foto hitam putih.
Ansel Adams pertama kali mengenal fotografi pada usia 14 tahun di tahun 1916. Ia begitu terpesona pada keindahan taman nasional AS, Yosemite Valley di California. Ia banyak memotret di sana dengan kamera Kodak Brownie. Sampai beberapa tahun kemudian pun, foto-foto terbaik Ansel dibuat di Yosemite Valley.
Setelah itu, Ansel belajar teori fotografi secara sangat serius sampai menguasai segala tetek-bengek kamar gelap. Pada tahun 1930 ia telah menjadi salah seorang fotografer AS terkemuka dan melakukan pameran tunggal di Alfred Stieglitz's Gallery dengan judul, "An American Place".
Fotografer yang sangat mempengaruhi Ansel Adams adalah Paul Strand. Selain itu ia juga pernah bekerja sama dengan fotografer lain, Edward Weston, dalam waktu lama. Weston inilah yang mengenalkan proses cetak yang sangat teliti pada Adams.
Dua foto Ansel Adams yang paling terkenal adalah Banner Peak buatan tahun 1923 dan The Half Dome buatan tahun 1926. Kedua foto ini menampilkan kehalusan detil yang luar biasa, yang didapat dari proses kamar gelap yang sangat akurat. (ARBAIN RAMBEY)
Siapapun yang tidak kenal nama Ansel Adams, sulit untuk mengklaim bahwa dirinya adalah penggemar fotografi hitam putih. Ansel Adams yang fotografer asal AS ini, bisa dikatakan merupakan salah satu fotografer hitam putih yang paling menonjol.
Karya-karya Adams yang hampir semua merupakan foto pemandangan dan alam benda, sangat indah dan khas. Kehalusan detil, kontras foto dan juga keunggulan teknis lain pada foto-foto karyanya sulit ditiru atau bahkan disamai siapapun.
Dalam foto-foto karya Adams, semua nada muncul dengan sangat pas. Hitam pekat sampai putih total semuanya tersaji dalam porsi yang sebaiknya jangan diubah lagi. Dan itulah sebabnya hampir semua cetakan asli karya Adams berharga sampai jutaan rupiah perlembarnya.
Popularitas Adams didapat dari usahanya yang sangat keras di bidang fotografi hitam putih. Ia sangat intens dalam mempelajari sifat-sifat film dan kertas hitam putih. Pendalamannya yang merupakan gabungan antara teori dasar fotografi dan pengalaman empiris itu, akhirnya membuahkan teori sistem zona (zone system) yang banyak dianut para fotografer hitam putih di dunia.
Pendekatan yang dilakukan Adams dalam menghasilkan sebuah foto adalah proses-proses yang tidak sederhana. Bagi fotografer otodidak ini, sebuah foto adalah media analisis. Foto adalah aksi manusia atas kesadarannya pada alam, seperti dikatakan Adams dalam sebuah publikasi cetak perusahaan peralatan fotografi Hasselblad dari Swedia.
Bagi Adams, fotografi adalah seni mengamati suatu keadaan, dan efektivitas fotografi ditentukan oleh kuat dan intensnya sebuah pengamatan. Hanya pengamatan dan keputusan hasil pengamatan yang kuat yang akan menghasilkan foto bermutu. Fotografi sangat terbatas yaitu cuma tersaji pada sehelai kertas, namun dengan keterbatasannya itu, kalau diolah dengan benar sebuah foto justru akan memiliki kekuatan yang sangat besar.
Dengan definisi tentang pengolahan dari pengalaman itu, Adams mengatakan bahwa tidak ada teori komposisi yang bisa dianut.
"Tidak ada hukum pasti tentang komposisi dalam fotografi. Yang ada hanyalah foto baik atau foto buruk!." kata Adams. Ucapannya itu seakan menegaskan bahwa foto yang baik itu memang baik, bukan karena komposisinya atau hal-hal lain.
Ucapan Adams barangkali banyak benernya. Karya-karya fotografer top biasanya memang mengabaikan teori komposisi. Alex Webb dari kantor berita foto Magnum misalnya, justru sering dengan sengaja memasang sebuah pohon hitam melintang di tengah fotonya, namun justru menghasilkan foto yang menarik. Fotografer pemenang Pulitzer, Eddie Adams, bahkan mengatakan bahwa untuk belajar komposisi sebaiknya sering melihat komik.
Sebenarnya, foto karya Ansel Adams sudah tercipta sebelum ia menjepretkan rana kamera format besarnya (sejak beberapa tahun lalu Ansel Adams juga menggunakan kamera medium format).
Sebelum memotret suatu pemandangan misalnya, di otak Adams telah berlangsung berbagai visualisasi pada hasil final fotonya nanti. Inti utama rancangan visualisasi dalam otak Adams adalah bagaimana agar foto karyanya bisa memiliki definite departure from reality (tidak seperti yang dilihat mata pada pemandangan aslinya).
Dengan berbagai rancangan yang sangat matang sebelum menjepretkan rana, foto-foto Adams memang hampir tidak memerlukan rekayasa kamar gelap seperti dodging, burning atau mengganti-ganti tingkat kontras kertas.
Rekayasa yang dilakukan Adams memang terjadi tidak di kamar gelap, namun di dalam proses kreatifnya selama bertahun-tahun. Pengalamannya dalam berbagai pendekatan, pemotretan dan pencetakan, membuatnya betul-betul tahu kapan bisa menjepretkan rana untuk menghasilkan negatif prima.
"Pendekatan fotografi saya membutuhkan keseriusan dan juga tekad untuk memahami teori dasar fotografi sedalam-dalamnya. Memang ini membutuhkan waktu yang lama, namun saya rasa hanya cara ini yang bisa dilakukan," demikian Adams tentang pengalamannya.
Secara tegas Adams mengatakan bahwa teori dasar fotografi harus dipahami fotografer manapun untuk bisa maju dan mampu mendapatkan gaya khas. Tanpa memahami teori dasar fotografi, seorang fotografer tidak akan pernah tahu apa sebenarnya yang sedang terjadi.
Namun seperti telah disinggung di atas, Adams memang tidak mendasarkan kemampuannya semata dari teori. Ia menambahkan pengalaman empiris yang mungkin tidak dimiliki orang lain. Pengalaman empiris hasil penelitian Adams yang paling menonjol adalah pemahamannya yang sangat dalam pada kemampuan kertas foto "menampung" gradasi yang ada di alam nyata. Juga sistem zona.
Dalam penelitian Adams, kontras yang terjadi di alam antara keadaan sangat terang dan sangat gelap berbanding antara 1600 banding 1. Artinya, bagian paling terang di alam 1600 kali lebih cerah daripada bagian tergelap.
Sedangkan kertas foto cuma mampu menampung perbandingan kecerahan 1 : 50. Daya tarik utama foto-foto Adams terjadi karena ia mampu menerjemahkan perbedaan perbandingan itu dengan baik, antara lain dengan bantuan sistem zonanya.
Secara urut, beginilah tahap-tahap yang dilakukan Ansel Adams dalam menghasilkan sebuah karya foto.
1. Perhatikan "daerah" yang akan dipotret, dan batasi dengan baik. Kenali baik-baik daerah itu, cari bagian mana yang paling gelap. Jangan mudah terkecoh. Secara sekilas kita akan mengira bahwa kain hitam adalah bagian tergelap pada sebuah foto.
Kenyataannya, kain hitam kalau dipotret dan lalu dicetak dengan benar, hanya akan menghasilkan abu-abu tua. Dari pengalaman, bayangan biasanya merupakan bagian tergelap dari sebuah foto. Benda-benda lain yang berwarna hitam sebenarnya hanya abu-abu dalam fotonya nanti. Pengalaman akan mengajari kita memahami hal ini.
Kalau kita ingin sedikit mendapatkan kepastian tentang benda yang akan tampak hitam dalam foto, ambillah sebuah kartu pos lalu letakkan di atas lampu minyak sehingga ia menjadi hitam tertutup jelaga. Hitamnya jelaga nyaris merupakan hitam mutlak dalam foto hitam putih.
2. Sekarang perhatikan bagian paling terang pada daerah yang akan kita potret. Sama halnya seperti saat mencari bagian paling gelap, kita harus waspada agar tidak terkecoh. Kertas putih sering justru menghasilkan abu-abu muda pada foto.
Kilatan logam yang memantulkan sinar matahari bisa dikatakan akan menghasilkan warna putih total pada foto.
3. Setelah mendapatkan dua bagian ekstrem pada daerah yang akan kita potret, pikirkan bagaimana "meringkas" jarak kedua kecerahan ekstrem itu ke dalam negatif film. dan juga ke kertas fotonya nanti.
Usahakan bijaksana memahami hal itu. Sebuah sendok yang mengkilat akan menjadi bagian terputih pada foto kita, namun misalnya sendok itu tidak jadi ikut dipotret, sebuah taplak putih di bawah sendok haruslah menjadi bagian terputih dari foto kita nanti.
Pemahaman keadaan relatif ini perlu sebab foto hitam putih memang menerjemahkan apa yang ada di alam semata ke dalam nuansa hitam putih. Selain itu, Adams memang mengatakan bahwa pada foto hitam putih, walau memotret keadaan nyata, haruslah tampak tidak seperti mata melihat. Harus ada nilai tambah secara visual, terutama karena foto itu menyandang predikat sebagai sebuah karya.
4. Setelah mendapatkan "kunci" kedua keadaan ekstrem, kita telusuri gradasi tengahnya. Sebaiknya pemotret membekali dirinya dengan grey card (kartu abu-abu 18 persen yang biasanya dijadikan tolok ukur pencahayaan).
Bandingkan bagian paling terang dan bagian tergelap dengan gray card tadi. Dengan membuat perbandingan secara visual tadi, efek subjektif sudah terjadi di benak fotografer.
Selain itu, pemotret juga harus sudah paham perbandingan "nada" antarwarna. Bagaimana bila warna merah diletakkan di atas dasar hijau atau biru, demikian pula sebaliknya. Ada efek visual yang terjadi di mata antara merah di atas dasar biru atau merah di atas dasar hijau, walau dalam kenyataannya warna itu tidak berubah.
Pemahaman berbagai gradasi nada itulah yang membuat Adams sulit ditandingi siapapun, terutama untuk foto hitam putih.
Ansel Adams pertama kali mengenal fotografi pada usia 14 tahun di tahun 1916. Ia begitu terpesona pada keindahan taman nasional AS, Yosemite Valley di California. Ia banyak memotret di sana dengan kamera Kodak Brownie. Sampai beberapa tahun kemudian pun, foto-foto terbaik Ansel dibuat di Yosemite Valley.
Setelah itu, Ansel belajar teori fotografi secara sangat serius sampai menguasai segala tetek-bengek kamar gelap. Pada tahun 1930 ia telah menjadi salah seorang fotografer AS terkemuka dan melakukan pameran tunggal di Alfred Stieglitz's Gallery dengan judul, "An American Place".
Fotografer yang sangat mempengaruhi Ansel Adams adalah Paul Strand. Selain itu ia juga pernah bekerja sama dengan fotografer lain, Edward Weston, dalam waktu lama. Weston inilah yang mengenalkan proses cetak yang sangat teliti pada Adams.
Dua foto Ansel Adams yang paling terkenal adalah Banner Peak buatan tahun 1923 dan The Half Dome buatan tahun 1926. Kedua foto ini menampilkan kehalusan detil yang luar biasa, yang didapat dari proses kamar gelap yang sangat akurat. (ARBAIN RAMBEY)
Kamis, 19 Mei 2011
MENYELINAP KE PENJARA MENGABADIKAN KEMATIAN
FOTOMEDIA. No. 1, 1994. Eduardo A. Wibowo
Jumat 13 Januari 1928, masyarakat Amerika Serikat, terutama warga kota New York dicengangkan oleh tabloid Daily News. Hari itu, pada kulit muka tabloid ini terpampang tulisan besar dan pendek "Dead!" di atas sebuah gambar seorang wanita yang tengah menghadapi ajal di kursi listrik hukuman mati.
Berita tentang hukuman mati adalah hal yang biasa. Daily News menjadi istimewa bukan karena berita hukuman mati melainkan karena memuat foto sebuah pelaksanaan hukuman mati.
Sebelumnya tidak pernah ada media massa yang memuat foto eksekusi hukuman mati. Karena memang umumnya pelaksanaan hukuman mati tidak boleh difoto. Bagaimana foto eksekusi itu bisa sampai ke tangan Daily News?
Ada cerita menarik di balik pemuatan foto itu. Dan ini merupakan salah satu peristiwa sejarah foto jurnalistik yang perlu kita simak.
Daily News yang didirikan tahun 1919 semula bernama Ilustrated Daily News. Tabloid ini banyak diminati pembaca karena beritanya yang sensasional terutama yang menyangkut masalah kriminalitas dan seks. Bahkan pada tahun 1924 Daily News menjadi surat kabar paling luas peredarannya di Amerika Serikat. Seperti tabloid pada umumnya, Daily News sanantiasa menampilkan gambar yang hampir memenuhi halaman muka.
Pada akhir tahun 1927 New York dihangatkan berita tentang Ruth Snyder yang dituduh telah menghabisi nyawa suaminya sendiri. Motif cinta segi tiga menghadapkan Ruth Snyder ke pangadilan yang menjatuhkan vonis hukuman mati dengan kursi listrik. Eksekusi hukuman mati tersebut akan dilaksanakan di penjara Sing Sing, New York.
Redaksi Daily News memutuskan untuk memuat foto eksekusi hukuman mati itu. Tapi ternyata untuk mewujudkan rencana pemuatan foto eksekusi ini tidak mudah. Meskipun tidak ada peraturan yang melarang, tapi tradisi penjara dan petugas penjara tidak akan membiarkan orang mengabadikan eksekusi hukuman mati. Wartawan tulis mendapat undangan untuk meliput eksekusi, tapi wartawan foto tidak pernah bisa memasuki ruang eksekusi.
Berarti untuk bisa mendapatkan gambar eksekusi, sang wartawan harus menyelundupkan kamera ke penjara. Pemotretan eksekusi harus dilakukan tanpa sepengetahuan petugas penjara.
Maka disiapkanlah sebuah kamera rahasia. Kamera ini cukup kecil hingga bisa dikaitkan pada mata kaki pemotret. Untuk membuka rana digunakan seutas kabel release panjang yang menghubungkan kamera dengan saku.
Pemotretan tidak menggunakan film tapi dengan sekeping pelat kaca seukuran kotak korek api. Dituntut kepiawaian sang pemotret untuk bisa memotret satu kali dan berhasil. Karena demi kerahasiaan tidak ada kesempatan mengganti pelat kaca lagi.
Karena wajah wartawan foto Daily News sudah dikenal oleh polisi New York, tidak mungkin bisa memasuki ruang eksekusi. Maka didatangkan Tom Howard dari Chicago Tribune untuk mengemban tugas ini. Howard datang ke New York satu bulan sebelum pelaksanaan eksekusi.
Waktu satu bulan itu digunakan untuk belajar membidikkan kamera rahasia. Selain belajar mengoperasikan kamera Howard juga mempelajari blueprint ruang eksekusi yang diberikan editor Daily News kepadanya. Ini perlu untuk menentukan beberapa kemungkinan posisi berdiri Howard dalam melaksanakan pemotretan.
Selain itu juga diperlukan untuk memperkirakan jarak fokus yang harus digunakan untuk melaksanakan pemotretan. Jarak fokus kamera harus sudah ditentukan sebelum Howard berangkat ke penjara. Karena ia tidak mungkin melakukan pemfokusan di ruang eksekusi.
Pada malam pelaksanaan eksekusi dengan menyamar sebagai wartawan tulis, Howard berjalan santai menuju ruang kursi listrik di penjara Sing Sing. Tentu saja semua peralatan sudah ia persiapkan.
Pukul 23.06 ketika tubuh Ruth Snyder yang terikat di kursi eksekusi dialiri listrik 2.200 volt. Howard sedikit menarik ke atas celana sebelah kiri, dan dengan tangan yang tersimpan di dalam saku ia membuka rana untuk merekam peristiwa di hadapannya. Eksekusi usai, Howard pun segera ke kantor Daily News.
Ketika dicetak, gambar yang terekam tampak agak kabur. Ini disebabkan Howard membuka rana selama tiga kali dalam total waktu lebih kurang lima detik. Multi exposure ini dilakukan untuk merekam ekspresi Ruth Snyder setiap kali listrik tegangan tinggi menyengatnya.
Sebelum dijadikan gambar kulit muka, hasil bidikan Howard perlu di-croping. Karena pada gambar yang utuh tampak juga kaki-kaki para penonton lainnya. Ini terjadi karena Howard membidik objek dengan kakinya, tentu saja hanya berdasarkan kira-kira.
Setelah dilakukan croping maka terbitlah Daily News 13 Januari 1928 salah satu peristiwa sejarah foto jurnalistik.
Bahan bacaan:
1. Photojournalism, Life Library of Photography, 1976
2. Popular Photography, Maret 1976
3. Popular Photography, Januari 1961
Jumat 13 Januari 1928, masyarakat Amerika Serikat, terutama warga kota New York dicengangkan oleh tabloid Daily News. Hari itu, pada kulit muka tabloid ini terpampang tulisan besar dan pendek "Dead!" di atas sebuah gambar seorang wanita yang tengah menghadapi ajal di kursi listrik hukuman mati.
Berita tentang hukuman mati adalah hal yang biasa. Daily News menjadi istimewa bukan karena berita hukuman mati melainkan karena memuat foto sebuah pelaksanaan hukuman mati.
Sebelumnya tidak pernah ada media massa yang memuat foto eksekusi hukuman mati. Karena memang umumnya pelaksanaan hukuman mati tidak boleh difoto. Bagaimana foto eksekusi itu bisa sampai ke tangan Daily News?
Ada cerita menarik di balik pemuatan foto itu. Dan ini merupakan salah satu peristiwa sejarah foto jurnalistik yang perlu kita simak.
Daily News yang didirikan tahun 1919 semula bernama Ilustrated Daily News. Tabloid ini banyak diminati pembaca karena beritanya yang sensasional terutama yang menyangkut masalah kriminalitas dan seks. Bahkan pada tahun 1924 Daily News menjadi surat kabar paling luas peredarannya di Amerika Serikat. Seperti tabloid pada umumnya, Daily News sanantiasa menampilkan gambar yang hampir memenuhi halaman muka.
Pada akhir tahun 1927 New York dihangatkan berita tentang Ruth Snyder yang dituduh telah menghabisi nyawa suaminya sendiri. Motif cinta segi tiga menghadapkan Ruth Snyder ke pangadilan yang menjatuhkan vonis hukuman mati dengan kursi listrik. Eksekusi hukuman mati tersebut akan dilaksanakan di penjara Sing Sing, New York.
Redaksi Daily News memutuskan untuk memuat foto eksekusi hukuman mati itu. Tapi ternyata untuk mewujudkan rencana pemuatan foto eksekusi ini tidak mudah. Meskipun tidak ada peraturan yang melarang, tapi tradisi penjara dan petugas penjara tidak akan membiarkan orang mengabadikan eksekusi hukuman mati. Wartawan tulis mendapat undangan untuk meliput eksekusi, tapi wartawan foto tidak pernah bisa memasuki ruang eksekusi.
Berarti untuk bisa mendapatkan gambar eksekusi, sang wartawan harus menyelundupkan kamera ke penjara. Pemotretan eksekusi harus dilakukan tanpa sepengetahuan petugas penjara.
Maka disiapkanlah sebuah kamera rahasia. Kamera ini cukup kecil hingga bisa dikaitkan pada mata kaki pemotret. Untuk membuka rana digunakan seutas kabel release panjang yang menghubungkan kamera dengan saku.
Pemotretan tidak menggunakan film tapi dengan sekeping pelat kaca seukuran kotak korek api. Dituntut kepiawaian sang pemotret untuk bisa memotret satu kali dan berhasil. Karena demi kerahasiaan tidak ada kesempatan mengganti pelat kaca lagi.
Karena wajah wartawan foto Daily News sudah dikenal oleh polisi New York, tidak mungkin bisa memasuki ruang eksekusi. Maka didatangkan Tom Howard dari Chicago Tribune untuk mengemban tugas ini. Howard datang ke New York satu bulan sebelum pelaksanaan eksekusi.
Waktu satu bulan itu digunakan untuk belajar membidikkan kamera rahasia. Selain belajar mengoperasikan kamera Howard juga mempelajari blueprint ruang eksekusi yang diberikan editor Daily News kepadanya. Ini perlu untuk menentukan beberapa kemungkinan posisi berdiri Howard dalam melaksanakan pemotretan.
Selain itu juga diperlukan untuk memperkirakan jarak fokus yang harus digunakan untuk melaksanakan pemotretan. Jarak fokus kamera harus sudah ditentukan sebelum Howard berangkat ke penjara. Karena ia tidak mungkin melakukan pemfokusan di ruang eksekusi.
Pada malam pelaksanaan eksekusi dengan menyamar sebagai wartawan tulis, Howard berjalan santai menuju ruang kursi listrik di penjara Sing Sing. Tentu saja semua peralatan sudah ia persiapkan.
Pukul 23.06 ketika tubuh Ruth Snyder yang terikat di kursi eksekusi dialiri listrik 2.200 volt. Howard sedikit menarik ke atas celana sebelah kiri, dan dengan tangan yang tersimpan di dalam saku ia membuka rana untuk merekam peristiwa di hadapannya. Eksekusi usai, Howard pun segera ke kantor Daily News.
Ketika dicetak, gambar yang terekam tampak agak kabur. Ini disebabkan Howard membuka rana selama tiga kali dalam total waktu lebih kurang lima detik. Multi exposure ini dilakukan untuk merekam ekspresi Ruth Snyder setiap kali listrik tegangan tinggi menyengatnya.
Sebelum dijadikan gambar kulit muka, hasil bidikan Howard perlu di-croping. Karena pada gambar yang utuh tampak juga kaki-kaki para penonton lainnya. Ini terjadi karena Howard membidik objek dengan kakinya, tentu saja hanya berdasarkan kira-kira.
Setelah dilakukan croping maka terbitlah Daily News 13 Januari 1928 salah satu peristiwa sejarah foto jurnalistik.
Bahan bacaan:
1. Photojournalism, Life Library of Photography, 1976
2. Popular Photography, Maret 1976
3. Popular Photography, Januari 1961
Selasa, 17 Mei 2011
APA ITU ESAI FOTO?
FOTOMEDIA. No. 1. 1994. Arbain Rambey/Kartono Ryadi
Dalam dunia tulis menulis, esai adalah tulisan yang mengangkat suatu masalah tanpa harus memberikan penyelesaian pada suatu persoalan, namun opini penulis sangat menonjol dengan segala kandungan pikirannya, gaya bahasanya bahkan sering dilengkapi "kenakalan" ide.
Dalam jurnalistik foto, esai foto secara umum mempunyai sifat yang sama dengan esai tulisan yaitu mengandung opini dari suatu sudut pandang. Namun dalam prakteknya mempunyai kekhasan karena esai foto di samping terdiri dari tulisan, juga terdiri dari foto.
Pada hakekatnya esai foto merupakan gabungan dari foto berita dan foto features. Foto berita adalah foto yang dibuat tanpa bisa direncanakan sebelumnya, dan yang paling penting terikat aktualitas. Hakekat lain foto berita adalah pentingnya obyek terfoto, serta besar dan tragisnya sebuah kejadian. Sementara, foto features dapat direncanakan, dibuat dan dipublikasikan kapan saja tanpa terikat waktu. Foto features biasanya merupakan nukilan celah-celah kehidupan manusia yang terjadi setiap hari. Gabungan foto berita dan foto features inilah yang membuat sebuah esai foto menjadi "utuh" dan mempunyai "alur" yang sesuai dengan keinginan pembuatnya.
Mengapa esai foto harus memenuhi persyaratan gabungan dari dua jenis foto jurnalistik itu?
Gabungan beberapa foto yang ditampilkan sekaligus tidak selalu merupakan esai foto. Beberapa foto yang diabadikan dari satu sudut tentang kejadian yang berlangsung beberapa detik merupakan photo sequence. Sedangkan foto yang mengabadikan suatu kejadian dalam beberapa saat saja tanpa bumbu lain merupakan foto seri.
Dan karena sebuah esai foto terdiri dari beberapa foto, pemilihan gambar menjadi amat penting. Sang fotografer tidak saja harus mengambil foto, tapi juga harus membuat foto. Not only to take the picture, but to make the picture. Kedekatan fotografer dan obyek yang dipotretnya harus terjalin untuk menghasilkan foto yang baik.
Keterkaitan antar foto
Kualitas sebuah esai foto tidak ditentukan pada jumlah fotonya melainkan pada bagaimana keterkaitan sebuah foto dengan foto yang lain. Yang ikut menentukan pula adalah kroping, tata letak dan ukuran fotonya. Ada foto yang harus dicetak besar, namun ada pula foto yang cuma perlu dicetak kecil tanpa kehilangan "peran"nya.
Sebagai contoh, misalnya akan dibuat esai foto tentang seorang mantan WTS di Jatim yang mengidap virus HIV dan melahirkan bayinya pertengahan Mei lalu. Lepas dari etika, dan apakah foto itu akan dipublikasikan atau tidak, sang fotografer harus menjalin kedekatan dengan sang mantan WTS itu.
Ia harus bertemu secara teratur untuk membuat foto. Bahkan karena konon untuk mengetahui apakah bayi yang dilahirkan itu juga mengidap HIV diperlukan waktu 7 bulan, bisa jadi pula sang fotografer baru bisa menyelesaikan esainya dalam waktu setahun.
Salah satu contoh esai foto yang dibuat dalam waktu cukup lama dan bahkan sampai fotografernya pada proses pembuatannya sempat menjadi korban pemukulan, adalah esai foto tentang tragedi pencemaran lingkungan di Minamata, Jepang.
Pada tahun 1971, Eugene Smith yang berkerja untuk majalah berita bergambar Life, mendengar bahwa pencemaran air raksa di pantai Minamata telah membuat cacat banyak bayi yang lahir di daerah itu. Lalu Smith membuka banyak buku yang membahas tentang efek air raksa pada manusia, dan mempelajarinya.
Dengan bekal pengetahuan yang didapatnya dari buku-buku. Smith lalu merancang "skenario" foto-foto bagaimana yang akan dibuatnya di Minamata agar masalah pencemaran air raksa itu tergambar jelas.
Dari buku pula Eugene Smith tahu bahwa pencemaran air raksa akan membuat anak yang terkena pencemaran itu sejak bayi akan menjadi terbelakang mental berat dengan mimik muka khas. Dengan bekal pengetahuan dari buku ini, Eugene Smith lalu khusus mencari dan akhirnya berhasil mendapatkan foto seorang anak korban pencemaran dari keluarga Uemura yang sedang dimandikan ibunya. Foto ini adalah sebuah foto dari esai fotonya yang menjadi terkenal sekali. Dunia terguncang karena foto itu, dan pabrik penyebab pencemaran, yaitu Chisso, lalu ditutup.
"Saya tidak asal memotret begitu sampai di Minamata. Membuat esai foto adalah membuat beberapa foto dari suatu perencanaan yang ketat." kata Smith dalam wawancara di buku Photojurnalism, The Professionals Approach karangan Kenneth Kobre.
Dari kata-kata Eugene Smith ini jelas bahwa membuat esai foto bukan memotret sebanyak mungkin untuk lalu dipilih setelah dicetak. Sebenarnya bisa dikatakan bahwa esai foto telah jadi saat direncanakan. Pemotretan yang berlangsung adalah final touch saja walau tidak jarang sedikit merubah skenario yang telah disusun akibat pengalaman lapangan yang didapat kemudian.
Masalah bisa sederhana
Jadi, membuat esai foto memang tidak terlalu sederhana. Selain harus dilengkapi bahan riset, minimal dalam benak sang fotografer telah ada konsep bagaimana jadinya esai foto itu nantinya. Namun yang harus ditekankan pula, esai foto tidak harus berangkat dari masalah yang sangat besar.
Hadiah Pulitzer tahun 1980 jatuh pada esai foto karya Skeeter Hagler dari Dallas Times Herald yang "cuma" menceriterakan kehidupan penggembala sapi di AS.
Namun, Hagler mampu menceriterakan kehidupan "cowboy modern" dengan jelas dan menarik. Terlihat bagaimana penggembala sapi di era 80-an bukanlah seperti dalam film-film western yang selalu menenteng pistol. Bahkan beberapa penggembala melengkapi dirinya dengan helikopter segala. Hal-hal mendasar seperti bagaimana para penggembala itu merokok atau memasak tidaklah dilupakannya.
Sejak 1925
Sejarah esai foto berawal pada tahun 1925 ketika Gardner Cowles dan saudaranya John Cowles melakukan survai tentang minat pembaca surat kabar di AS. Waktu itu Cowles bersaudara melakukan survai berdasarkan penelitian George Gallup yang baru saja lulus dari jurusan Psikologi Universitas Iowa.
Gallup yang juga pengajar di Sekolah Jurnalistik Universitas Iowa, mengatakan bahwa gambar lebih menarik minat pembaca surat kabar daripada tulisan. Dan Cowles bersaudara lalu membuat sebuah sajian yang merupakan gabungan beberapa foto dan tulisan di koran The Sunday Register.
Sajian di The Sunday Register itu dalam waktu singkat mendapat perhatian luas di AS. Redaktur koran lain melihat kepopuleran "narasi fotografi" (Photographic Narration) yang dibuat Cowles bersaudara dengan berbagai perasaan. Ada yang skeptis, namun banyak pula yang kagum pada "gaya baru" dalam berita itu.
Yang pasti, oplah The Sunday Register terbukti melonjak sampai 50 persen semenjak mereka menampilkan esai foto pertama itu. Dan kesuksesan ini membuat Cowles bersaudara berpikir lebih jauh. Kalau cuma sebagai artikel dalam surat kabar saja bisa sukses, bagaimana kalau esai foto itu dibuat sebagai sebuah majalah utuh?
Mulai tahun 1933, Cowles bersaudara mulai memikirkan bentuk dan tata letak majalah yang menitikberatkan penyajiannya dalam bentuk esai foto. Beberapa tenaga lay out yang mengerjakan tata letak The Sunday Register dimintai bantuannya untuk ikut merencanakan majalah "gaya baru" itu. Beberapa tahun berkutat dengan dummy, pada bulan Januari 1937, lahirlah majalah Look.
Namun majalah Look sebenarnya "kebobolan". Mereka yang punya ide, justru majalah lain telah lebih dahulu terbit. Pada bulan November 1936, majalah Life yang juga berorientasi pada berita gambar telah lebih dahulu terbit.
Namun kedua majalah lalu sama-sama menyedot peminat dalam jumlah besar. Bahkan dalam waktu sampai setengah abad kemudian kedua majalah ini mendominasi pasaran dunia. Life lalu mempunyai duplikat dari benua lain, yaitu Paris Match dan Manchette yang terbit di Perancis.
Salah satu edisi Life yang populer adalah saat majalah itu menurunkan laporan bergambar tentang terbunuhnya Martin Luther King pada tahun 1968. Edisi ini bisa dikatakan terjual di seluruh dunia. (Arbain Rambey/Kartono Ryadi, dari berbagai bahan)
Dalam dunia tulis menulis, esai adalah tulisan yang mengangkat suatu masalah tanpa harus memberikan penyelesaian pada suatu persoalan, namun opini penulis sangat menonjol dengan segala kandungan pikirannya, gaya bahasanya bahkan sering dilengkapi "kenakalan" ide.
Dalam jurnalistik foto, esai foto secara umum mempunyai sifat yang sama dengan esai tulisan yaitu mengandung opini dari suatu sudut pandang. Namun dalam prakteknya mempunyai kekhasan karena esai foto di samping terdiri dari tulisan, juga terdiri dari foto.
Pada hakekatnya esai foto merupakan gabungan dari foto berita dan foto features. Foto berita adalah foto yang dibuat tanpa bisa direncanakan sebelumnya, dan yang paling penting terikat aktualitas. Hakekat lain foto berita adalah pentingnya obyek terfoto, serta besar dan tragisnya sebuah kejadian. Sementara, foto features dapat direncanakan, dibuat dan dipublikasikan kapan saja tanpa terikat waktu. Foto features biasanya merupakan nukilan celah-celah kehidupan manusia yang terjadi setiap hari. Gabungan foto berita dan foto features inilah yang membuat sebuah esai foto menjadi "utuh" dan mempunyai "alur" yang sesuai dengan keinginan pembuatnya.
Mengapa esai foto harus memenuhi persyaratan gabungan dari dua jenis foto jurnalistik itu?
Gabungan beberapa foto yang ditampilkan sekaligus tidak selalu merupakan esai foto. Beberapa foto yang diabadikan dari satu sudut tentang kejadian yang berlangsung beberapa detik merupakan photo sequence. Sedangkan foto yang mengabadikan suatu kejadian dalam beberapa saat saja tanpa bumbu lain merupakan foto seri.
Dan karena sebuah esai foto terdiri dari beberapa foto, pemilihan gambar menjadi amat penting. Sang fotografer tidak saja harus mengambil foto, tapi juga harus membuat foto. Not only to take the picture, but to make the picture. Kedekatan fotografer dan obyek yang dipotretnya harus terjalin untuk menghasilkan foto yang baik.
Keterkaitan antar foto
Kualitas sebuah esai foto tidak ditentukan pada jumlah fotonya melainkan pada bagaimana keterkaitan sebuah foto dengan foto yang lain. Yang ikut menentukan pula adalah kroping, tata letak dan ukuran fotonya. Ada foto yang harus dicetak besar, namun ada pula foto yang cuma perlu dicetak kecil tanpa kehilangan "peran"nya.
Sebagai contoh, misalnya akan dibuat esai foto tentang seorang mantan WTS di Jatim yang mengidap virus HIV dan melahirkan bayinya pertengahan Mei lalu. Lepas dari etika, dan apakah foto itu akan dipublikasikan atau tidak, sang fotografer harus menjalin kedekatan dengan sang mantan WTS itu.
Ia harus bertemu secara teratur untuk membuat foto. Bahkan karena konon untuk mengetahui apakah bayi yang dilahirkan itu juga mengidap HIV diperlukan waktu 7 bulan, bisa jadi pula sang fotografer baru bisa menyelesaikan esainya dalam waktu setahun.
Salah satu contoh esai foto yang dibuat dalam waktu cukup lama dan bahkan sampai fotografernya pada proses pembuatannya sempat menjadi korban pemukulan, adalah esai foto tentang tragedi pencemaran lingkungan di Minamata, Jepang.
Pada tahun 1971, Eugene Smith yang berkerja untuk majalah berita bergambar Life, mendengar bahwa pencemaran air raksa di pantai Minamata telah membuat cacat banyak bayi yang lahir di daerah itu. Lalu Smith membuka banyak buku yang membahas tentang efek air raksa pada manusia, dan mempelajarinya.
Dengan bekal pengetahuan yang didapatnya dari buku-buku. Smith lalu merancang "skenario" foto-foto bagaimana yang akan dibuatnya di Minamata agar masalah pencemaran air raksa itu tergambar jelas.
Dari buku pula Eugene Smith tahu bahwa pencemaran air raksa akan membuat anak yang terkena pencemaran itu sejak bayi akan menjadi terbelakang mental berat dengan mimik muka khas. Dengan bekal pengetahuan dari buku ini, Eugene Smith lalu khusus mencari dan akhirnya berhasil mendapatkan foto seorang anak korban pencemaran dari keluarga Uemura yang sedang dimandikan ibunya. Foto ini adalah sebuah foto dari esai fotonya yang menjadi terkenal sekali. Dunia terguncang karena foto itu, dan pabrik penyebab pencemaran, yaitu Chisso, lalu ditutup.
"Saya tidak asal memotret begitu sampai di Minamata. Membuat esai foto adalah membuat beberapa foto dari suatu perencanaan yang ketat." kata Smith dalam wawancara di buku Photojurnalism, The Professionals Approach karangan Kenneth Kobre.
Dari kata-kata Eugene Smith ini jelas bahwa membuat esai foto bukan memotret sebanyak mungkin untuk lalu dipilih setelah dicetak. Sebenarnya bisa dikatakan bahwa esai foto telah jadi saat direncanakan. Pemotretan yang berlangsung adalah final touch saja walau tidak jarang sedikit merubah skenario yang telah disusun akibat pengalaman lapangan yang didapat kemudian.
Masalah bisa sederhana
Jadi, membuat esai foto memang tidak terlalu sederhana. Selain harus dilengkapi bahan riset, minimal dalam benak sang fotografer telah ada konsep bagaimana jadinya esai foto itu nantinya. Namun yang harus ditekankan pula, esai foto tidak harus berangkat dari masalah yang sangat besar.
Hadiah Pulitzer tahun 1980 jatuh pada esai foto karya Skeeter Hagler dari Dallas Times Herald yang "cuma" menceriterakan kehidupan penggembala sapi di AS.
Namun, Hagler mampu menceriterakan kehidupan "cowboy modern" dengan jelas dan menarik. Terlihat bagaimana penggembala sapi di era 80-an bukanlah seperti dalam film-film western yang selalu menenteng pistol. Bahkan beberapa penggembala melengkapi dirinya dengan helikopter segala. Hal-hal mendasar seperti bagaimana para penggembala itu merokok atau memasak tidaklah dilupakannya.
Sejak 1925
Sejarah esai foto berawal pada tahun 1925 ketika Gardner Cowles dan saudaranya John Cowles melakukan survai tentang minat pembaca surat kabar di AS. Waktu itu Cowles bersaudara melakukan survai berdasarkan penelitian George Gallup yang baru saja lulus dari jurusan Psikologi Universitas Iowa.
Gallup yang juga pengajar di Sekolah Jurnalistik Universitas Iowa, mengatakan bahwa gambar lebih menarik minat pembaca surat kabar daripada tulisan. Dan Cowles bersaudara lalu membuat sebuah sajian yang merupakan gabungan beberapa foto dan tulisan di koran The Sunday Register.
Sajian di The Sunday Register itu dalam waktu singkat mendapat perhatian luas di AS. Redaktur koran lain melihat kepopuleran "narasi fotografi" (Photographic Narration) yang dibuat Cowles bersaudara dengan berbagai perasaan. Ada yang skeptis, namun banyak pula yang kagum pada "gaya baru" dalam berita itu.
Yang pasti, oplah The Sunday Register terbukti melonjak sampai 50 persen semenjak mereka menampilkan esai foto pertama itu. Dan kesuksesan ini membuat Cowles bersaudara berpikir lebih jauh. Kalau cuma sebagai artikel dalam surat kabar saja bisa sukses, bagaimana kalau esai foto itu dibuat sebagai sebuah majalah utuh?
Mulai tahun 1933, Cowles bersaudara mulai memikirkan bentuk dan tata letak majalah yang menitikberatkan penyajiannya dalam bentuk esai foto. Beberapa tenaga lay out yang mengerjakan tata letak The Sunday Register dimintai bantuannya untuk ikut merencanakan majalah "gaya baru" itu. Beberapa tahun berkutat dengan dummy, pada bulan Januari 1937, lahirlah majalah Look.
Namun majalah Look sebenarnya "kebobolan". Mereka yang punya ide, justru majalah lain telah lebih dahulu terbit. Pada bulan November 1936, majalah Life yang juga berorientasi pada berita gambar telah lebih dahulu terbit.
Namun kedua majalah lalu sama-sama menyedot peminat dalam jumlah besar. Bahkan dalam waktu sampai setengah abad kemudian kedua majalah ini mendominasi pasaran dunia. Life lalu mempunyai duplikat dari benua lain, yaitu Paris Match dan Manchette yang terbit di Perancis.
Salah satu edisi Life yang populer adalah saat majalah itu menurunkan laporan bergambar tentang terbunuhnya Martin Luther King pada tahun 1968. Edisi ini bisa dikatakan terjual di seluruh dunia. (Arbain Rambey/Kartono Ryadi, dari berbagai bahan)
Langganan:
Postingan (Atom)