KESEDERHANAAN DALAM HITAM PUTIH

Warna secara psikologis punya pengaruh terhadap rasa. Warna-warna tertentu menjadi simbol dari sesuatu. Merah misalnya melambangkan keberanian, hitam melambangkan kemurungan, putih melambangkan kesucian. Warna-warna terang melambangkan keceriaan. Warna hitam putih adalah warna yang menunjukkan kesederhanaan.

Dalam dunia fotografi, warna merupakan salah satu elemen penting dalam membuat suatu karya foto. Menatap karya foto hitam putih, kadang menimbulkan kesan yang lain. Kadang timbul eksotis, mistis, religis dan menunjukkan pernyataan yang lebih bermakna mendalam. Pernyataan Ansel Adam seniman fotografi abad ini "Forget what it looks like. How does is feel?" Menjadi tak berlebihan dalam kontek ini.

Kesederhanaan sebuah kata yang mudah sekali diucapkan tapi sulit untuk dilaksanakan. Dalam kondisi bangsa yang mempunyai utang ribuan trilyun, kesederhanaan menjadi kata kunci yang semestinya dilakukan mulai dari pejabat kelurahan sampai pejabat paling tinggi beserta wakil-wakil rakyatnya. Mereka semestinya bisa menjadi panutan masyarakat.

Apakah mereka bisa menjadi panutan dalam hal kesederhanaan ?....................................................

Justru dalam kehidupan petani, nelayan, buruh, orang yang terpinggirkan kadang kita malah bisa menemukan contoh kesederhanaan.

Bisakah kita berkesederhanaan? .............................

Minggu, 11 Maret 2012

"Old Print", Alternatif Proses Fotografi


KOMPAS, IRWANDI
Fotografer, Staf pengajar Jurusan Fotografi Fakultas Seni Media Rakam
Institut Seni Indonesia, Yogyakarta

Belum banyak orang tahu bagaimana proses cetak fotografi yang dilakukan oleh para pionir fotografi sebelum revolusi fotografi yang dicetuskan oleh George Eastman, pendiri Kodak Company. Di mana dulu, fotografer meramu sendiri bahan-bahan kimia penunjang munculnya gambar, di kala manusia belum mengenal click and drag di computer. 
Sebuah fenomena alam ditangkap oleh Aristoteles pada abad IV sebelum Masehi. Pada saat itu ia melihat imaji hasil proyeksi gerhana matahari yang disebabkan masuknya sinar melalui celah dedaunan, serta prinsip inverted image yang sebelumnya ditemukan oleh seorang filsuf China bernama Mo Ti yang merupakan titik awal ditemukannya fotografi hingga seperti saat ini.
Hasil dari dua penemuan tadi diaplikasikan menjadi sebuah instrument yang disebut Camera Obscura sebagai aid for drawing pada abad XV yang telah dilengkapi dengan apparatus/lensa (lensa pertama kali ditemukan oleh Ibnu Al Haitam) sebagai penguat sinar dan juga dilengkapi dengan cermin untuk memantulkan imaji proyeksi. Pada saat itu belum ditemukan teknologi peka cahaya yang dapat merekam imaji proyeksi ke atas kertas, maka yang dihasilkan pada saat itu adalah gambar hasil goresan tangan yang dibuat berdasarkan proyeksi dari obyek.
Barulah pada abad XIX, tepatnya pada tahun 1826, foto pertama di dunia berhasil dibuat oleh Nicephore Niepce dengan karya sun drawing-nya. Diikuti oleh Jaques Louis Mande Daguerre dan Williams Henry Fox Talbot yang secara terpisah berhasil membuat foto yang lebih permanen (1844). Talbot jugalah yang menemukan metode cetak positif-negatif dalam fotografi yang sampai saat ini masih digunakan terutama dalam fotografi analog.
Cetakan foto pada saat ini hadir dalam jenis dan teknik yang beragam. Daguerre menamakan cetakannya dengan Daguerreotype, yaitu foto yang dibuat di atas lembaran tembaga yang dilapisi dengan perak yang telah di-iodinisasi. Sementara Talbot juga demikian. Ia menamakan temuannya dengan istilah Talbotype atau Calotype, yaitu foto yang dicetak di atas kertas yang telah dilapisi perak klorida (gabungan garam dan perak nitrat).
Di luar itu, ada pula cetakan yang ditemukan oleh pencetus istilah photography, yaitu Sir John Herschel. Herschel menemukan metode cetak yang disebut Cyanotype pada tahun 1842. Cyanotype dikenal juga dengan sebutan blue print yang digunakan para arsitek untuk menduplikasi gambar kerja. Metode cetak Cyanotype merupakan metode yang paling sederhana di antara metode lainnya. Bahan kimia dasar untuk Cyanotype aialah potassium ferricyanida dan ferric ammonium sitrat. Selain itu, Herschel juga menemukan metode cetak Chrysotype pada tahun yang sama.
Saat ini, metode cetak yang dilakukan pada masa awal ditemukannya fotografi sering disebut dengan istilah old print atau old photography process. Ada juga yang menyebutnya dengan early photography process maupun hand made photography.
Beberapa metode dan bahan yang digunakan untuk membuat old print seperti salt print, cyanotype, dan kalitype, relatif mudah dan sederhana. Dengan tahapan yang sederhana tersebut, maka bukan tidak mungkin untuk dilakukan sendiri. Selain itu, proses old print tidak membutuhkan peralatan masinal. Memang ada beberapa peralatan yang jarang dimiliki, seperti timbangan milligram dan gelas ukur kimia. Namun, barang-barang itu mudah didapat dan harganya relatif terjangkau oleh kantong kebanyakan orang.
Bahan kimia yang digunakan pun cukup mudah didapat, seperti perak nitrat, garam (untuk salt print), ferric ammonium sitrat (untuk kallitype), dan potassium ferricyanida (untuk cyanotype). Bahan yang terakhir ini agak mahal dan untuk membelinya harus disertai surat keterangan dari lembaga agar tidak disalahgunakan. Sebaiknya pembuatan old print ini dilakukan secara kolektif karena akan meringankan biaya penyediaan alat dan bahan yang diperlukan. Formula-formula old print dapat ditemukan di berbagai sumber bacaan, seperti buku fotografi dan situs internet.
Secara umum, tahapan dalam membuat old print dapat diuraikan sebagai berikut. Langkah pertama ialah mempersiapkan film negatif yang akan dicetak, film negatif dapat dicetak dengan printer ke atas kertas tipis atau ke atas transparansi (film orto merupakan pilihan terbaik). Ukuran negatif dibuat sesuai dengan ukuran foto yang akan dibuat.
Langkah kedua, melarutkan bahan kimia dengan konsentrasi tertentu. Setelah larut, cairan ini disebut emulsi yang peka cahaya, maka semua ini harus dilakukan dalam ruangan bersirkulasi udara yang baik dan dengan penerangan lampu merah.
Ketiga, mengolesi emulsi cair yang telah disiapkan ke atas kertas yang akan dijadikan kertas foto atau kertas yang akan dicetak dan keringkan.
Langkah berikutnya ialah meletakkan negatif ke atas kertas foto (sebaiknya dopres dengan kaca) dan disinari dengan cahaya ultraviolet atau cahaya matahari selama beberapa menit. Pada saat penyinaran akan terlihat perubahan warna emulsi akibat reaksinya terhadap cahaya. Setelah penyinaran foto dapat langsung dicuci dan dikeringkan, tapi pada beberapa cetakan, sebelum dicuci, foto direndam ke dalam fixer (obat untuk foto hitam putih) terlebih dahulu.
Masih banyak lagi metode old print yang dahulu digunakan orang sebelum ditemukannya kertas foto seperti sekarang ini, seperti albumen print dan bromoil. Namun karena mahalnya bahan-bahan kimia yang diperlukan untuk membuatnya dan pertimbangan tingkat kesulitan pembuatannya, maka hanya beberapa jenis cetakan saja yang sampai sekarang masih sering dilakukan oleh beberapa kalangan fotografer baik profesional maupun amatir dari beberapa Negara seperti Amerika, Inggris, dan Australia. Bahkan di Negara-negara itu terdapat banyak komunitas old print yang secara berkala mengadakan workshop dan pameran untuk umum.
Old Print bisa menjadi alternatif yang menarik dalam proses cetak fotografi, apalagi di tengah derasnya arus digitalisasi fotografi, old print tentu memiliki daya tarik tersendiri dalam khazanah perfotografian di Indonesia, di era mudahnya manipulasi foto ternyata teknologi kuno pun tetap menarik untuk dilakukan. Daya tarik old print dapat dirasakan dari berbagai sisi, seperti proses perwujudannya, eksperimen dalam mewujudkan old print sangat mungkin dilakukan karena para kreator old print sebenarnya memiliki keleluasaan untuk memodifikasi konsentrasi bahan kimia old print dengan harapan mendapatkan bentuk-bentuk baru.
Dari sisi medianya, beberapa jenis old print dapat diterapkan di berbagai media selain kertas, seperti kain, batu, kayu, dan media lainnya. Sehingga menantang para kreator old print untuk mencobanya. Selain itu, sajian visual old print dapat menampilkan nuansa “tempo doeloe” mampu menggiring penikmat foto untuk me-replay ingatan masa lalunya. Old print pun tentunya akan menarik jika divisualkan dalam berbagai tema seperti arsitektur, pemandangan alam, potret, dan tema lainnya yang dapat dipilih serta disesuaikan dengan appearance old print itu sendiri, sehingga tema-tema tersebut akan memiliki makna yang semakin mendalam.

Rabu, 04 Januari 2012

Pameran Foto GAP "MEREKA BAGIAN DARI KITA"

Pameran Foto "MEREKA BAGIAN DARI KITA"

"MEREKA BAGIAN DARI KITA"
"Mereka Bagian Dari Kita" tema yang diusung mahasiswa yang tergabung dalam GAP (Genic Art Photography) dalam sebuah pemerannya. Menurut Mulki Prihandoko ketua GAP, pameran ini merupakan bentuk kepedulian terhadap lingkungan dan anak-anak terpinggirkan disekitar lokasi TPA sampah Bantar Gebang Bekasi. Anak-anak ini tergabung dalam sanggar Satu Untuk Semua, sanggar yang membina pemulung kecil dan anak-anak pemulung.
Pameran "Mereka Bagian Dari Kita" menampilkan 46 karya foto, berlangsung awal Januari lalu di kampus AkommRTVi (Akademi Komunikasi Media Radio Televis dan Periklanan), jalan Kemang Pratama Raya MM-12 Bekasi.





Sanggar SATU UNTUK SEMUA. Sanggar ini membina anak-anak terpinggirkan di sekitar lokasi TPA sampah Bantar Gebang Bekasi. Mau berkontribusi apa pun hubungi Mbak Resa atau Bang Etka Hp. 081213595400

Rabu, 19 Oktober 2011

Wajib Menangkap Raja yang Berkhianat.


Facebook : Tasawuf Djawa

Syekh 'Izuddin Ibn 'Abdissalam, ulama tasawuf yang diagungkan, tidak hanya berpangku tangan asyik dengan dirinya sendiri, melainkan sangat peduli terhadap kehidupan masyarakat, sampai-sampai berfatwa: "Wajib menangkap raja-raja Mamaluk yang berkhianat kepada kaum muslimin, rakyat mereka sendiri".

Bukan seperti gambaran salah sebagaimana halnya kisah para Raja tempo dulu, seorang Raja, seorang Kepala Negara, seorang Presiden atau Perdana Menteri dengan jajaran Kabinetnya di era globalisasi sekarang ini, adalah pelayan rakyatnya.

Sesungguhnya sejak awal peradaban Islam, Kanjeng Nabi Muhammad Saw dan empat Khalifah sesudahnya, sudah memberikan teladan bagaimana seorang pemimpin harus memberikan contoh hidup sederhana dan melayani rakyatnya.

Mereka tidur di atas selembar tikar yang kasar, berpakaian dengan hanya dua atau tiga jubah yang dipakai bergantian dan harus ditambal di sana-sini, serta makan hanya dengan roti yang terbuat dari tepung kasar sebagaimana rakyat kebanyakan waktu itu. Bahkan Umar memanggul sendiri serta memasakkan roti untuk rakyatnya yang dijumpainya hidup dalam kemiskinan, sebagai bentuk hukuman terhadap dirinya sendiri.

Kemiskinan menurut Khalifah Ali , “ seandainya itu berupa manusia maka akan kubunuh dia”. Seorang Pemimpin yang hidup bergelimang kemewahan sementara banyak rakyatnya yang masih hidup dalam kubangan kemiskinan, apalagi membuat kebijakan-kebijakan yang mengakibatkan kesengsaraan rakyat, sama dengan berlaku tidak adil alias zolim. Sedangkan ketidakadilan ataupun kezoliman haruslah dilawan, jika perlu diperangi.

Maasyaa Allaahu la quwwata illaa billaah.

Selasa, 13 September 2011

PELAKU DOSA JADI IDOLA, KORUPTOR DIPUJA KARENA DERMAWAN

FACEBOOK, Tasawuf Djawa

Menyedihkan sekali, dalam masyarakat yang mayoritas Islam, yang menjunjung tinggi akhlak mulia, yang senantiasa menyerukan untuk mengerjakan kebaikan dan mencegah kemungkaran (amar ma’ruf nahi munkar) ini, uang hasil korupsi, uang hasil sogok-menyogok deng...an dalih komisi, diskon, hadiah sama-sama senang dan sejenisnya yang dinikmati secara pribadi dan tidak kembali ke lembaga, uang hasil judi, uang hasil menjual minuman keras, uang hasil menipu dan rejeki haram lainnya, lebih dihargai dibanding kejujuran. Sungguh sangat memprihatinkan jika para pelaku dosa justru menjadi idola, pengawal serta pengaman jiwa dan harta masyarakat justru berperilaku mirip dengan serigala ganas berbulu domba. Situasi yang mirip dengan saat-saat menjelang kehancuran Majapahit. Bersyukur kita sempat memiliki cendekiawan muslim Prof. Dr. Nurcholish Madjid yang dalam berbagai kesempatan melakukan koreksi, seharusnya ulama, masjid dan pesantren bisa tumbuh menjadi pondasi dan pilar kehidupan berbangsa dan bernegara yang tidak boleh kehilangan independensinya. Jika sudah suntuk dengan situasi ibukota yang seperti itu, biasanya saya lari ke pedesaan, mengadu kepada ustadz-ustadz desa yang tawadhu, yang zuhud dan wara, ke ustadz Mufasir di Barubug, Serang. Ke Abah Endang di Conggeang, Sumedang. Ke Abah Thoyib di Mojokerto, ke ustadz Hasani di Pasuruan, ke ustadz Hambali di Lasem atau ke ustadz-ustadz lain yang dianjurkan oleh beliau-beliau. Di suatu hari beberapa tahun lalu, ustadz Mufasir bercerita, kenalan baik saya, seorang mantan menteri, berkunjung ke beliau untuk minta didoakan agar bisa kembali menjabat sebagai menteri. Kepada kawan saya ini ustadz bertanya, apa yang sudah dilakukannya untuk umat sewaktu menjadi menteri atau pejabat tinggi yang telah menjadikannya kaya raya? Kawan saya menjawab bahwa ia telah membantu berbagai kegiatan keagamaan, mendanai aneka aktivitas keumatan dan masyarakat, membangun pesantren, sekolah Islam dan banyak masjid. Dengan menceritakan pertemuan itu, ustadz Mufasir berpesan wanti-wanti, menasihati dengan sangat agar kita tidak meniru kawan saya tadi, yang berdalih korupsi demi perjuangan umat. Yang membuat teori keseimbangan. Dosa korupsi yang berarti menzalimi rakyat, dalam sangkaannya dapat ditebus dengan beramal memberikan sumbangan ke pesantren, ke kegiatan-kegiatan keagamaan dan kemasyarakatan serta membangun masjid. Masjid yang dibangunnya, kata ustadz tidak pantas untuk salat, bahkan patut dibakar. Masjid seperti itu lebih buruk dari masjid dhirar yang dibangun oleh orang-orang munafik pada zaman Kanjeng Nabi Muhammad Saw. Sebagaimana firman Allah dalam surat At Taubah : 108, “Janganlah kamu salat dalam masjid itu selama-lamanya”. Nasihat ini sering membuat saya was-was jika harus salat di sebuah masjid yang megah lagi mewah. Saya yang lemah ini resah tiada daya. Betapa tidak, tatkala hendak salat saya mensucikan diri dengan berwudu, tetapi sesudah itu duduk dan bersujud di lantai yang jangan-jangan dibangun dengan sumbangan dari seorang koruptor atau dari hasil perbuatan zalim. Duduk dan bersujud di lantai yang dibangun dengan uang haram. Baginda Rasul bersabda sebagaimana diriwayatkan Ibnu Umar dan Ahmad, “Barang siapa yang membeli pakaian dengan sepuluh dirham, sedang di dalamnya terdapat dirham dari barang haram, maka Allah tidak akan menerima salatnya selagi pakaian itu ada pada dirinya”. Nah, ini bukan lagi pakaiannya, bahkan tempat sujudnya. Naudzubillah. (Gbr : Serigala berbulu domba dari Google Images)

Sabtu, 16 Juli 2011

PERCAYAKAH PADA JANJI ALLAH SWT? Kenapa Umat Islam Terpuruk

FACEBOOK, Tasawuf Djawa

Syahdan semenjak awal Orde Baru pada pertengahan 1960-an sampai sekarang, setiap tahun kita atau setidaknya saya, mengalami cuci otak oleh berita-berita utama media massa Indonesia tentang kisah sukses dalam berhutang. Saya sendiri bahkan sempat menjadi wartawan yang harus meliputnya. Menjadi saksi dari sebuah ironi, sementara delegasi-delegasi negara-negara pemberi hutang tinggal di hotel-hotel sederhana, yang dekat dengan tempat persidangan, sehingga bisa berjalan kaki, atau naik taksi atau mengendarai mobil sederhana, delegasi Indonesia yang berhutang, tinggal di hotel berbintang lima yang bergengsi dengan menyewa limousine nan mewah.

Pada Sidang Konsultasi Negara-negara Donor untuk Indonesia di Paris tahun 1996 misalnya, saya sempat terperangah melihat salah seorang anggota delegasi Australia, yaitu Dr. Peter Mc. Cawley hadir hanya dengan menggunakan sepatu sandal dan baju batik dari bahan katun yang sangat sederhana. Masya Allah. Dan sampai sekarang, entah ini ironi juga atau bukan, saya belum pernah mendengar, baik ulama, tokoh-tokoh umat Islam lebih-lebih lagi partai Islam di Dewan Perwakilan Rakyat, membahas ketergantungan Indonesia pada hutang luar negeri berdasarkan nilai-nilai keislaman. Mudah-mudahan pendapat saya ini salah.

Untuk apa saya ceritakan semua itu? Inilah kaitannya. Gusti Allah yang memiliki segala apa yang di langit dan di bumi, bahkan di seluruh jagad raya ini telah berulang kali menjanjikan di dalam Al Qur’an, akan menganugerahkan kebahagiaan dan kemuliaan di dunia maupun di akhirat, untuk mewariskan bumi ini kepada hamba-hamba-Nya yang senantiasa taat kepada Allah dan Rasul-Nya.

Cobalah kaji beberapa contoh berikut ini : “Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya agar kamu diberi rahmat” (Ali Imran : 132) Kemudian Al-Anbiya : 105, “Dan sungguh Kami telah menetapkan di dalam Zabur sesudah peringatan (Taurat) bahwa sesungguhnya bumi akan diwarisi hamba-hambaKu yang saleh”. Selanjutnya lebih tegas lagi adalah An Nuur : 52, 54 dan 55. Ayat 52 dan 54 memerintahkan sekaligus menjanjikan barang siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya akan diberikan kemenangan, yang diuraikan lagi dalam ayat 55 sebagai berikut: “Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh di antara kamu, sungguh Dia akan menjadikan mereka pimpinan di muka bumi sebagaimana Dia telah menjadikan pemimpin orang-orang sebelum mereka, dan sungguh Dia meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhoi-Nya untuk mereka, dan sungguh Dia akan menggantikan ketakutan mereka dengan keamanan. Mereka menyembahKu, tidak menyekutukanKu dengan sesuatu. Dan barang siapa yang ingkar sesudah demikian itu, maka mereka itulah orang yang fasik”.

Masih banyak lagi ayat-ayat yang memuat janji-janji Allah untuk memudahkan jalan keluar dari berbagai kesulitan, memberi rejeki yang tiada disangka-sangka datangnya, melimpahkan barokah-Nya dari langit dan dari bumi, membuat hamba-hamba-Nya tidak akan merasa khawatir dan tidak pula bersedih hati, memberikan pembeda yang benar dan yang salah, menghapuskan dosa-dosa dan kesalahan serta menganugerahkan pahala yang baik di akherat kelak. Dan “Tidak ada perubahan dari janji-janji Allah” (Yunus: 64).

Demikian tegas janji-janji Allah, bahkan diulang-ulang. Tetapi mengapa umat Islam terpuruk kehidupannya di dunia? Mengapa banyak diantara kita yang hidup menderita, miskin dan papa? Bodoh dan terbelakang? Didera berbagai wabah penyakit dan bencana. Maasyaa Allaah.

Minggu, 10 Juli 2011

Lomba dan Pameran Foto Kebudayaan Indonesia 2011

Lomba dan Pameran Foto Kebudayaan Indonesia 2011

Petunjuk Teknis
Memperebutkan Piala Presiden dan Uang Pembinaan
A. Latar Belakang
Kebudayaan merupakan karakter dan jati diri bagi setiap bangsa. Bangsa Indonesia memiliki keragaman budaya yang tersebar di seluruh pelosok tanah air dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Rote dengan keunikan dan identitas masing-masing. Keragaman Budaya tersebut harus didokumentasikan dan dipublikasikan kepada masyarakat sehingga timbul peduli untuk melindungi, mengembangkan dan memanfaatkan.
Lomba dan Pameran Foto Kebudayaan Indonesia merupakan wahana yang efektif dalam mendokumentasikan dan mempublikasikan hasil-hasil kebudayaan. Foto di samping sebagai alat dokumentasi juga sebagai media komunikasi visual  mempunyai peran yang sangat penting dalam penyebarluasan informasi.
B. Tujuan
  1. Memberikan ruang ekspresi dan apresiasi kepada masyarakat pecinta fotografi untuk dapat meningkatkan kreativitas dalam pengambilan objek budaya.
  2. Mendorong tumbuhya rasa cinta terhadap hasil budaya bangsa Indonesia baik yang diwariskan nenek moyang , maupun yang sedang berkembang saat ini.
  3. Menginventarisasi dan mendokumentasikan keragaman budaya Indonesia yang tersebar di 33 provinsi.
  4. Memberikan informasi seluas-luasnya kepada masyarakat tentang keanekaragaman budaya bangsa Indonesia.
C. Tema
“Wonderful Indonesia”
D. Kategori Peserta Lomba
  1. Pelajar
  2. Mahasiswa
  3. Umum
E. Ketentuan Umum:
  1. Lomba ini terbuka untuk pelajar, mahasiswa, dan umum, Warga Negara Indonesia;
  2. Tidak dipungut biaya;
  3. Karya foto yang dikirim adalah karya ciptaan sendiri, belum pernah dipublikasikan di media cetak skala nasional dan belum pernah memenangkan penghargaan dalam lomba fotografi tingkat nasional atau internasional;
  4. Foto yang diikutsertakan dalam lomba adalah hasil foto yang benar-benar dari pemotretan baik menggunakan kamera digital atau kamera analog (kamera film);
  5. Peserta diberikan kebebasan dalam memilih objek hasil-hasil kebudayaan bangsa Indonesia  yang tersebar di seluruh tanah air;
  6. Setiap peserta diperbolehkan mengirimkan maksimal 5 buah karya foto;
  7. Olah digital diperbolehkan, sebatas perbaikan kualitas foto tanpa merubah keaslian objek (sharpening, cropping, color balance, dan saturasi warna);
  8. Tidak diperbolehkan mengirimkan foto berupa kombinasi lebih dari satu foto atau menghilangkan/mengubah elemen-elemen dalam satu foto;
  9. Setiap foto harus dilengkapi identitas diri peserta seperti: kategori, nama fotografer, judul foto, alamat, nomor telepon/hp, e-mail atau secara terpisah dilampiri diskripsi karya dan fotokopi identitas diri seperti kartu pelajar, kartu mahasiswa, KTP, SIM atau surat keterangan lainnya;
  10. Hak cipta melekat pada fotografer, namun Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata diberikan hak untuk mempublikasikan semua foto yang masuk ke Panitia untuk kepentingan non-komersial tanpa harus ijin dari pemiliknya. Panitia dibebaskan tuntutan pihak III bila foto digunakan untuk kepentingan komersial;
  11. Foto yang dikirim ke Panitia tidak dikembalikan dan menjadi koleksi Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata;
  12. Tata cara/prosedur pengiriman karya:
    Karya foto diperkecil (resize) dengan ukuran sisi terpanjang 1024 pixel, disimpan dalam JPG skala 6, dan dikirim ke Panitia melalui e-mail dengan alamat: lombafotonasional2011@senimedia.org / lombafotonasional2011@gmail.com
  13. Pengiriman karya dimulai  bulan Juni 2011 dan ditutup tanggal 29 Juli 2011 pukul 19.00 WIB;
  14. Dengan mengirimkan karya foto berarti peserta telah dianggap menyetujui semua persyaratan yang telah ditetapkan oleh Panitia;
  15. Panitia berhak mendiskualifikasi peserta sebelum dan sesudah penjurian apabila dianggap melakukan kecurangan;
  16. Seleksi karya untuk memilih 30 nominator, yang terdiri dari 10 foto kategori  pelajar, 10 foto kategori mahasiswa, dan 10 foto kategori umum, pada   tanggal 1 Agustus 2011;
  17. Para nominator akan diundang ke Jakarta untuk mengikuti workshop dan hunting  pemotretan pada tanggal 16 – 17 Agustus 2011;
  18. Panitia akan menanggung biaya transportasi peserta (dari daerah asal ke Jakarta P.P.)  yang terpilih sebagai nominator, transportasi lokal, akomodasi dan konsumsi selama mengikuti workshop dan hunting  pemotretan di Jakarta.
  19. Pengumuman pemenang pada tanggal 17 Agustus 2011;
  20. Penyerahan hadiah pada tanggal 18 Agustus 2011;
  21. Pajak (PPh) hadiah ditanggung pemenang;
  22. Keputusan dewan juri mutlak tidak dapat diganggu gugat;
  23. Panitia akan memilih 40 karya foto terbaik dari setiap kategori yang layak untuk dipamerkan bersama dengan 30 karya nominator, pemenang Lomba Cipta Seni Pelajar, dan karya-karya foto undangan;
  24. Pameran akan dilaksanakan pada tanggal 18 – 20 Agustus 2011 di Jakarta;
  25. Untuk informasi Lomba peserta dapat mengunjungi Website: www.senimedia.org
  26. Koordinasi lebih lanjut dapat menghubungi:
    Pustanto telp. 021 – 5725561, 0811831866.
    Yusuf Hartanto telp. 08176011066 atau
    Subdit Seni Media, Direktorat Kesenian Gedung “E” Lantai 9, Komplek Kemendiknas.
    Jl. Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta 10270. Telepon/faksimili: (021) 5725561, 5725534
F. Hadiah
  1. Pelajar mendapatkan hadiah:
    • Juara I:  Piala Presiden, piagam dan uang sebesar Rp. 10.000.000
    • Juara II:  Piala Presiden, piagam dan uang sebesar Rp. 5.000.000
    • Juara III:  Piala Presiden, piagam dan uang sebesar Rp. 4.000.000
    • Harapan I:  Piala Presiden, piagam dan uang sebesar Rp. 3.000.000
    • Harapan II:  Piala Presiden, piagam dan uang sebesar Rp. 2.000.000
  2. Mahasiswa mendapatkan hadiah:
    • Juara I:  Piala Presiden, piagam dan uang sebesar Rp. 15.000.000
    • Juara II:  Piala Presiden, piagam dan uang sebesar Rp. 8.000.000
    • Juara III:  Piala Presiden, piagam dan uang sebesar Rp. 6.000.000
    • Harapan I:  Piala Presiden, piagam dan uang sebesar Rp. 4.000.000
    • Harapan II:  Piala Presiden, piagam dan uang sebesar Rp. 2.000.000
  3. Umum  mendapatkan hadiah:
    • Juara I:  Piala Presiden, piagam dan uang sebesar Rp. 20.000.000
    • Juara II:  Piala Presiden, piagam dan uang sebesar Rp. 10.000.000
    • Juara III:  Piala Presiden, piagam dan uang sebesar Rp. 7.500.000
    • Harapan I:  Piala Presiden, piagam dan uang sebesar Rp. 5.000.000
    • Harapan II:  Piala Presiden, piagam dan uang sebesar Rp. 3.000.000
G. Kriteria Penilaian
  • Kesesuaian Tema (isi foto)
  • Daya tarik
  • Keunikan
  • Harmonisasi
H. Juri Lomba
  1. Arbain Rambey (Fotografer, Editor Foto Kompas, Jakarta)
  2. Darwis Triadi (Fotografer dan Dosen, Jakarta)
  3. Ferry Ardiyanto (Fotografer dan Dosen Universitas Trisakti, Jakarta)
  4. Goenadi Haryanto (Fotografer dan Dosen, Jakarta)
  5. Sri Bimo Seloaji (Fotografer, Jakarta)
I. Penutup
Hal-hal yang belum tercantum dalam Petunjuk Teknis ini, akan diberitahukan lebih lanjut. Kegiatan ini dilaksanakan oleh Direktorat Kesenian, Direktorat Jenderal Nilai Budaya Seni dan Film, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata.

Selasa, 21 Juni 2011

Fotojurnalis, Melakukan Segala dengan Kameranya

FOTOMEDIA, Mei 2003, kr/arb

Dalam banyak diskusi fotografi, umumnya dengan kelompok-kelompok fotografi mahasiswa, pertanyaan ini hampir selalu muncul : "Dalam suatu keadaan tertentu di mana ada orang dalam kesulitan, seorang fotografer sebaiknya menolong atau memotret?"
Coba kita simak kasus Kevin Carter, fotografer lepas untuk kantor berita Reuters dan Sygma Photos New York di Afrika Selatan. Pada awal tahun 1993, Carter mendapat tugas meliput kasus kelaparan besar di Sudan. Banyak foto yang dihasilkan Carter dari liputannya ini. Dan sebuah foto dari liputannya itu kemudian mendapat hadiah sangat bergengsi untuk fotojurnalis, Hadiah Pulitzer pada tahun 1994.
Fotonya yang memenangkan hadiah itu adalah gambar seorang anak kecil yang terjatuh dalam perjalanan menuju posko pembagian makanan. Di dekat anak itu, seekor burung pemakan bangkai menunggu, seakan yakin bahwa anak kecil itu sebentar lagi menjadi santapannya.
Saat menerima Hadiah Pulitzer di New York tanggal 23 Mei 1994 di New York, tidak ada yang menyangka bahwa Carter telah menyimpan kesedihan tersendiri. Kepada beberapa temannya, Carter mengatakan bahwa ia merasa berdosa telah meninggalkan anak kecil itu. Ia kuatir kalau anak itu betul-betul dimakan burung pemakan bangkai. Jadi, saat menerima Hadiah Pulitzer itu sebenarnya Carter telah mengalami penderitaan batin yang dalam. Dua bulan kemudian, ia ditemukan mati bunuh diri di Johannesburg, Afrika Selatan. Dalam sebuah surat yang ditinggalkannya, Carter menegaskan bahwa ia mengalami penderitaan batin akibat terlalu mementingkan pekerjaannya dibandingkan kewajiban kemanusiaan.
Nasib Carter di atas bisa dikatakan sebagai sebuah kasus ekstrim untuk pekerjaan seorang fotojurnalis pada masalah membenturkan etika profesi dan etika moral. Kasus Carter ini menjadi makin menarik karena setelah Carter bunuh diri, diberitakan bahwa anak dalam foto Carter itu ternyata masih segar bugar, sama sekali tidak menjadi santapan burung pemakan bangkai seperti yang dibayangkan Carter.
Namun kasus lain yang lebih kecil bisa saja dialami fotojurnalis di mana pun termasuk di Indonesia. Tulisan ini tidak akan memberikan penegasan pada pilihan yang harus diambil seorang fotojurnalis, namun mengajak berpikir bahwa dengan kameranya sebenarnya seorang fotojurnalis bisa berbuat lebih banyak daripada sekadar menolong secara langsung.

Menghentikan perang
Pada perang Vietnam, Edward Adams yang biasa dipanggil Eddie Adams dari kantor berita Associated Press, AS, berniat memotret ganasnya perang di Saigon. Waktu itu tanggal 1 Februari 1968 adalah Hari Raya Tet, hari yang dianggap suci oleh orang Vietnam. Tidak ada yang menyangka bahwa pasukan Vietcong menyerang Saigon justru pada hari itu. Perang ini kemudian dikenal dengan "Tet Offensive".
Di tengah hiruk pikuk perang kota di Saigon, Adams melihat serombongan polisi Vietnam membawa seorang tawanan. Rombongan itu lalu berbelok ke sebuah lorong. Adams memutuskan untuk mengikuti rombongan itu dan meninggalkan adegan perang yang sedang seru di tengah.
Rombongan berhenti di sebuah sudut dimana sebuah jip menunggu. Dari dalam jip, Kepala Polisi Vietnam, Brigjen Nguyen Ngoc Loan turun dan langsung menghampiri tawanan yang dituduh sebagai salah satu pemimpin penyusupan Veitcong ini. Para Polisi lain segera menyingkir melihat Loan berjalan perlahan menuju sang tawanan yang tangannya terikat di belakang badannya ini.
Naluri Adams mengatakan bahwa akan terjadi sesuatu. Ia menyiapkan Nikon F-2nya yang terisi film B/W Kodak Tri X Pan. Dan kemudian dalam hitungan waktu sangat singkat, Loan mengeluarkan pistol dari pinggangnya dan menembak kepala tawanan itu dalam jarak yang sangat dekat. Waktu sangat singkat, namun Adams mendapatkan gambar adegan itu, bahkan foto itu memenangkan hadiah Pulitzer tahun 1969.
Waktu Eddie Adams ke Jakarta pada tahun 1995, ia bercerita bahwa sejak sang tawanan didekati Loan, dirinya sudah merasa akan terjadi pembunuhan jalanan. "Yang bisa saya lakukan adalah memotret," kata Adams.
Sebelum kita membahas masalah yang ada di balik foto Adams lebih jauh lagi, kita lihat lagi sebuah kejadian yang masih di Perang Vietnam. Kejadian terjadi kira-kira empat tahun setelah Tet Offensive tadi.
Waktu itu 8 Juni 1972, Kota Trang Bang sekitar 40 kilometer barat Saigon sudah dikuasai Vietcong. Pasukan Vietnam Utara ini menutup akses darat dari Trang Bang ke Saigon lewat Jalan Raya nomor 1. Dengan blokade itu, otomatis terjadi kelumpuhan di ruas Trang Bang-Saigon. Maka pasukan Veitnam Selatan minta bantuan angkatan udaranya yang dibantu pasukan AS untuk melakukan pengeboman terhadap posisi Vietcong di sana.
Terjadi kesalahan besar, Bom Napalm (yang biasa juga disebut bom bensin) jatuh di wilayah pengungsi Vietnam Selatan yang sedang meninggalkan Trang Bang. Banyak sekali korban jatuh. Seorang fotografer asal Vietnam Selatan, Huynh Cong Ut, atau yang biasa dipanggil teman-temannya dengan "Nick Ut" sedang berjalan kaki dari Saigon ke Trang Bang. Ia dengan jelas melihat semua adegan dengan lengkap, sejak pesawat pembom meninggalkan Saigon sampai dengan adegan pembomannya.
Rombongan orang yang terluka oleh Napalm salah sasaran itu melewati Nick Ut, termasuk seorang gadis kecil Phan Thi Kim Phuc yang telanjang bulat. Pakaian gadis itu sudah terbakar habis, sementara punggungnya penuh luka bakar.
Nick Ut merasa tidak bisa berbuat apa-apa pada luka-luka yang diderita Phan. Ia berangkat ke Trang Bang memang dengan tujuan membuat liputan semata. Nick Ut tidak membawa peralatan P3K apa pun selain kamera Leicanya yang terisi film B/W Kodak Tri X Pan. Nick Ut akhirnya memotret adegan Phan sedang berlari itu, dan fotonya ini meraih Hadiah Pulitzer tahun 1973.

Efek Jangka Panjang
Ada dua hal penting yang terjadi akibat foto-foto yang dibuat Eddie Adams dan Nick Ut tadi. Foto Adams membuat orang-orang Amerika marah pada Perang Vietnam. Foto penembakan jalanan tanpa pengadilan yang dilakukan Kepala Polisi Loan itu telah membeberkan kebobrokan perang secara umum. Dalam sebuah ulasan tentang foto Adams itu tertulis komentar begini: "Kami semua jadi ragu. Demokrasi dan kebebasan seperti inikah yang dibela Amerika?"
Foto Adams itu dan juga ulasan-ulasan yang kemudian muncul di berbagai surat kabar membuat para warga AS yang notabene membayar pajak untuk membiayai Perang Vietnam marah. Mereka mulai bertanya-tanya pada motivasi AS terlibat di Vietnam. Keganasan jalanan yang direkam Adams diyakini hanya sebagian dari keganasan yang sebenarnya terjadi. Dan keganasan itu jauh dari misi yang digembar-gemborkan pemerintah AS untuk menyakinkan warganya pada keterlibatan negara adidaya itu di Vietnam.
Puncak kemarahan warga AS pada Perang Vietnam makin menjadi setelah foto Nick Ut tercetak di berbagai media massa. Warga AS melihat kesalahan pengeboman itu sudah tidak bisa ditolerir lagi. AS meninggalkan Vietnam tidak lama kemudian.
Pada kasus foto Eddie Adams dan Nick Ut, terlihat bahwa kedua fotografer memang teguh tugas yang diembannya, yaitu memotret. Adams tidak menolong orang yang dihukum mati di jalanan itu selain karena dia tidak punya cukup legitimasi untuk menghentikannya, ia juga merasa yakin bisa "menolong" dengan cara lain. Dengan memotret adegan itu lalu mengedarkannya, Adams merasa telah berbuat sesuatu yang jauh lebih besar kadarnya daripada sekedar berusaha berteriak-teriak agar hukuman mati jalanan itu tidak dilaksanakan.
Yang dilakukan Nick Ut pun tidak jauh berbeda. Ia lebih memilih memotret karena memang pilihannya hanya itu. Namun, dengan mengedarkan fotonya ke seluruh dunia, "pertolongan" yang lebih besar telah datang ke Vietnam. Pada akhir tahun 90-an lalu, Nick Ut mencari Phan Thi Kim Phuc yang telah menikah dengan warga Kanada. Ia memotret lagi Phan yang sedang menggendong bayinya. Punggung Phan yang tampak "mengerikan" akibat bekas terbakar pada 30 tahun sebelumnya diekspos Nick Ut dengan baik. Dan dengan fotonya itu, kembali Nick Ut mendapat penghargaan.
Bagi seorang fotojurnalis, kewajiban di lapangan adalah memotret. Dalam peristiwa bencana alam misalnya. Seorang fotojurnalis harus mengutamakan tugas memotret. Dengan foto-fotonya, ia bisa memberitakan realitas sebuah bencana kepada semua orang. Tanpa fotonya, orang di luar tidak akan tahu bahwa ada bencana alam di suatu tempat.
Sebuah foto bisa mempunyai kekuatan yang luar biasa yang tidak terbayangkan siapa pun. Foto karya Adams dan Nick Ut adalah contoh bagaimana foto bisa mempercepat berhentinya perang. Jadi, seorang fotojurnalis harus yakin bahwa dengan kameranya ia bisa berbuat banyak. Kamera adalah senjata yang ampuh di tangan fotojurnalis yang baik. (kr/arb)