KESEDERHANAAN DALAM HITAM PUTIH

Warna secara psikologis punya pengaruh terhadap rasa. Warna-warna tertentu menjadi simbol dari sesuatu. Merah misalnya melambangkan keberanian, hitam melambangkan kemurungan, putih melambangkan kesucian. Warna-warna terang melambangkan keceriaan. Warna hitam putih adalah warna yang menunjukkan kesederhanaan.

Dalam dunia fotografi, warna merupakan salah satu elemen penting dalam membuat suatu karya foto. Menatap karya foto hitam putih, kadang menimbulkan kesan yang lain. Kadang timbul eksotis, mistis, religis dan menunjukkan pernyataan yang lebih bermakna mendalam. Pernyataan Ansel Adam seniman fotografi abad ini "Forget what it looks like. How does is feel?" Menjadi tak berlebihan dalam kontek ini.

Kesederhanaan sebuah kata yang mudah sekali diucapkan tapi sulit untuk dilaksanakan. Dalam kondisi bangsa yang mempunyai utang ribuan trilyun, kesederhanaan menjadi kata kunci yang semestinya dilakukan mulai dari pejabat kelurahan sampai pejabat paling tinggi beserta wakil-wakil rakyatnya. Mereka semestinya bisa menjadi panutan masyarakat.

Apakah mereka bisa menjadi panutan dalam hal kesederhanaan ?....................................................

Justru dalam kehidupan petani, nelayan, buruh, orang yang terpinggirkan kadang kita malah bisa menemukan contoh kesederhanaan.

Bisakah kita berkesederhanaan? .............................

Minggu, 30 Januari 2011

Dasar-Dasar Fotografi

SUARA PEMBAHARUAN, YUDANTO PRAYITNO


Mungkin sering timbul pertanyaan bagi seorang pemula dibidang fotografi, pengetahuan apa yang harus dimiliki sebagai dasar untuk menekuni bidang fotografi? Atau pengatahuan dasar fotografi yang mana yang harus dikuasai seorang pemula dibidang fotografi untuk melangkah ke arah serius atau profesional?
Bagi seorang pemula mungkin sudah merasa puas jika bisa membuat gambar di bidang film dengan kamera baik kamera kompak atau SLR (single lens reflex), tanpa mempelajari fasilitas-fasilitas yang terdapat pada kamera. Tanpa tahu sifat-sifat lensa, tanpa tahu sifat-sifat film, teori pencahayaan, depth of field, komposisi, proses negatif-positif. Kecuali itu, tak menguasai hal-hal yang kelihatannya sepele seperti bagaimana mengisi film ke dalam kamera, memegang kamera yang benar, mengatur penyinaran yang masuk mengenai film, mengatur fokus (tajam pemotretan) dan memutar balik film (rewind).
Memegang kamera tampaknya sepele, tapi sebenarnya kalau tidak memegang benar, banyak sekali kerugian yang bisa terjadi. Kerugian-kerugian itu antara lain tidak lincah dalam memfokuskan sasaran atau bergoyangnya kamera saat menjepretkan rana. Bagi fotografer media massa, ketidak lincahan dalam memotret akan merupakan kerugian besar sebab banyak kejadian yang hanya berlangsung seper sekian detik.
Prinsipnya (caranya), kamera memang dirancang untuk dijepretkan dengan telunjuk tangan kanan, bukan dengan jari lain atau bahkan dengan tangan kiri. Jari tengah mengganjal bagian bawah badan kamera. Dengan demikian telunjuk tangan kiri dan ibu jari (jempol) tangan kiri itu bebas untuk memutar cincin pengatur tajam yang berada di ujung tabung lensa. Kamera dirapatkan ke kening dan tulang pipi, sedemikian rupa sehingga objek betul-betul lurus melalui jendela pengamat.
Kalau pemotret posisinya berdiri, usahakan kedua kaki direnggangkan sedikit supaya bisa berdiri dengan kokoh.

Mengisi Film
Mengisi film ke dalam kamera yang sudah dilengkapi alat otomatis sangatlah mudah tinggal membuka bagian belakang kamera, memasukkan film kemudian ditutup, maka secara otomatis film akan menggulung tanpa harus menyangkutkan film pada gigi-gigi sebuah roda yang terdapat pada sebelah kanan badan kamera.
Untuk kamera yang tidak dilengkapi alat otomatis maka ada cara yang bisa dilakukan yaitu cari tempat yang teduh atau membelakangi matahari, film pada kedua sisinya terdapat lubang-lubang kecil persegi empat untuk disangkutkan pada gigi-gigi sebelah roda yang terdapat dalam badan kamera.
Ujung film kira-kira sepanjang lima centimeter menjulur ke luar tabung. Untuk memasukkan film ke dalam kamera, buka tutup belakang kamera, sesudah itu memasukkan film ke dalam tempatnya di kiri dalam badan kamera. Permukaan film yang berkilat harus menghadap ke pemotret. Tarik film yang menjulur itu kalau belum cukup panjang supaya mudah memasukkan ujungnya ke dalam celah kumparan penerima di kanan badan kamera. Lubang-lubang pada kedua sisi film harus masuk ke gigi-gigi sebuah roda yang terdapat dekat kumparan penerima. Sesudah itu, putar gagang kumparan penerima yang berada di luar badan kamera perlahan-lahan untuk memajukan film sampai tersangkut pada celah kumparan penerima itu dan lubang-lubang pada kedua sisi film tepat dudukannya pada gigi-gigi roda. Sesudah itu tutup kembali belakang badan kamera.
Film yang tidak tersangkut pada kumparan penerima, maka film tidak akan maju setelah gagang kumparan penerima diputar dan setelah penyinaran dilakukan (ditekan tombol pelepas rana). Untuk mengetahui film telah tersangkut, pada waktu memutar kumparan penerima perhatikan arah yang ditunjukkan gambar anak panah yang terdapat pada tombol di atas tabung film di luar badan kamera. Gambar anak panah itu harus berputar melawan arah yang ditunjukkannya sebagai bukti, bahwa film betul-betul maju untuk pemotretan selanjutnya.

Fokus
Mengatur tajam pemotretan (fokus) artinya mengatur jarak antara lensa ke film. Kalau jarak itu tepat, pengaturan tajam sudah betul. Dilakukan dengan memutar cincin yang terdapat pada ujung tabung lensa ke kiri atau ke kanan sambil memperhatikan ketajaman proyeksi objek yang dipotret pada bidang kaca jendela pengamat. Disitu terdapat sebuah lingkaran kecil dan sebuah garis melintang ditengah (pada range finder jenis split image). 
Jika pengaturan tajam tidak betul, bayangan objek yang dipotret pada bagian atas dan bawah garis melintang itu tidak setentang (kalau yang dipotret garis lurus maka pada bagian atas dan bawah garis melintang ada patahan dan tidak lurus).
Untuk memudahkan pengaturan tajam pemotretan, pilihlah satu garis tegak pada objek yang dipotret. Proyeksi garis tegak pada objek itulah yang harus sejajar dengan bidang kaca jendela pengamat.
Bidang kaca jendela pengamat terdapat pula sebuah lingkaran kecil tetapi berisi susunan mikroprisma (pada range finder jenis microprism). Susunan mikroprisma yang kecil-kecil itu, memperlihatkan bayang-bayang objek yang dipotret dengan jelas kalau pengaturan tajam sudah benar. Sebaliknya, bayangan objek itu tampak kabur kalau pengaturan tajam tidak betul.

Penyinaran
Saat memotret, kita harus mengatur berapa banyak cahaya (sinar) yang masuk mengenai film supaya tidak kelebihan (over exposure) ataupun kekurangan (under exposure). Penyinaran di sini berarti mengatur takaran cahaya yang harus sampai ke film untuk suatu pemotretan. Hal ini bergantung pada kepekaan film yang digunakan dan kekuatan cahaya yang menerangi objek yang dipotret.
Penyinaran diatur melalui kecepatan rana dan lubang diafragma, yang bersama-sama meloloskan takaran cahaya yang diperlukan untuk emulsi film sebagai penampungnya. Berapa banyaknya cahaya yang harus lolos dapat ditentukan dengan mengatur sendiri (manual) artinya kita sendiri yang mengatur kombinasi antara kecepatan rana dan diafragma. Tetapi kebanyakan kamera SLR (single lens reflex) mempunyai alat pengukur cahaya dalam badannya (built-in lightmeter) yang berhubungan secara elektronis dengan kecepatan rana dan diafragma. Kamera jenis ini dapat mengatur penyinaran secara otomatis yang disebut auto exposure. 

Memutarbalik Film
Kamera yang mempunyai fasilitas otomatis tidak susah-susah memutarbalik film karena bila film sudah habis terpakai secara otomatis akan memutarbalik (rewind) sendiri. Ada tanda film habis pada kamera. Pertama, kita dapat melihat angka 36 pada tempat menghitung jumlah pemotretan bila yang menggunakan film yang berjumlah 36 pemotretan. Kedua, gagang kumparan penerima tidak bisa lagi diputar sepenuhnya dan agak sendat. Itu artinya, film harus digulung kembali ke dalam tabung asalnya. Caranya memutar tombol di atas tabung asal film dengan hati-hati, menurutkan arah yang ditunjukkan gambar anak panah. Kalau kita ingin supaya seluruhnya  film tergulung kembali ke dalam tabung asalnya, teruskan memutar sampai akhir putaran terasa agak berat karena harus melepaskan ujung film yang tersangkut pada celah kumparan penerima.
Setelah film lepas, putaran terasa ringan. Beberapa putaran lagi akan memindahkan seluruh film ke dalam tabung asalnya. Kalau film sudah berada kembali dalam tabung asalnya baru tutup belakang kamera dibuka untuk mengeluarkannya.
Memegang kamera, mengisi film, mengatur fokus, mengatur penyinaran, serta memutarbalik film, merupakan sebagian dari pengetahuan dasar fotografi yang harus dikuasai seorang pemula di bidang fotografi.
Ada banyak faktor yang harus dikuasai seorang pemula selain hal tersebut diatas misalnya menguasai kamera (fasilitas-fasilitas yang terdapat pada kamera), mempelajari sifat-sifat lensa, mengasai sifat-sifat film, teori pencahayaan, depth of field, komposisi serta proses negatif-positif. (Yudanto Prayitno)

Kamis, 27 Januari 2011

Alat Tambahan Fotografi

SUARA PEMBARUAN, YUDANTO PRAYITNO

Kalau bicara fotografi pikiran kita pasti tak lepas dari alat yang bernama kamera. Kamera merupakan alat penting untuk memotret yang merupakan perangkat keras atau alat mekanik (hardware) yang dirancang mulai dari yang berfasilitas sederhana sampai kamera dengan fasilitas yang beraneka ragam.
Kamera sekarang yang serba otomatis memudahkan pemakai (pemotret). Pemakai tidak perlu repot-repot dengan persoalan teknis. Macam dan bentuk kamera bermacam-macam, tiap tahun ada perubahan dalam era digital ini mungkin malah tiap bulan. Namun prinsip kerja kamera boleh dikatakan tetap sama.
Prinsip kerjanya ada ruang gelap (kedap cahaya) di mana di dalamnya film diletakkan. Di seberang film ada celah satu-satunya sebagai jalan masuk bagi cahaya atau sinar, dan celah itu dilengkapi lensa, melalui lensa inilah gambar benda diproyeksikan ke bidang film.
Macam kamera ada banyak, yaitu range finder, single lens reflex, view camera, dan ada pula kamera yang dirancang khusus dengan penggunaan khusus pula. Dari beberapa macam kamera tersebut yang paling banyak dipakai adalah kamera SLR (Single Lens Reflex), baik oleh amatir maupun profesional.
Bila kita membeli kamera biasanya diikuti dengan lensa standar (normal) yang pada umumnya dengan panjang fokus 50 mm. Kalau ingin mempunyai lensa yang lain harus disesuaikan dengan keperluan kita serta kemampuan keuangan kita, karena harga lensa relatif cukup mahal.
Ada bermacam-macam lensa yang bisa kita pilih sebagai tambahan lensa normal, misalnya lensa sudut lebar (wide angle lens), lensa mata ikan (fish eye lens), lensa tele (telephoto lens), lensa zoom (zoom lens), yang kesemuanya mempunyai sifat dan kegunaan berlainan.
Alat tambahan yang berhubungan dengan lensa yang perlu adalah tutup lensa. Selain itu ada tudung lensa (lens hood), yang berguna untuk melindungi lensa dari benturan maupun goresan dan untuk menahan cahaya samping yang masuk ke lensa. Sisi dalam tudung lensa dibuat bergaris-garis dan menghadap keluar supaya cahaya yang terpantul tidak masuk ke lensa melainkan dipantulkan keluar.

Filter
Peralatan yang masih berhubungan dengan lensa dan dipasang di depan lensa adalah penyaring (filter) yang berguna untuk menyaring cahaya dengan menyerap atau menghambat sebagian dari warna cahaya. Penyaring ada yang terbuat dari gelas dan ada yang dari bahan lain.
Penyaring tidak bisa menambah penerangan tapi biasanya selalu mengurangi cahaya yang lewat. Dengan demikian pemotret harus menambah cahaya yang masuk setelah melewati penyaring dengan cara mengurangi kecepatan rana atau membuka diafragma lebih besar dari semestinya, tergantung dari faktor penyaringnya. Faktor penyaring adalah angka yang menambahkan berapa banyak penyinaran harus ditambah.
Ada beberapa macam penyaring. Penyaring normal, lebih berfungsi sebagai penutup lensa agar disaat dibersihkan cukup dengan membersihkan filter tadi dan tidak perlu lensanya. Penyaring ini tidak mengubah cahaya maupun warna dari obyek sehingga dapat dipasang terus.
Penyaring polarisasi, berguna untuk menyerap cahaya yang memantul dan membiarkan cahaya yang tidak memantul masuk ke lensa. Penyaring ini bisa digunakan misalnya untuk memotret ikan dalam aquarium, orang dalam mobil atau memotret pakaian di etalase.
Penyaring ultra violet, berfungsi menyerap atau menghambat sinar ultra violet. Penyaring ini tidak menghambat sinar spektrum, maka dapat dipasang terus di depan lensa, serta dapat digunakan misalnya pada cuaca cerah di pegunungan yang mengandung ultra violet lebih banyak.
Penyaring ND (neutral density), berfungsi mengurangi kekuatan cahaya yang akan ke lensa dan terus ke film.
Penyaring efek, penyaring ini menghasilkan efek khusus seperti misalnya pola bintang-bintang, memperbanyak gambar obyek dua sampai lima kali bersusun.
Penyaring koreksi, berfungsi mengoreksi suhu warna cahaya siang hari yang tak pernah tetap. Misalnya ada penyaring cahaya langit (skylight filter) yang menghambat warna biru langit yang berlebihan. Ada penyaring kabut (haze filter) yang biasanya dipakai di pegunungan.
Penyaring konversi, penyaring ini mengubah suhu warna cahaya yang menerangi suatu obyek pemotretan dari warna cahaya lampu atau sebaliknya.

Lain-lain
Bila kita memotret dalam keadaan pencahayaan yang tidak memungkinkan untuk mendapatkan hasil yang optimal perlu pencahayaan tambahan. Alat tambahan ini bisa berupa lampu kilat elektronik (elektronic flash). Lampu kilat biasanya berbentuk kecil mudah dibawa-bawa, sumber dayanya dari baterai serta mempunyai kekuatan yang relatif kecil.
Kaki tiga atau sering disebut tripods bisa dipakai jika kita bermaksud untuk membuat gambar yang menggunakan penyinaran yang lama atau bila kita menggunakan lensa telefoto besar. Lensa telefoto ini menghilangkan keseimbangan kamera, karenanya perlu diletakkan pada tempat yang kokoh.
Seperti namanya tripods, alat ini berkaki tiga yang menopang suatu lempengan logam untuk menempatkan kamera, dilengkapi juga dengan as tengah yang bisa naik turun, kemudian tongkat penentu frame yang bisa menaik turunkan serta memutar ke kiri atau ke kanan arah pandangan kamera. Selain kaki tiga ada alat penyangga lain misalnya monopod ataupun camera clamps.
Kabel pelepas rana (cable release) merupakan kabel yang salah satunya dapat disambungkan pada tombol pelepas rana dan ujung yang lainnya berfungsi sama dengan tombol pelepas rana. Dengan alat ini maka getaran atau goyangan yang tidak dikehendaki dapat diatasi.
Tas kamera merupakan peralatan yang berguna bila kita bepergian dengan membawa kamera. Jangan biarkan kamera tidak terlindungi sehingga debu ataupun goncangan serta benturan dapat mengganggu bahkan merusak peralatan fotografi yang kita miliki. Tas kamera sekarang dilengkapi dengan karet busa untuk menahan guncangan.
Peralatn lain yang tak kalah penting adalah pembersih lensa dan kamera. Pembersih ini bisa berupa tissue, blow brushes, atau yang lain.
Peralatan yang diuraikan diatas biasa dimiliki para penggemar fotografi. Sementara itu masih banyak peralatan fotografi lainnya, namun penggunaannya lebih bagi para profesional. Misalnya alat pengukur cahaya (light meter), reflektor, proyektor, motor drive dan lain-lain. (Yudanto Prayitno)

Sabtu, 22 Januari 2011

Pasar Sebagai Lokasi Pemburuan

SUARA PEMBAHARUAN, YUDANTO PRAYITNO

Pasar dan komunitasnya merupakan subjek foto yang cukup lengkap dan menarik. Di dalam pasar kita bisa menemukan bermacam-macam subjek mulai dari manusia, barang dagangan, warna-warni buah, sayuran sampai mungkin bangunan pasar itu sendiri yang unik untuk diabadikan.
Pasar sebagai lokasi berburu foto (hunting) mempunyai daya tarik dan kekuatan tersendiri. Apalagi untuk pasar tradisional yang setiap daerah mempunyai ciri khas. Misalnya untuk pasar di pedesaan Jawa tidak setiap hari buka, maka kita digelitik untuk mengetahui apa dan bagaimana tentang pasar tradisional itu. Ada pasar yang hanya buka pada pasaran Pon, Wage, Kliwon, Legi, atau Pahing saja.
Di pasar tradisional kalau kita beruntung bisa mendapatkan subjek khas daerah. Misalnya pakaian daerah yang dipakai oleh penjual serta pembeli untuk dijadikan subjek foto atau mungkin wajah khas penduduk desa dengan segala macam ekspresinya.
Tidak hanya wajah khas desa, kalau berburu foto di pasar luar pulau atau bahkan luar negeri mungkin kita juga menemukan wajah khas daerah tertentu yang cukup menarik dan fotogenik.
Sebelum berburu foto di pasar sebaiknya kita mengetahui fungsi pasar. Pasar pada hakekatnya adalah tempat pertemuan antara penjual dan pembeli. Ada pasar yang hanya menyediakan satu jenis komoditi, misalnya ikan maka sering pasar ini disebut pasar ikan. Ada pasar sayur, pasar buah, pasar hewan, tetapi ada pula yang menjual bermacam-macam komoditi serta kebutuhan manusia. Dan pasar inilah yang banyak ditemukan di seluruh wilayah Indonesia.

Persiapan Alat
Seperti berburu foto di lokasi manapun, kita memerlukan adanya persiapan alat yang dipakai. Demikian pula bila kita berburu foto di pasar. Paling tidak sehari sebelum berburu foto, alat-alat yang akan dipakai sudah siap dan dicek apakah masih berfungsi baik. Dicek pula baterai kamera, baterai lampu kilat. Kalau perlu baterai diganti yang baru dan membawa baterai sebagai cadangan.
Peralatan berburu foto yang kita punya tidak perlu dibawa semua, bila dibawa semua akan memberatkan waktu pelaksanaan pemotretan. Untuk itu, perlu dipilih peralatan yang sesuai dengan lokasi dan kebutuhan kita saja.
Peralatan minimal adalah kamera SLR dan lensa dengan panjang fokus 50 mm (lensa normal untuk kamera format 35 mm) atau mungkin ditambah lensa zoom 35-105 mm, lampu kilat, tripod, filter dan cable release. 
Film juga diperlukan persiapan lebih banyak (kalau pakai kamera analog) bila berburu di luar kota atau luar negeri yang mungkin belum tentu setahun sekali kita kembali ke lokasi tersebut. Dan yang perlu diperhatikan kondisi dan situasi saat diadakan perburuan foto dengan peralatan memotret itu sendiri.

Lokasi
Lokasi pasar yang belum pernah dikunjungi sebaiknya lebih dahulu kita cari informasi tentang pasar tersebut kepada orang yang lebih mengetahuinya. Atau mungkin melakukan survei untuk mengetahui subjek-subjek foto yang menarik dan yang khas dari pasar tersebut.
Ketika melakukan survei perlu pula diperhatikan kondisi pasar yang menyangkut tentang pencahayaannya. Apakah pasar itu tertutup sehingga matahari tidak banyak masuk atau pasar yang hanya terdiri atap dan tiang-tiang sehingga cahaya matahari bebas menerangi pasar tersebut.
Dengan mengetahui kondisi pencahayaan yang ada disuatu pasar, kita bisa memilih waktu yang tepat untuk berburu foto.
Biasanya berburu foto dilakukan waktu pagi atau sore hari pada saat matahari condong ini dikarenakan supaya antara subjek dan bayangan tidak terlalu kontras serta bisa menimbulkan efek cahaya yang menarik. Bila sampai siang hari baru mendapatkan subjek yang menarik perlu mempertimbangkan alat tambahan untuk mengurangi kontras. Lampu kilat atau reflektor bisa dipakai untuk mengurangi kontras yang berfungsi sebagai cahaya pengisi.

Izin
Yang perlu diperhatikan pada saat pemotretan di pasar, hendaknya meminta izin dahulu terhadap subjek yang akan diabadikan bila subjek berupa manusia. Hal ini untuk menghindari kesalahpahaman. Bila tida diizinkan jangan memaksa untuk mengabadikan, dengan demikian kita juga menghormati hak azasi subjek untuk tidak mau dipotret.
Di pasar sebaiknya kita mengabadikan subjek tanpa perlu diketahui dan diperhatikan banyak orang. Sehingga sebisa mungkin tidak menggunakan lampu kilat karena pancaran lampu kilat akan menarik perhatian khalayak sehingga mungkin akan dikerumuni banyak orang yang mengakibatkan kebebasan gerak kita terganggu.
Bila subjek berupa benda yang dijual hendaknya kita meminta izin kepada penjual dan sedapat mungkin menjelaskan tujuan kita memotret. Jika akan merubah barang dagangan untuk mendapatkan komposisi yang menarik perlu kita meminta izin dan jangan lupa untuk mengembalikan ke posisi semula. Perlu mengucapkan terima kasih karena diizinkan untuk memotret. (Yudanto Prayitno)

Jumat, 14 Januari 2011

HITAM PUTIH INDONESIA

Aris Sudanang (Jawa Pos) menulis di FB : Utang Indonesia masuk stadium empat. Kalau diibaratkan kanker stadium empat, Indonesia akan seperti apa?

Senin, 03 Januari 2011

DANTO'S POST CARD

Komuditas kartu pos sudah semakin jarang. Kartu pos sudah dikalahkan teknologi. DANTO'S POST CARD adalah komuditas kartu pos yang mengambil tema siar. Berminat bisa email, PM, FB, SMS ke 6208158038987. 50 ex. Rp.125.000 untuk wilayah Indonesia sudah termasuk ongkos kirim.( 50 ex. U$ 35 ). Donasi No. Rek. 0005279566 Bank BNI 46.

Minggu, 19 Desember 2010

Telephotography

SUARA PEMBAHARUAN, YUDANTO PRAYITNO

Istilah "telephotography" hakekatnya merupakan pemotretan yang dilakukan dari jarak jauh dengan menggunakan lensa panjang atau lensa telefoto (telephoto lens). Lensa telefoto atau sering disebut lensa tele adalah lensa dengan panjang fokusnya lebih panjang dari lensa standar atau normal. Pada kamera format 35 mm lensa standar mempunyai panjang fokus 45 mm sampai 55mm. Panjang fokus sendiri merupakan jarak dari titik bakar lensa kelapisan emulsi film pada badan (body) kamera.
Ada pula yang menyebutkan bahwa "telephotography" adalah pemotretan close up pada jarak jauh dengan memakai lensa tele. Pemotretan close up akan menghasilkan ukuran kesan pada film dengan subyeknya berbanding 1:20 sampai 1:1. Berbeda dengan makro atau mikro. Kalau makro subyek yang direkam dengan ukurannya seperti kenyataan atau lebih besar dari kenyataan, atau bisa dikatakan gambar negatif dibandingkan dengan subyeknya sendiri berbanding 1:1 sampai 20:1. Sedangkan mikro perbandingan ukuran gambar dan subyeknya kira-kira 20:1 sampai 1000:1.
Pemotretan dengan menggunakan lensa tele banyak dilakukan para penggemar fotografi. Apalagi fotografer yang bekerja di media massa. Untuk meliput suatu pertandingan sepak bola misalnya, maka tak mungkin mendekat ke subyek pada saat pertandingan berlangsung. Jalan satu-satunya adalah menggunakan lensa tele. Pada saat pemotretan kepala negara atau orang penting lainnya, karena faktor keamanan tidak bisa dekat-dekat, maka perlu menggunakan lensa tele untuk mendekatkan subyek. Atau saat pemotretan binatang yang berbahaya bila didekati, maka lensa tele sangat berperan disini.
Selain kemudahan dan keuntungan bila menggunakan lensa tele, terdapat pula kendala yang harus diperhatikan. Antara lain goyangan kamera karena lensa tele relatif panjang dan berat. Kontras yang rendah pada sebuah subyek karena pengambilan gambar yang jauh jaraknya. Jarak yang jauh juga menimbulkan kecenderungan warna biru yang disebabkan kabut atmosfir. Serta gelombang/getaran udara yang cukup kuat bisa menimbulkan kekaburan.
Untuk mengatasi kendala goyangan bila kita memotret dengan lensa tele bisa dilakukan dengan mempergunakan kecepatan rana setinggi-tingginya (paling lambat 1/100 detik). Menggunakan penyangga tambahan untuk lensanya selama pemotretan atau bisa pula diletakkan tabung lensa pada tembok, kap mobil, menjepit erat-erat pada benda yang kokoh seperti sisi bangunan, pohon dan lain-lain. Guna menambah kestabilan kamera pemotret hendaknya membuka kakinya lebar, siku-siku diletakkan erat-erat pada rusuk dan menekan bagian belakang kamera keras-keras pada kening dan pipi. Bisa pula menggunakan tripod.

Optimal
Sebelum melakukan pemotretan dengan lensa tele perlu mengetahui sifat-sifat lensa tele supaya dapat menggunakannya secara optimal. Dengan pengetahuan tentang sifat-sifat lensa tele diharapkan akan lebih bisa mengembangkan kreatifitas.
Lensa tele mempunyai sifat mempersempit sudut pandang, mendekatkan pandangan, ruang ketajamannya lebih sempit, perspektif lebih padat, diafragma terbesarnya lebih terbatas serta lensa tele itu berat hingga mudah menimbulkan goncangan.
Sudut pandang merupakan sudut yang terbentuk dari titik bakar lensa dengan elemen lensa yang terdepan. Untuk lensa tele ada yang mempunyai sudut pandang sampai dua derajat. Kalau sudut pandang lensa standar 46 derajat maka lensa tele kurang dari itu, hingga pada pemotretan dengan jarak dan subyek sama dalam bidang negatif 24x36 mm akan nampak lebih besar gambarnya. Di sini lensa tele bekerja seperti teropong, bisa mendekatkan pandangan (subyek yang jauh kelihatan besar).
Lensa tele mempunyai panjang fokus lebih panjang daripada lensa standar, ini berarti akan menghasilkan ruang ketajaman lebih sempit. Dengan sifat ini kita bisa lebih mudah membuat gambar dengan latar belakang kabur. Namun dengan ruang ketajaman yang sempit ini kalau memotret dengan lensa tele harus lebih teliti mengatur tajam pemotretan.
Tampaknya lensa tele mempunyai perspektif lebih padat, artinya subyek yang jauh digambarkannya lebih besar daripada semestinya, oleh karena itu tampak lebih dekat. Ini bisa dilihat bila kita memotret dengan lensa tele, dua buah subyek ada perbedaan jarak beberapa meter kebelakang akan nampak seperti dalam satu bidang.
Berbeda dengan lensa normal, bukaan diafragmanya akan lebih terbatas. Misalnya untuk lensa normal bukaan maksimal diafragmanya bisa mencapai f/1,2 tapi untuk lensa tele bukaan maksimal f/2 atau bahkan mungkin f/5,6.
Perlu pula diperhatikan sifat lensa tele yang berat, yang bisa sampai 5,5 kg, ini akan merepotkan dan menimbulkan goyangan bila kita tidak mempunyai kiat menanggulanginya.

Jenis Lensa
Pada umumnya lensa dibagi menjadi lensa sudut lebar, lensa standar (normal) dan lensa tele. Ada yang membagi lensa sudut lebar menjadi lensa sudut lebar (wide angle lens),  lensa sudut ultra lebar (ultra wide angle lens) dan lensa mata ikan (fish eye lens). Demikian pula lensa tele dibagi lagi menjadi lensa tele pendek (short telephoto lens), lensa tele panjang (telephoto lens), lensa tele super panjang (super telephoto lens), dan lensa tele refleks (reflex telephoto lens).
Lensa tele pendek mempunyai panjang fokus 85 mm sampai 105 mm. Lensa ini sering disebut "lensa potret" karena banyak dipakai untuk memotret  wajah meskipun bisa pula kita memotret wajah dengan lensa normal. Tapi bila kita memotret wajah dengan lensa normal untuk memperoleh proyeksi wajah yang memenuhi bidang negatif kita harus memotret dari jarak dekat. Ini bisa menimbulkan distorsi pada gambarnya. Dengan lensa tele ini kita bisa memotret dari jarak yang lebih jauh untuk memperoleh proyeksi wajah yang memenuhi bidang negatif tanpa distorsi.
Pemakaian lensa tele pendek selain untuk potret kapala sampai bahu, dapat pula untuk foto olahraga, jurnalistik dan lain-lain.
Lensa tele panjang mempunyai panjang fokus 135 sampai 300 mm. Kegunaan lensa ini sudah termasuk khusus dan dibutuhkan ketrampilan khusus pula. Kebanyakan dipakai untuk pemotretan olahraga, wildlife, foto jurnalistik dan lain-lain.
Lensa tele super panjang mempunyai panjang fokus 400 sampai 1000 mm. Lensa jenis ini kebanyakan sudah dilengkapi dengan dudukan untuk tripod supaya kamera dapat tetap diam (tidak bergerak). Lensa ini digunakan untuk memotret subyek yang jauh sekali atau berbahaya yang tidak dapat didekati.
Lensa tele refleks mempunyai konstruksi khusus yaitu menggunakan sejenis kaca yang memantulkan bayangan ke dalam tabir pengamat. Biasa digunakan untuk pemotretan olahraga, wildlife, efek khusus dan lain-lain.
Harga sebuah lensa tele, biasanya mahal. Perlu pertimbangan yang matang baik dari segi manfaat dan segi kemampuan keuangan bila akan membeli serta berkreasi dengan teknik "telephotography". (Yudanto Prayitno)

Mengenal Subjek Pemotretan

SUARA PEMBAHARUAN, YUDANTO PRAYITNO


Sebuah karya foto tidak akan pernah ada bila tidak ada subjek yang dipotret. Pengenalan subjek yang dipotret ini penting untuk dapat menghasilkan sebuah karya foto yang baik dan menarik..
Sangat banyak macam dan ragam subjek pemotretan. Dari segi ini saja bisa dikatakan bahwa dunia fotografi sangat luas cakupannya. Tidak hanya manusia sebagai subjek yang bisa diabadikan, namun segala yang berada di jagat raya ini bias diabadikan. Mulai yang besar bentuknya sampai dengan bakteri satu sel pun bias diabadikan, tapi tentu saja memerlukan alat bantu berupa mikroskop.
Di dunia fotografi subjek pemotretan bisa digolongkan menjadi subjek utama atau yang menjadi focus of interest, subjek sekunder, subjek statis, subjek dinamis, subjek yang berwujud dan subjek yang tidak berwujud.
Setiap pemotret yang akan menghasilkan karya foto perlu sekali menerapkan kejelian serta pemahaman terhadap subjek. Mana yang akan dijadikan subjek utama dan dan mana subjek sekunder. Hingga sebuah karya foto bias disajikan secara utuh dan sempurna.
Bila foto tidak bisa menonjolkan subjek utama atau dengan kata lain antara subjek utama dan subjek sekunder penonjolannya sama, maka karya foto akan menjadi rancu dan kurang menarik.
Subjek utama (focus of interest) biasanya satu, bisa berupa binatang, anak-anak, olahragawan dan masih banyak lagi yang bisa dijadikan subjek utama. Namun perlu adanya subjek sekunder sebagai pendukung subjek utama, supaya karya foto menjadi menarik.
Latar Belakang
Subjek sekunder yang perlu kita perhatikan adalah latar belakang, latar depan, cakrawala, serta langit bila pemotretan di alam bebas.
Latar belakang ini, menuntut perhatian sebesar perhatian subjek utama bila ingin menghasilkan karya foto yang memuaskan. Contoh klasik yang sering dipakai adalah bila subjek utama berupa kapala manusia maka perhatikan latar belakangnya jangan sampai ada pohon yang tampaknya muncul dari kepala manusia.
Contoh lain, jangan sampai latar belakang sama suasananya dengan subjek utama baik warna maupun coraknya, hingga penonjolan subjek utama berkurang bahkan jangan sampai latar belakangnya yang lebih menarik dari subjek utama kita.
Untuk memisahkan subjek utama dengan latar belakangnya dapat dilakukan dengan membuat latar belakangnya kabur, membuat subjek utama lebih cerah daripada latar belakangnya, pada film hitam putih dapat dilakukan dengan permainan filter.
Misalnya subjek utama dan latar belakang, merah serta hijau, ini akan Nampak warna abu-abu yang sama. Supaya dapat dipisahkan subjeknya, maka ditambah filter agar satu tampak lebih cerah dan yang lain lebih gelap.
Latar belakang terletak di belakang subjek utama, sedangkan latar depan terletak di depan yang bisa menciptakan kesan kedalaman atau kontras antara dekat dan jauh.
Latar depan sering digunakan dengan maksud membingkai subjek utama. Contoh pada foto yang dibuat dari pintu, jendela atau dua deretan cabang-cabang pohon yang terletak di depan subjek utama.
Membingkai ini akan lebih berhasil bila diikuti kontras antara gelap dan terang, gelap pada latar depannya.
Cakrawala cukup penting pula diperhatikan karena ini akan membagi foto menjadi dua bagian, daratan (tanah) dan langit. Letak cakrawala mempunyai pengaruh utama pada kesan sebuah karya foto. Makin rendah cakrawala, makin luas daerah langit, akan nampak lebih bebas. Sebaliknya makin tinggi cakrawala, makin sempit langitnya, memberikan suasana berat dan bersifat duniawi.
Langit sebagai subjek sekunder juga mempengaruhi hasil pemotretan. Langit yang setiap saat bisa berubah, perwujudannya ditentukan oleh suasana atmosfir dan letak matahari.
Dari kedua faktor inilah akan tercipta variasi yang tak terbatas. Maka untuk mendapatkan langit yang sesuai dengan subjek utama, pemotret harus menunggu.
Misalnya memotret sebuah gedung, pemunculan langit sebagai subjek sekunder dapat diatur dengan cara pemotret menunggu langit yang cocok dengan subjek gedung atau dapat dimanipulasi dengan memakai filter untuk mendukung penampilan gedung yang kita potret.
Statis
Subjek statis mempunyai sifat tidak bergerak/diam, kecuali bila digerakkan oleh kekuatan dari luar.
Banyak contoh subjek statis seperti pemandangan alam, bunga, pohon-pohon, seni bangunan dan lain-lain.
Dengan sifat yang tidak bergerak ini pemotret mempunyai lebih banyak waktu untuk mengabadikan, sehingga pemotret dengan leluasa mempelajari subjek dari berbagai sudut pemotretan, berbagai kondisi pencahayaan atau mungkin dengan pemilihan teknik pemotretannya.
Subjek dinamis mempunyai sifat bergerak dan berubah-ubah. Subjek yang tergolong dalam kelompok ini misalnya anak-anak, hewan, peristiwa olahraga dan lain-lain.
Yang perlu diperhatikan pada subjek dinamis adalah gerakan dan perubahan tidak pernah tepat sama, hingga bila sekali saat momen penting terlewatkan, maka hilanglah untuk selama-lamanya.
Dengan alasan takut terlewatkan inilah kadang seorang pemotret menghabiskan film yang cukup banyak agar supaya tidak kehilangan gambar yang terbaik. Ini sering terjadi pada fotografer media massa.
Keberhasilan kita mengabadikan subjek dinamis terletak pada kemampuan mengamat-amati, kemampuan melihat dan memperkirakan momen penting yang akan terjadi serta diperlukan kesiap-siagaan.

Berwujud
Subjek berwujud berupa semua yang mempunyai bentuk dan dapat diindra. Sedangkan subjek tak berwujud bisa berupa gagasan, ide, konsep, perasaan, emosi serta getaran jiwa.
Sangat mudah menghasilkan subjek yang berwujud tanpa mengungkapkan sifat-sifat yang tak berwujud.
Misalnya, sangat mudah mengabadikan anak-anak namun bagaimana mengabadikan anak-anak yang mempunyai ekspresi sedih atau gembira, ini belum tentu setiap pemotret bisa melakukannya.
Mengabadikan subjek tak berwujud harus melalui perantara subjek berwujud. Misalnya perasaan gembira atau sedih bisa dilihat pada ekspresi wajah.
Kesan sensual bisa terlihat pada ekspresi dan gaya seorang model. Pemotret yang mengerjakan iklan biasanya memperhatikan subjek yang tak berwujud ini.
Sifat tak berwujud biasanya dipakai pada foto promosi sebuah produk. Seorang konsumen akan mengamati foto kalau emosinya tersentuh.
Subjek berwujud dan tak berwujud akan saling melengkapi, demikian pula subjek utama dan subjek sekunder. (Yudanto Prayitno)