KESEDERHANAAN DALAM HITAM PUTIH

Warna secara psikologis punya pengaruh terhadap rasa. Warna-warna tertentu menjadi simbol dari sesuatu. Merah misalnya melambangkan keberanian, hitam melambangkan kemurungan, putih melambangkan kesucian. Warna-warna terang melambangkan keceriaan. Warna hitam putih adalah warna yang menunjukkan kesederhanaan.

Dalam dunia fotografi, warna merupakan salah satu elemen penting dalam membuat suatu karya foto. Menatap karya foto hitam putih, kadang menimbulkan kesan yang lain. Kadang timbul eksotis, mistis, religis dan menunjukkan pernyataan yang lebih bermakna mendalam. Pernyataan Ansel Adam seniman fotografi abad ini "Forget what it looks like. How does is feel?" Menjadi tak berlebihan dalam kontek ini.

Kesederhanaan sebuah kata yang mudah sekali diucapkan tapi sulit untuk dilaksanakan. Dalam kondisi bangsa yang mempunyai utang ribuan trilyun, kesederhanaan menjadi kata kunci yang semestinya dilakukan mulai dari pejabat kelurahan sampai pejabat paling tinggi beserta wakil-wakil rakyatnya. Mereka semestinya bisa menjadi panutan masyarakat.

Apakah mereka bisa menjadi panutan dalam hal kesederhanaan ?....................................................

Justru dalam kehidupan petani, nelayan, buruh, orang yang terpinggirkan kadang kita malah bisa menemukan contoh kesederhanaan.

Bisakah kita berkesederhanaan? .............................

Sabtu, 14 Desember 2013

Pergulatan Menjadi Indonesia



Kompas, MYRNA RATNA

Mereka bekerja dengan diam. Tak butuh perayaan, tak butuh pengakuan. Namun, para juru foto Indonesia ini senantiasa bergerak merekam pergolakan sejarah, bahkan kerap mendahului sejarah itu sendiri. Tanpa kehadiran mereka, gema revolusi Indonesia tak akan mengumandang di dunia.
Mereka adalah dua bersaudara, Alex Impurung (1907-1984) dan Frans Soemarto (1913-1971)- biasa dijuluki duo bersaudara, yang merupakan pewarta foto dari Indonesian Press Photo Service (IPPHOS). Kegigihan dan keheroikan keduanya dalam merekam dan mewartakan momen-momen bersejarah dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia di kurun waktu 1945-1950 menjadi fokus dalam buku fotografi terbaru IPPHOS Remastered, yang diluncurkan pekan lalu di Galeri Jurnalistik Antara.
Tak banyak yang tahu tentang duo Mendur ini. Namun, sepak terjangnya bisa disaksikan dalam deretan foto hitam putih yang bisa membuat dada kita sesak. Bukan saja karena banyak foto yang belum pernah dipublikasikan, tetapi juga karena kita berutang terima kasih.
Beberapa foto di antaranya telah menghiasi buku-buku sejarah yang diwajibkan di sekolah. Tetapi, pernahkah kita bertanya, siapa pembuatnya, dan seperti apa prosesnya? Karya foto adalah refleksi mata batin sang pemotret. Dan, inilah "dunia dalam" Mendur bersaudara. Tanpa kecintaan yang luar biasa pada tanah air, tanpa keyakinan yang kuat pada visi kemerdekaan, dan yang pasti, tanpa pamrih untuk menjadi populer, tak akan hadir foto-foto heroik yang bisa Anda saksikan di Galeri Jurnalistik Antara sampai tanggal 13 Januari 2014.
Tengoklah sebuah gambar yang sangat familier dalam jejak memori kita, ketika Presiden Soekarno dengan setelan jas putihnya membacakan teks proklamasi kemerdekaan Indonesia di kediamannya di Pegangsaan Timur 56, Jakarta, pada 17 Agustus 1945. Bahkan, foto sejarah yang sangat bernilai ini pun baru bisa dipublikasikan oleh harian Merdeka pertama kali pada tanggal 19 Februari 1946 (enam bulan setelah peristiwa terjadi) akibat blokade informasi yang dilakukan pihak penjajah.
Mendur bersaudara harus berjibaku untuk bisa memperoleh kamera, mendapatkan negatif film, dan kemudian memprosesnya di bawah ancaman sensor pihak penjajah. Toh, pada foto-foto itu tak pernah tercantum nama mereka. "Itu hanya buang-buang waktu saja. Lagi pula kami berdiri atas dasar perjuangan." demikian komentar mendiang Alex Mamusung, salah satu pendiri IPPHOS, tentang hal itu.
Kita beralih ke sejumlah foto yang samar dalam ingatan. Di antaranya, kedatangan Soekarno ke Lapangan Ikada, 19 September 1945, untuk menenangkan masyarakat yang marah atas kedatangan pasukan Inggris dan Belanda (negatif repro). Foto buram ini tetap tidak bisa menghapus aura yang terpancar: ekspresi rakyat yang menggelora lewat kepalan tangan, jumlah massa yang menyemut, dan tentu saja sosok Soekarno yang sangat percaya diri.
Rasa haru juga menyeruak menyaksikan front-front rakyat membangun kekuatan dengan kemampuan seadanya. Gurilya Kawanua (KRIS) berpose di studio dengan pakaian terbaik yang mereka punya, satuan Tentara Keamanan Rakyat di Bandung yang menjaga pos-pos pemeriksaan, Laskar Maluku dengan syal di leher berjejal di atas truk, Laskar Barisan Pemberontak Tionghoa dengan senjata bambu runcing berjaga-jaga di jalan. Dukungan juga datang dari sukarelawan India, Filipina, Malaysia yang membentuk International Volunteers Brigade, yang bersama pasukan TNI bertempur di garis depan. Mereka semua memiliki mimpi yang sama Indonesia yang berdaulat.

Sang panglima
Sosok Panglima Besar Soedirman selama ini hanya kita tahu lewat foto buram di buku sejarah, itu pun ketika ia berada di dalam tandu. Namun foto-foto yang ditampilkan di sini adalah sosok yang tegap dan gagah yang memimpin pasukan. Ia muncul di Stasiun Kereta Gambir, 1 November 1946, untuk menghadiri perundingan gencatan senjata dengan Belanda. Lihatlah, masyarakat mengepalkan tangannya menyambut kedatangan sang panglima. Juga, ketika ia menginspeksi pasukan, Mei 1947, dengan latar belakang Candi Borobudur.
Juga, simak foto langka ini, ketika Soekarno memeluk Soedirman yang marah di Istana Presiden Yogyakarta, 10 Juli 1949, Soekarno meminta "adegan" pelukan ini diulang karena Frans Mendur kurang cepat mengabadikannya. Sampai akhirnya kita tiba di halaman foto yang mencuatkan haru, Sultan HB IX memberikan hormat militer pada jenazah Panglima Besar Soedirman yang sudah dikafani, 9 Desember 1950, di Yogyakarta. Kamar yang sederhana, dengan dipan dan sebuah pot kembang, serta seorang petugas yang berdiri dengan sikap sempurna, menggambarkan suasana duka mendalam sekaligus kebersahajaan sang panglima besar.
Duo Alex dan Frans juga merekam dunia "seberang", seperti pasangan-pasangan blasteran Indonesia-Belanda yang dipulangkan ke Indonesia, tentang tawanan Belanda yang akan naik kapal, para pribumi yang menjadi serdadu NICA, tentara Belanda yang bercengkerama dengan anak-anak pribumi yang busung lapar, atau wartawan Belanda yang meliput perundingan . Apakah yang berkecamuk dalam batin mereka? Cemaskah mereka akan masa depannya?
Pesan itu tak akan tersampaikan bila saja juru kamera tak memiliki rasa welas asih, toleran, independen, seperti yang dimiliki duo Mendur. Terlebih, di zaman revolusi segalanya menjadi hitam putih. Kita atau mereka. Teman atau musuh. Namun, Mendur bersaudara berani menerobos batas itu.
Acungan jempol patut diberikan kepada penulis Yudhi Soerjoatmodjo yang melakukan riset mendalam selama bertahun-tahun untuk membuat narasi di balik gambar-gambar yang terpilih di buku ini. Bukan hanya duo Mendur, tetapi juga jejak keberadaan (serta persaingan) IPPHOS, Kantor Berita Antara serta Berita Film Indonesia.
"Awalnya cuma mencari foto untuk pameran 50 tahun kemerdekaan Indonesia, setelah itu kami meneruskan survei negatif IPPHOS. Total yang kami temukan 250.000 negatif. Sayang terjadi krismon, proyek harus berhenti. Tahun 1999, setelah mundur dari Antara, saya meneruskan sendiri penelitian terhadap IPPHOS atas inisiatif dan biaya sendiri. Sempat terputus beberapa tahun, kemudian fokus lagi. Itulah nasib peneliti swasta di RI tercinta," kata Yudhi.
Pameran dan buku foto ini sangat pas hadir di tengah Indonesia yang sedang galau, yang seperti lupa pada akar perjuangannya. Dulu kita bangga akan retorika heroik "Merdeka atau Mati". Kini, jangan-jangan retorika yang pas adalah "Korupsi sampai Mati". (MYRNA RATNA)

Senin, 25 November 2013

Mati & Kematian

- " Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan kematian dan bahwa pahalamu akan dicukupkan nanti di hari akhirat " (QS. 3 : 185)
-  " Bagaimana kamu mengingkari (Allah) sedang kamu tadinya mati, kemudian dihidupkan (oleh-Nya), kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kamu dikembalikan kepada-Nya." (QS. 2 : 28)
- " Janganlah kamu menduga bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, tetapi mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki " (QS 3 : 169)
- Janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang meninggal di jalan Allah bahwa 'mereka itu telah mati,' sebenarnya mereka hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya" (QS. 2 : 154)
- "Mahasuci  Allah yang di dalam genggaman kekuasaan-Nya seluruh kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu siapakah di antara kamu yang paling baik amalnya, dan sesungguhnya Dia Mahamulia lagi Maha Pengampun" (QS. 67 : 1-2)

Jumat, 06 September 2013

Utang yang Memiskinkan



KOMPAS, oleh APUNG WIDADI
Utang Pemerintah Indonesia pertengahan tahun 2013 menumpuk hingga Rp. 2.023 triliun. Ini berarti rata-rata satu warga negara Indonesia menanggung utang Rp. 8,5 juta. Dampaknya, rakyat semakin miskin.

Total sejak 2004 hingga saat ini peningkatan utang semasa pemerintahan SBY Rp. 724,22 triliun. Akhir 2004 utang pemerintah masih Rp. 1.299,50 triliun. Kenaikan yang sangat signifikan. Ini berdampak pada APBN yang kian tergerus karena harus bayar cicilan pokok dan bunga utang.

Pada 2013, misalnya, pemerintah berencana membayar cicilan pokok dan bunga Rp. 299,708 triliun, 17,3 persen dari total belanja negara pada APBN Perubahan 2013 (Rp. 1.726,2 triliun). Pada 2013 total anggaran kemiskinan Rp. 115,5 triliun, hanya 6,7 persen dari total belanja negara. Politik anggaran pemerintah kontras memilih menyubsidi orang kaya pemilik surat berharga negara daripada menyubsidi BBM untuk rakyat miskin.

Utang luar negeri secara bilateral banyak berasal dari Jepang rata-rata Rp. 259,64 triliun per tahun, 38,3 persen dari total utang per tahun. Utang dari hubungan multilateral yang berasal dari Bank Dunia, menurut data Dirjen Pengelolaan Utang, per Mei 2013 sekitar Rp. 122 triliun, 21 persen dari total utang. Bank Pembangunan Asia per Mei 2013 menyumbang Rp. 95,77 triliun, 16 persen dari total utang luar negeri. Data itu belum termasuk Surat Berharga Negara (SBN) dan valas.

Jika demikian halnya, mimpi rezim pemerintahan yang anti-utang luar negeri pupus sudah. Setelah Soeharto, sepertinya warisan utang menggunung menjadi tradisi peninggalan dosa rezim untuk anak cucunya.

Dengan beban utang yang kian besar setiap tahun, dan tak diimbangi dengan peningkatan pendapatan, APBN dikhawatirkan jebol dan negara bisa bangkrut. Total pembayaran cicilan pokok dan bunga utang dalam negeri dan luar negeri saja (2005-2012) Rp. 1.584,88 triliun.

Selain menyedot uang negara dalam jumlah besar, dana asing berbentuk utang dan hibah luar negeri juga membuat intervensi mendalam terhadap kebijakan ekonomi. Sejumlah kebijakan dan puluhan UU yang merugikan kepentingan nasional adalah produk tak langsung dana asing itu, antara lain UU No.22/2001 Migas yang belum direvisi, UU No.7/2004 Sumber Daya Air, UU No.30/2007 Energi, UU No.25/2007 Penanaman Modal, UU No.9/2009 Badan Hukum Pendidikan, UU No.19/2003 BUMN, dan UU No.27/2007 Pengelolaan Pesisir dan Pulau Kecil.

Beberapa UU itu secara jelas menjadikan kepentingan nasional subordinat dari kepentingan modal asing di Indonesia. Bahkan, melalui UU Penanaman Modal, pihak asing dapat menguasai sektor strategis di Indonesia hingga 95 persen. Perusahaan asing juga mendapat fasilitas dan hak yang sama dengan perusahaan dalam negeri.

Setidaknya empat argumentasi yang selalu digembar-gemborkan setiap tahun. 
Pertama, utang pemerintah diperlukan untuk membiayai defisit APBN. Kedua, meskipun nominal meningkat, rasio terhadap PDB dalam posisi aman. Ketiga, utang pemerintah diarahkan untuk mendapatkan pembiayaan publik dengan biaya dan risiko rendah dan jangka panjang. Keempat, pengelolaan fiskal dan utang semakin baik.

Menyesatkan 
Argumentasi pemerintah itu, jika tak diperbaiki, menyesatkan. Ada indikasi, defisit APBN semakin menggelembung tiap tahun. Neraca yang defisit hanya ditindaklanjuti dengan solusi instan utang, bukan menaikkan pendapatan negara dari usaha asing dan sumber daya alam kita.

Terkait rasio dengan PDB, melihat dengan kaca mata itu tampak manis rasio pinjaman, SBN, dan PDB setiap tahun menurun. Hingga 2013 hanya berkisar 16,6 persen hingga 23,1 persen. Bahkan, pada 2012 Indonesia dalam rasio utang dengan PDB lebih baik dari negara yang mengalami krisis, seperti Italia (127 persen), Jerman (82 persen). Jepang (237 persen), atau AS (106,5 persen). Rasio PDB adalah total produksi dalam negeri beserta asing. Bagaimana dengan rasio produk nasional bruto? Tentu hasilnya akan beda terkait produksi dalam negeri tanpa asing.

Alih-alih dengan argumen risiko rendah dan jangka panjang, hantu jatuh tempo utang justru makin mengancam. Obligasi rekap BLBI jatuh tempo pada 2033 dengan nilai Rp. 127 triliun. Ini mengerikan. Perampokan oleh pengusaha hitam, tetapi beban utangnya dibiayai negara.

Jika terus dibiarkan, utang pemerintah akan jadi bom waktu ekonomi Indonesia dan mempernganga jurang antara pemodal dan rakyat miskin. Langkah lebih radikal barangkali perlu dipikirkan oleh pemerintahaan SBY, moratorium utang, khususnya dalam negeri, ini cukup realistis karena mayoritas utang dalam negeri sekitar 64 persen dari total utang. Utang dalam negeri itu dinikmati bank pemerintah atau swasta. Pemerintah mudah mengambil sikap tegas.

DPR sebagai pengawas pemerintah yang tak pernah dilibatkan dalam membahas utang harus mengambil langkah politik yang tegas untuk menghentikan utang dan mendesak pemerintah agar tak meneruskan obligasi rekap yang hanya menguntungkan pengusaha nakal era Orde Baru yang saat ini terus menyusu kepada negara.
APUNG WIDADI
Peneliti Politik Anggaran
di Indonesia Budget Center

Jumat, 12 Oktober 2012

Penyakit Sosial Bernama Haji Ulang


KOMPAS
ALI MUSTAFA YAQUB
Imam Besar Masjid Istiqlal


Seorang kawan bercerita kepada kami bahwa masyarakat di daerahnya punya anggapan unik. Apabila ada seorang lelaki yang sudah berhaji dua kali, ia akan mudah mendapatkan istri yang kedua.
Anggapan ini berasal dari persepsi masyarakat setempat bahwa orang yang sudah berhaji ulang itu adalah orang yang baik ibadahnya dan baik pula kantongnya. Maka, dari persepsi itu, status sosial seorang yang sudah berhaji ulang jadi semakin tinggi. Oleh karena itu, di lingkungan mayarakat ia jadi rebutan para wanita yang siap jadi istri kedua.
Apabila persepsi seperti itu benar menurut ajaran agama, Nabi Muhammad SAW bukanlah orang yang baik. Karena selama hidupnya, beliau hanya berhaji satu kali. Padahal, beliau punya kesempatan tiga kali untuk berhaji. Beliau juga punya kesempatan berumrah sunah ratusan, bahkan ribuan kali, tetapi beliau hanya berumrah sunah dua kali. Bandingkan dengan kita, masyarakat Muslim di Indonesia, yang rata-rata ingin berhaji setiap tahun dan berumrah setiap bulan.
Mengapa Nabi Muhammad SAW berhaji hanya sekali dan berumrah sunah hanya dua kali? Apabila beliau tak punya uang bukankah beliau tinggal berkata saja kepada sejumlah sahabat yang kaya raya, seperti Abdurahman bin Auf dan Abu Ayyah al-Anshari. Tentu kedua sahabat akan segera menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan Nabi. Namun, Nabi tak pernah meminta-minta untuk kepentingan pribadi beliau seperti itu.
Setelah Nabi menetap di Madinah, sekurang-kurangnya terjadi tiga hal penting. Pertama, Nabi menghadapi orang-orang yang memusuhi dan memerangi beliau, maka Nabi menginfakkan hartanya untuk kepentingan jihad fisabilillah melawan orang-orang itu. Kedua, akibat perang atau jihad fisabilillah gugurlah para syuhada yang kemudian menimbulkan janda-janda dan anak-anak yatim. Maka, harta Nabi diinfakkan untuk menyantuni para janda, orang-orang miskin, dan anak-anak yatim.
Ketiga, banyaknya pelajar yang menuntut ilmu dari Nabi Muhammad SAW sementara mereka tidak punya apa-apa di Madinah, baik harta maupun keluarga. Mereka tinggal di satu ruangan di Masjid Nabawi yang disebut al-Shuffah. Sementara untuk keperluan makan, Nabi menganjurkan kepada para sahabat untuk menjamin pemberian makan kepada mereka. Nabi sendiri setiap hari memberikan makan kepada 70 pelajar Shuffah.
Keutamaan ibadah sosial
Seandainya berhaji ulang itu lebih utama daripada menyantuni janda-janda, orang miskin, anak-anak yatim, dan para pelajar yang tidak mampu, maka Nabi tentu sudah melakukan haji ulang dan atau umrah berkali-kali. Namun, Nabi tak melakukannya. Nabi justru menegaskan bahwa penyantun anak yatim akan tinggal di surga bersama Nabi dan tidak terpisahkan, ibarat jari tengah dan telunjuk.
Nabi juga menegaskan, orang yang menyantuni para janda dan orang-orang miskin tak ubahnya seperti orang berjihad fisabilillah. Sementara ibadah haji, apabila memenuhi syarat-syarat sehingga dapat disebut mabrur, Nabi hanya menjanjikan surga saja kepada pelakunya, tanpa menyebutkan bersama beliau.
Dari sini dapat dipahami bahwa menyantuni anak-anak yatim, janda-janda, orang-orang miskin, dan para pelajar yang tak mampu jauh lebih unggul nilai pahalanya daripada berhaji ulang. Dengan kata lain, ibadah sosial jauh lebih utama daripada ibadah individual. Begitulah kaidah hukum Islam menyebutkan. Bagaimanapun, Nabi tak pernah mencontohkan untuk berhaji ulang atau berulang-ulang berumrah.
Ketika keadaan masyarakat kita sedang sangat terpuruk, potret kemiskinan dimana-man. Para pakar ekonomi mengatakan, sampai akhir 2011, di Indonesia masih terdapat 117 juta orang miskin. Tempat ibadah banyak yang terbengkalai. Apabila keadaan negeri kita masih seperti ini, pantaskah lalu kita berkali-kali berhaji dan berumrah? Ayat Al Quran mana yang menyuruh kita melakukan itu? Hadis manakah yang menganjurkan kita untuk berbuat seperti itu?
Inilah penyakit sosial yang menimpa masyarakat kita dan perlu segera diobati. Obatnya adalah mengikuti perilaku Nabi dalam beribadah, yaitu berhaji cukup sekali dan berinfak ribuan kali. Pertanyaan berikutnya, maukah kita mengobati diri kita dari penyakit sosial yang menimpa kita itu? Atau kita justru ingin memperparah penyakit yang sedang kita derita itu?

Senin, 24 September 2012

Mitos Wartawan

Ada beberapa mitos mengenai sosok wartawan menurut Elvinaro Ardianto dalam buku handbook of public relations.
1. Wartawan bisa diundang kapan saja. Hal ini merupakan mitos sehingga sering kali suatu undangan konferensi pers suatu perusahaan atau lembaga tidak banyak dihadiri wartawan. Ketidakhadiran tentunya disebabkan wartawan tersebut menganggap undangan itu kurang memiliki nilai berita, lokasi undangan terlalu jauh, lokasinya sukar dijangkau kendaraan umum, sudah terlalu malam karena wartawan sudah lelah, dikejar deadline penyerahan naskah berita yang lain, dan banyak lagi faktor yang membuat wartawan tidak bisa diundang kapan saja. Lain halnya kalau ada berita yang bersifat hard news, seperti kebakaran super mall, tabrakan kereta api, pesawat jatuh, perampokan, bencana alam. Mereka akan mengejar peristiwa tersebut kendati sudah tertidur lelap di rumahnya, dan bukan pada jam kerja. Mereka harus berangkat untuk mengajar sumber berita hard news tadi.
2. Wartawan selalu memberitakan hal-hal negatif. Hanya mitos karena wartawan tidak sembarangan dalam membuat berita karena sebuah berita harus dilengkapi dengan fakta yang akurat. Selain itu, seorang redaktur sebagai kepanjangtanganan pemimpin redaksi akan melihat pantas tidaknya sebuah berita diturunkan.
3. Wartawan selalu komersial. Dengan semakin baiknya tingkat kesehatan manajemen perusahaan surat kabar, dan bermunculannya wartawan muda yang berpendidikan tinggi, praktik-praktik meminta imbalan (amplop) dari sumber berita sudah bukan zamannya lagi.
4. Wartawan selalu urakan. Wartawan masa kini yang berpendidikan tinggi dan sudah dibekali etika ketika meliput, sehingga ketika meliput pun menggunakan pakaian yang rapi dan pantas. Bahkan, pernah terjadi kepada seorang wartawan Harian Bisnis Indonesia, yang kini menjadi dosen, disangka seorang dokter oleh protokoler suatu simposium ilmu kedokteran. Begitu pun ketika meliput sebuah konferensi pers di Jakarta. Karena ia duduk berdekatan dengan pengusaha, disangka bankir oleh wartawan yang tidak mengenalnya.
5. Wartawan manusia pintar. Mitos ini yang melekat dalam masyarakat bahwa wartawan merupakan manusia yang memiliki intelegensia tinggi harus diwaspadai karena lewat wawancaranya yang tajam bisa menjerumuskan sumber berita yang salah omong. Pada kenyataannya tidak betul sebab masih banyak wartawan yang bertanya saat konferensi pers dengan pertanyaan yang amat sederhana, bahkan tidak mengerti apa yang dipresentasikan dalam acara itu.
6. Wartawan yang membutuhkan berita. Misalnya, ketika akan meliput seminar harus membayar, kemungkinan kecil mereka mau, kalau tidak meninggalkan acara itu, wartawan akan menunggu di luar, ketika seorang menteri yang menjadi pembicara dalam seminar itu keluar, maka dikejarnya menteri itu, besoknya turun berita, tanpa menyebut penyelenggara seminar. Buat panitia suatu kerugian luput dari publisitas panitia seminar itu di media massa.
7. Wartawan adalah manusia kebal hukum. Pada kenyataannya, wartawan tidak kebal hukum. Jika melanggar lalu lintas, ia tetap ditilang polisi, atau jika ada oknum wartawan yang memeras uang kepada sumber berita tetap akan diciduk pihak berwajib.
8. Wartawan sosok yang menakutkan. Akibat mitos ini, tidak sedikit oknum wartawan yang bergentayangan mencari sumber berita yang ujung-ujungnya meminta uang.
9.Wartawan bisa menulis apa saja. Dengan mengacu pada kaidah jurnalistik, wartawan sesungguhnya tidak bisa menulis berita sekendak hati. Meskipun ia penulisnya, belum tentu redakturnya memuat berita tersebut karena sebuah berita yang layak dimuat harus benar-benar faktual.
10. Wartawan manusia sakti. Artinya, wartawan mampu mengurus apa saja dan dapat menembus rumitnya birokrasi. Karena itu, muncul mitos jika ingin mengurus sesuatu, sebaiknya menitipkan pada kenalan seorang wartawan. Padahal, dalam mengurus sesuatu misalnya perpanjangan SIM dan STNK, wartawan tetap harus mengikuti prosedur resmi (Abdullah, 2000)

Selasa, 19 Juni 2012

Gizi Buruk dan Susu Kedelai

Gizi buruk para balita masih menghantui di republik yang kaya raya alamnya seperti Indonesia ini. Berita balita yang masuk rumah sakit karena gizi buruk sering kita dengar, baca dan lihat di media massa. Gizi buruk disebabkan oleh asupan gizi yang kurang baik, keadaan ini akan diperparah bila disertai penyakit pada balita.
Gizi buruk merupakan suatu kondisi dengan nutrisi dibawah standar rata-rata. Nutrisi berupa protein, karbohidrat serta lemak. Kekurangan gizi terutama protein menjadi masalah utama yang banyak ditemui di Indonesia.
Kurang gizi yang berkepanjangan akan mengakibatkan tubuh pendek, perkembangan otak terganggu serta badan balita menjadi kurus. Dari ketiga hal ini dapat menentukan status gizi balita. Parameter yang bisa diukur dari status gizi balita adalah, tinggi badan, lingkar kepala dan berat badan. Parameter berat badan menurut umur yang sering digunakan di Indonesia.
Makanan yang mengandung gizi yang paling baik untuk bayi adalah ASI. ASI ( Air Susu Ibu) mempunyai keunggulan tidak hanya dari segi gizi tapi juga untuk daya kekebalan tubuh, psikologi serta ekonomi. Dari sisi ekonomi ASI dapat mengurangi devisa untuk membeli susu formula. Jika semua ibu di Indonesia menyusui, diperkirakan akan menghemat devisa sebesar kurang lebih Rp 8,5 milyar untuk membeli susu formula.
Susu formula di pasar sangatlah banyak, dan harganya pun berfariasi mulai dari puluhan ribu sampai ratusan ribu. Untuk masyarakat Indonesia yang hidupnya dibawah garis kemiskinan sangatlah berat kalau harus membeli susu formula. Inilah yang masih menghantui gizi buruk di Indonesia. Oleh karena itu perlu adanya inovasi untuk memenuhi kebutuhan gizi balita.
Masyarakat Indonesia sebagian besar di pedesaan dan sebagian besar dari mereka hidupnya dari pertanian. Seandainya produksi kedelai nasional mencukupi maka akan dapat digunakan untuk membuat susu inovasi dari bahan kedelai guna mengatasi gizi buruk. Atau paling tidak disetiap desa ada yang memproduksi susu kedelai dari hasil pertanian setempat untuk mengurangi gizi buruk. Susu kedelai yang halal bisa diproduksi di setiap desa. Apakah kita bisa mengganti susu formula yang harganya tidak terjangkau oleh masyarakat dibawah garis kemiskinan dengan susu inovasi dari kedelai hasil pertanian setempat? Sementara beras saja kita masih impor.
"Susu Inovasi Yang Sehat dan Halal Untuk Pertumbuhan Anak"