KESEDERHANAAN DALAM HITAM PUTIH

Warna secara psikologis punya pengaruh terhadap rasa. Warna-warna tertentu menjadi simbol dari sesuatu. Merah misalnya melambangkan keberanian, hitam melambangkan kemurungan, putih melambangkan kesucian. Warna-warna terang melambangkan keceriaan. Warna hitam putih adalah warna yang menunjukkan kesederhanaan.

Dalam dunia fotografi, warna merupakan salah satu elemen penting dalam membuat suatu karya foto. Menatap karya foto hitam putih, kadang menimbulkan kesan yang lain. Kadang timbul eksotis, mistis, religis dan menunjukkan pernyataan yang lebih bermakna mendalam. Pernyataan Ansel Adam seniman fotografi abad ini "Forget what it looks like. How does is feel?" Menjadi tak berlebihan dalam kontek ini.

Kesederhanaan sebuah kata yang mudah sekali diucapkan tapi sulit untuk dilaksanakan. Dalam kondisi bangsa yang mempunyai utang ribuan trilyun, kesederhanaan menjadi kata kunci yang semestinya dilakukan mulai dari pejabat kelurahan sampai pejabat paling tinggi beserta wakil-wakil rakyatnya. Mereka semestinya bisa menjadi panutan masyarakat.

Apakah mereka bisa menjadi panutan dalam hal kesederhanaan ?....................................................

Justru dalam kehidupan petani, nelayan, buruh, orang yang terpinggirkan kadang kita malah bisa menemukan contoh kesederhanaan.

Bisakah kita berkesederhanaan? .............................

Sabtu, 18 April 2015

Pemotretan "Landscape"

Memotret pemandangan/landscape yang perlu dilakukan adalah mengamati objek dengan berbagai macam kondisi pencahayaan dan perbedaan waktu kalau objek yang menarik itu dekat lokasinya. Kalau lokasi jauh maka pemotret harus lebih banyak megetahui hal-hal yang mau dipotret dengan membaca buku atau mencari literatur lainnya. Baru mempersiapkan pemotretan.


Selasa, 15 April 2014

Studio


Studio fotografi ada dua macam, out door studio dan indoor studio. Untuk out door studio yang perlu diperhatikan adalah lighting, back-ground & side ground serta posisi matahari sedang indoor studio yang perlu mendapat perhatian lighting serta back-ground & side ground. Lighting untuk studio ada studio flash dan studio lighting.
Posisi dan fungsi lampu studio
1. Main light
Sebuah lampu kilat yang berfungsi sebagai main light menjadi lampu utama dalam pemotretan artinya sebuah lampu yang ditujukan untuk memunculkan sebentuk wajah dari model. Main light biasa diletakkan pada posisi kurang lebih 45 derajat dari model.
2. Fill in light
Lampu kilat yang berfungsi sebagai fill in light atau cahaya pengisi dipasang pada kekuatan dua stop dibawah main light. Biasanya diletakkan di samping kamera dan hampir frontal (disebut juga front light).
3. Hair light
Posisi lampu ini diletakkan sebagai high light tetapi agak lebih ke belakang dari model. Tujuannya agar sinar lampu kilat tidak ikut mengenai wajah model. Jika mengenai wajah dapat menimbulkan efek mengganggu seperti : munculnya bayangan bulu mata di bawah mata atau bayangan hidung yang jatuh di mulut.
4. Side-back light
Lampu kilat diletakkan di samping belakang model, kira-kira pada sudut 120 derajat. Kekuatan dua stop lebih besar. Side-back light ini biasa digunakan untuk memperoleh efek rim light (efek kilauan cahaya pada bagian pinggir suatu benda).
5. Back light
Posisi lampu kilat 180 derajat di belakang model. Dapat menimbulkan efek rim light di sekeliling rambut model.
6. Background light
Untuk foto ilustrasi agar latar belakang seimbang dengan model.

DIAGRAM POSISI PENCAHAYAAN

Kamis, 03 April 2014

Kertas Foto

Perbedaan Kertas Foto berwarna dan film berwarna.

Kertas foto lapisan-lapisan emulsinya beralaskan kertas putih yang cemerlang dan tidak tembus cahaya. Film berwarna lapisan-lapisan emulsinya beralaskan plastik yang jernih dan tembus cahaya (transparan).
Kertas foto lapisan emulsinya mengandung perak halida yang pada lapisan atasnya peka merah, lapisan tengah peka hijau dan pada lapisan bawah peka biru. Film berwarna lapisan emulsinya mengandung perak halida yang pada lapisan atasnya peka biru, lapisan tengah peka hijau dan pada lapisan bawah peka merah.

Konstruksi Kertas Foto Berwarna
Lapisan Pada Kertas Foto :
1.Lapisan pelindung.
2.Lapisan emulsi pertama dengan perak halida yang peka cahaya merah dan coupler (kopler) pembentuk warna cyan.
3.Gelatin jernih sebagai pemisah.
4.Lapisan emulsi kedua dengan perak halida yang peka cahaya hijau dan coupler pembentuk warna magenta.
5.Gelatin jernih sebagai pemisah.
6.Lapisan emulsi ketiga dengan perak halida yang peka cahaya biru dan coupler pembentuk warna kuning.
7.Lapisan resin untuk melindungi kertas.
8.Alas berupa kertas yang cemerlang.
9.Resin sebagai pelapis kertas.
Kedua permukaan kertas dilapisi dengan resin sehingga tidak menghisap larutan obat-obatan, begitu pula air pembilas, maka kertas itu hemat dalam pemakaian obat-obatan, juga memperpendek waktu pembilasan karena tidak memerlukan air yang banyak untuk membilas atau membersihkannya serta membuat foto cepat kering. Selain itu, setelah kering kertas tidak menggulung, tetapi tetap rata.
Kertas yagn dilapisi resin disebut “Resin Coated” (RC). Pabrik Agfa Gevaert menamakan kertas buatannya “Poly Ethelene Coated” (PE) karena plastik untuk melapisi kertas fotonya mereka sebut “Poly Ethelene”.
Tekstur Kertas Foto
Tekstur atau pola permukaan kertas untuk foto berwarna ditentukan oleh resin atau poly ethelene yang melapisinya. Artinya, kalau lapisan itu licin sebelum keatasnya dilumarkan emulsi, maka permukaan foto akan licin pula. Tetapi kalau lapisan itu diberi pola tertentu, maka permukaan foto mengikuti pola yang terdapat pada lapisan itu.
Kodak memasarkan kertas untuk foto berwarnanya yang bernama Ektacolor dengan tiga macam permukaan sebagai berikut :
                F = Glossy = berkilat.
                N = Lustre = setengah berkilat.
                Y = Silk = berupa sutra.
Fuji menggunakan huruf pertama dari perkataan yang menyatakan sifat permukaan kertas sehingga mudah di ingat.
                G = Glossy = berkilat.
                L = Lustre = setengah berkilat.
                S = Silk = berupa sutra.
                M = Matt = tidak berkilat.
Selain mempunyai beberapa kelebihan, kertas yang dilapisi resin atau plastik mempunyai kekurangan pula, yaitu :
                - Plastik menyebabkan permukaan kertas mudah patah, apalagi kalau kertas itu besar ukurannya. Karena itu kita harus berhati-hati dalam mengerjakannya.
                - Mudah cacat oleh goresan kuku jari atau benda keras lainnya. Tetapi hal ini takkan terjadi kalau kertas di cuci dalam tabung pencuci.
Ukuran Kertas Foto
Dijual dalam bentuk lembaran dan gulungan. Kertas lembaran buatan Kodak dapat dibeli dalam ukuran :
                - 20 X 25 cm dalam kotak isi 25 dan 100 lembar.
                - 28 X 35 cm dalam kotak isi 50 lembar.
                - 40 X 50 cm dalam amplop isi 10 lembar.
                - 50 X 60 cm dalam amplop isi 10 lembar.

Selasa, 25 Maret 2014

Alat Pencetak Foto

Alat Pencetak Foto


Alat cetak tradisional yang disebut kotak pencetak biasa digunakan dengan penyinaran lampu petromaks atau listrik yang berkekuatan kurang lebih 40 wat. Kotak pencetak sudah digantikan alat canggih yang disebut enlarger.

Enlarger
Enlager adalah alat pembesar gambar, yang tersusun dari beberapa bagian. Di mana antara bagian yang satu dengan bagian yang lainnya terkoordinasi dalam satu sistem kerja untuk melakukan proses pencetak gambar dari film negatif.
Ada dua macam Enlanger :
-          Untuk cetak foto warna
-          Untuk cetak foto Hitam putih

1. Enlarger Foto Berwarna
   Pada Enlanger untuk cetak warna terdapat beberapa piranti tambahan yang mendasari perbedaan dengan enlanger untuk cetak hitam putih.

  1. Infra Red – Reflektor Sistem
Menangkap seluruh warna sinar yang diprodusir oleh lampu halogen. Juga berfungsi sebagai pengurang efek panas dari lampu. Cahaya yang terpancar dari reflektor tidak lagi merupakan sinar yang dipancarkan lampu, tetapi telah berubah karakter menjadi sinar “ UV” (Ultra Violet).

B. Triple Filter Color

     Adalah : Cyan (C), Magenta (M), dan Yelow (Y)
     Dari sistem enlager foto color, sinar yang dibiaskan oleh reflektor infra merah akan menghasilkan warna sinar UV. Selanjutnya sinar UV tersebut, disaring oleh ketiga filter color menjadi kombinasi warn-warna yang akan dan mampu menerjemahkan semua warna yang terdapat pada negatif warna.  Sistem pengaturan warna, dari porsi sedikit hingga pada porsi banyak dalam sebuah gambar foto. Diatur oleh perangkat sensor color yang terdapat pada enlarger.

C. Right Engle Reflektor

     Fungsi : Pengurang panas dari sinar yang berasal dari lampu yang akan mengenai film, juga akan bertindak sebagai pemantul sinar-sinar dari filter-filter cyan, magenta dan yellow.

D. Difusi Box (Mirror Tunel/ Light Pipe)

     Berbagai warna cahaya yang berasal dari Right  Engle Reflektor akan mengalami fusi dalam sistem difusi box ini.Pemantulan Sinar reflektor akan mengurangi energi dan efek panas dari cahaya tsb.  Berakibat melemahnya daya proyeksi emulsi film ke kertas foto. Untuk mengatasi hal ini, Diciptakan perangkat “ Difusi box  “ yang mampu membaurkan cahaya tersebut tanpamengurangi energi sedikitpun dari sinar tersebut.
Diagram Sistem Enlarger


Ket.
  1. Lampu Halogen
  2. Reflektor Infra merah
  3. Filter cyan
  4. Filter Magenta
  5. Filter yellow
  6. Engle replektor
  7. Difusi box/ mirror Tunel light Pipe
  8. Beberapa sistem
       - Lensa
       - Negatif Carier
       - Sistem Diafragma
       - Sistem level

Enlarger Foto Hitam Putih
Bagian-bagian Enlarger Foto Hitam Putih
A. Bagian Utama
     Peranannya sangat vital dalam menghasilkan gambar.
1. Lensa
Lensa 1 berfungsi menangkap sinar secara langsung dari bola lampu yang terlebih dahulu melalui ruang sela (difusi box). Sinar dari bola lampu yang karakternya menyebar akan dikumpulkan oleh lensa ini sebelum mengenai film . Lensa 2 berfungsi menyitakan gambar ke kertas foto.
2. Difusi Box
Mampu membaurkan spektrum sinar dari bola lampu untuk BW tanpa dilengkapi dengan lapisan kaca.
3. Sistem Diafragma
Seperti pada kamera memiliki beberapa variasi bukaan. Untuk memudahkan pencetakan gambar dari negatif  yang karakternya bermacam-macam, ( Under atau Over Exposure).
4. Lampu Enlarger Dan Lamp House
Lamp House : Tempat dimana lampu sebagai man polser tercetak. Lampu enlarger dengan berbagai karakter kekuatan pijar banyak tersedia di pasaran .
Ex. Omron Halogen Lamp
Fungsi : Menyetabilkan posisi film agar tidak goyah yang berakibat kaburnya gambar, juga berfungsi untuk mendapatkan format gambar yang bagus.
B. Bagian Pendukung
1. Tiang Penyangga
 Fungsi : Menyetabilkan posisi dan menghilangkan efek goyangan pada body alat cetak.
2. Sistem Level
 Fungsi : untuk posisi fokus dan format, juga digunakan untuk menentukan pembesaran gambar yang dikehendaki.
3. Blak Film
 Penyetabil kedudukan film yang akan dicetak.
4. Laminated Base Board
Untuk menempatkan kertas yang akan disinari atau bisa disebut sebagai meja alat cetak.


Kertas Foto
Macam-macam kertas foto hitam putih yang banyak di pasaran antara lain :
-          Chen fu B/w Paper
-          Ilford
-          Xiamen
-          Hunter
-          Sterling
-          Zuhow
-          Sea gull

Enlarger
Enlarger yang beredar dipasaran
-          Fuji moto enlarger
-          Zennit 35 mm
-          Beta II
-          Universal Alpua II
-          Axomat II
-          Oppemus III
-          Krokus Enlarger dan krokus 44
-          Durst F-30

Test Print

Untuk menyetabilkan standar mutu cetakan ada baiknya membuat standar cetak dan diafragma yang digunakan. Hal ini berguna untuk memperkirakan tingkat penyinaran yang baik Di Lab B/W kita. Yakni mulai dari paling dekat hitanya, hingga pada tingkat putih yang sempurna.

  Membuat standar Diafragma
     Bila menginginkan hasil cetakan dengan kertas penyinaran yang stabil dan rata, kita harus menentukan standar diafgragma kita pakai. Misalnya F/5,6 maka kita harus menggunakan bukaan diafragma tersebut untuk mencetak kondisi film apapun. Dengan tujuan kita bisa memperkirakan lamanya waktu penyinaran, baik pada film yang tipis maupun pada film-film tebal (Over Lighting)         
       Membuat Standar Cetakan

     Tes cetakan yang hitam sempurna bisa diperoleh dengan cara menyinari negatif yang bening sempurna. Untuk lebih akurat kita bisa membuat tes cetakan dalam bentuk “stripes tes prin” yakni cetakan dengan perbedaan selang waktu yang teratur antara yang satu dengan yang lain, misalnya masing-masing selisih 1 detik. Pada kondisi bukaan diafragma yang sama.

Karakter dan Syarat Foto Jurnalistik

"Bertasbihlah kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya didalamnya pada waktu pagi dan petang, orang-orang yang tidak dilalaikan oleh perniagaan, dan tidak (pula) oleh jual-beli, atau aktivitas apa pun dan mengingat Allah, dan (dari) mendirikan shalat, membayarkan zakat, mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi guncang." 
(QS An-Nur [24]: 36-37)

“Dan yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur).” 
(QS. Az-Zukhruf : 11) 

Foto jurnalistik menurut guru besar Universitas Missouri AS, Cliff Edom adalah paduan kata words dan pictures.
Menurut Wilson Hicks, editor foto majalah Life daro 1937-1950 adalah kombinasi dari kata dan gambar yang menghasilkan satu kesatuan komunikasi saat ada kesamaan antara latar belakang pendidikan dan sosial pembacanya.
Ada delapan karakter foto jurnalistik yang menurut Frank P. Hoy dari sekolah jurnalistik dan telekomunikasi Walter Cronkite, Universitas Arizona, pada bukunya yang berjudul Photojournalism The Vissual Approach adalah :
  1. Fotojurnalistik adalah komunikasi melalui foto (communication photography). Komunikasi yang dilakukan akan mengekspresikan pandangan wartawan foto terhadap suatu subyek, tetapi pesan yang disampaikan bukan merupakan ekspresi pribadi.
  2. Medium fotojurnalistik adalah media cetak, koran atau majalah dan media kabel atau satelit juga internet seperti kantor berita (wire servives).
  3. Kegiatan fotojurnalistik adalah kegiatan melaporkan berita.
  4. Fotojurnalistik adalah paduan dari foto dan teks foto.
  5. Fotojurnalistik mengacu pada manusia. Manusia adalah subyek sekaligus pembaca fotojurnalistik.
  6. Fotojurnalistik adalah komunikasi dengan orang banyak (mass audiences). Ini berarti pesan yang disampaikan harus singkat dan harus segera diterima orang yang beraneka ragam.
  7. Fotojurnalistik juga merupakan hasil kerja editor foto.
  8. Tujuan fotojurnalistik adalah memenuhi kebutuhan mutlak penyampaian informasi kepada sesama, sesuai amandemen kebebasan berbicara dan kebebasan pers (freedom of speech and freedom of press).
Syarat Foto Jurnalistik

Syarat foto jurnalistik, setelah mengandung berita dan secara fotografi bagus, syarat lain lebih kepada foto harus mencerminkan etika atau norma hukum, baik dari segi pembuatannya maupun penyiarannya.
Di Indonesia, etika yang mengatur fotojurnalistik ada pada kode etik yang disebut kode etik jurnalistik. Pasal-pasal yang mengatur hal itu ada, khususnya pada pasal 2 dan 3
Pasal 2 berisi pertanggungjawaban yang antara lain : wartawan Indonesia tidak menyiarkan hal-hal yang sifatnya destruktif dan dapat merugikan bangsa dan negara, hal-hal yang dapat menimbulkan kakacauan, hal-hal yang dapat menyinggung perasaan susila, agama, kepercayaan atau keyakinan seseorang atau sesuatu golongan yang dilindungi undang-undang.
Sementara pada pasal 3 berisi cara pemberitaan dan menyatakan pendapat, antara lain disebutkan bahwa wartawan Indonesia menempuh jalan dan cara yang jujur untuk memperoleh bahan-bahan berita. Wartawan Indonesia meneliti kebenaran suatu berita atau keterangan sebelum menyiarkannya dengan juga memperhatikan kredibilitas sumber berita. Di dalam menyusun suatu berita,wartawan Indonesia membedakan antara kejadian (fakta) dan pendapat (opini).
Contoh penerapan dari pasal-pasal yang ada pada kode etik tersebut yaitu, misalnya dalam pembuatan foto tentang kecelakaan atau pembunuhan, tidak boleh menampakkan wajah korban, melainkan ditutupi koran atau sesuatu, atau diambil dari jarak agak jauh.
Contoh lain, foto-foto pengadilan yang dibuat dari belakang orang yang diadili, bukan dari depan, selama status orang tersebut masih tersangka, untuk menghindari penghukuman yang dilakukan oleh wartawan (trial by the press).

Lalu foto-foto yang bersifat pornografi juga tidak boleh disiarkan. Foto yang dibuat dengan teknik manipulasi komputer (grafis) juga tidak boleh disiarkan kalau tidak berdasarkan kebenaran.

Sifat Foto Berita


Sifat Foto Berita

Fotografi di dalam kerja jurnalistik mempunyai peranan yang sangat penting. Ibarat masakan, foto dalam surat kabar atau majalah dapat diumpamakan sebagai bumbu penyedap. Bahkan foto berperan untuk mempercantik wajah media cetak dan membuat pembaca tidak lelah. Apa pun dan bagaimanapun bentuk foto itu, akan merupakan variasi yang sama sekali lain dengan tulisan yang hanya berisi huruf-huruf yang teratur rapi.
Namun demikian sebagai penyedap, tidak semua foto dapat dimasukkan atau ditampilkan di surat kabar atau majalah ada kaidah-kaidah tertentu yang harus dipenuhi dalam menampilkan foto di surat kabar atau majalah.
Di majalah, foto-foto yang dipajang di sampul depan bukan sekedar pajangan. Walaupun mungkin sampul depan majalah itu merupakan etalase yang menyajikan berbagai tawaran kepada pembaca untuk memasuki ruang-ruang yang ada. Melihat-lihat isi dan akhirnya membelinya. Namun foto sampul menyiratkan satu tema atau sajian berita.
Pemuatan foto yang menyiratkan tema atau sajian berita itu biasanya memang dipakai oleh majalah-majalah berita. Sedangkan majalah-majalah yang bersifat populer, majalah keluarga atau wanita, majalah mode dsb. Cenderung memajang foto model yang menonjolkan keindahan. Foto tersebut seringkali tidak mempunyai kaitan sama sekali dengan isinya.
Prof. Dr. RM. Soelarko dalam bukunya “Fotografi untuk nafkah” menyatakan, cover majalah dapat memuat foto yang menjadi bagian dari satu cerita dalam majalah itu yang disebut “cover story”. Diambil dari segi gambar-gambar yang dibuat dalam menghimpun cerita itu, maka foto yang terpilih dengan sendirinya harus memiliki sifat-sifat
           Memiliki news content
           Disajikan dengan jelas hingga mendukung ceritanya
           Teknik dan artistik disampaikan dengan baik

         “Cover Story” atau sampul cerita itu banyak digunakan oleh majalah umum atau majalah berita yang serius sifatnya. Dengan demikian, sebenarnya foto di majalah atau surat kabar itu merupakan visualisasi suatu kejadian, peristiwa atau berita. Oleh karena itu seluruh persyaratan yang berlaku bagi penulisan berita juga berlaku bagi pembuatan foto jurnalistik.
          Daya tarik yang berlaku bagi berita seperti konflik, seks, human interest (daya tarik manusiawi), kedekatan, kebaruan dst-nya itu juga berlaku untuk foto jurnalistik. Tetapi sering kali majalah atau surat kabar yang bersifat populer cenderung untuk menonjolkan unsur seksualitas sebagai satu-satunya daya tarik, walaupun ada pula yang mencoba menampilkan unsur kriminal seperti yang terdapat pada majalh-majalah kriminal.
Khusus bagi surat kabar atau majalah olah raga, foto sampul yang dipajang selalu berkaitan erat dengan olahraga tentunya kaidah menampilkan “ cover story” pada majalah olahraga juga harus dipenuhi. Daya tarik utama yang dipergunakan untuk bidang olahraga ini adalah “Action” yang memancing emosi pembaca, apakah itu tegang, senang atau sedih.
Apapun bentuk yang disajikan oleh surat kabar atau majalah dengan memuat foto dihalaman depan atau sampul, maksud yang terkandung dibalik pemajangan foto sebenarnya mendorong masyarakat untuk membeli produk tersebut. Itu berarti foto yang dipajang harus menarik minat masyarakat untuk membelinya. Dengan kata lain sebenarnya foto tersebut berfungsi sebagai iklan. Tetapi harus dibedakan dengan foto iklan yang memang benar-benar untuk iklan.
Untuk foto iklan, daya tariknya  ditumpukan pada keindahan atau artistiknya. Sedangkan untuk foto jurnalistik, daya tariknya ditekankan pada kekuatan ekspresi kejadian atau peristiwa yang digambarkannya.
Dengan demikian foto didalam surat kabar atau majalah dapat dibedakan fungsinya sebagai iklan, penunjang berita (Ilustrasi) atau berita.
Secara khusus sebenarnya ada perbedaan yang mendasar antara foto untuk majalah yang terbit mingguan, dwi mingguan atau bulanan, dengan foto untuk surat kabar harian.
Seperti halnya berita dalam surat kabar harian yang selalu mengutamakan (Hot), foto pun memerlukan kehangatan. Namun demikian ada kelebihan foto dibandingkan dengan berita tulisan. Kelebihan tersebut terletak pada kurun waktu aktualisasinya. Sebagai visualisasi suatu kejadian, ia memiliki usia yang lebih panjang, lebih abadi . Sedangkan untuk majalah, kecepatan dan kehangatan tersebut tidak terlalu dibutuhkan.
Foto-foto dimajalah lebih dimaksudkan sebagai penunjang (Ilustrasi) tulisan yang karenanya tidak berdiri sendiri. Namun majalah dapat menyaksikan (foto) sehingga pesan yang ingin disampaikan pun lebih mudah ditangkap pembacanya. Ini yang tidak mungkin dilakukan oleh surat kabar harian, yang lebih mengutamakan tulisan daripada foto (visual). Itu sebabnya presentase foto di surat kabar sangat sedikit, sedangkan di majalah ada perimbangan antara foto dengan tulisan.
Ada persamaan sifat tulisan berita dengan foto berita yaitu sama-sama mampu mencekam emosi pembacanya untuk dibawa seolah-olah menghadapi suatu peristiwa. Tetapi harus diakui bahwa foto jauh lebih unggul dalam merekam peristiwa. Ia tidak mungkin berbohong atau menutup-nutupi bagian-bagian tertentu peristiwa itu. Ia lebih cepat ditangkap dan dimengerti, tanpa harus didahului dengan  membaca keterangannnya. Sedangkan tulisan berita membutuhkan imajinasi penulisnya untuk menggambarkan suatu  peristiwa secara lengkap. Lagipula ada emosi penulis yang ikut terbawa ketika menceritakan suatu peristiwa, sehingga pembaca pun dipengaruhi emosi penulisnya itu.

Dilihat dari perbedaanya, foto mempunyai sifat-sifat sebagai berikut :

A. Mudah di buat
Foto sangat mudah dibuat . Siapa pun juga dapat melakukannya. Apalagi dengan perkembangan teknologi yang sangat cepat, peralatan foto yang canggih ditawarkan kepada kita. Tanpa dibutuhkan pengetahuan atau keterampilan, peralatan foto yang otomatis (kamera instamatik) dapat merekam peristiwa atau kejadian yang ada didepannya.
Kini bahkan tidak sekedar merekam, kamera-kamera polaroid yang banyak dijual memudahkan kita untuk merekam peristiwa atau kejadin langsung jadi. Dengan teknologi yang lebih canggih kamera digital jauh memudahkan kita untuk merekam.

B. Akurat
Foto juga mempunyai kelebihan didalam merekam peristiwa atau kejadian. Ia selalu akurat dan tidak pernah berbohong. Ia merekam apa yang kelihatan dan menyajikannya sebagaimana adanya. Dengan demikian dalam karya jurnalistik, wartawan foto telah merekam dengan kamera dan dapat dilihat di foto.

C. Universal
Sebagai bahsa visual, foto mempunyai sifat universal. Artinya ia dapat berlaku dimana saja tanpa kita harus menerjemahkannya ke dalam berbagai bahasa. Sebuah foto akan berbicara secara visual tentang kejadian yang direkam kepada berbagai orang scara sama ; tidak akan menunjukkan dirinya berbeda diantara satu dan orang lain. Misalnya foto tentang orang terkapar di jalan, akan dimengerti oleh semua orang bahwa foto itu menggambarkan bahwa orang itu terkapar di jalan. Di Eropa, di Amerika atau di Afrika mau pun di Asia, foto seperti itu akan menimbulkan kesan yang sama bagi yang melihatnya. Ini yang berbeda dengan bahasa tulis . Bahasa tulisan perlu menggambarkan secara jelas dan tepat. Jangan sampai ada pengertian yang berbeda apabila diterjemahkan dalam bahasa yang lain, misalnya maksudnya terkapar tetapi ditempat lain diartikan sebagai tidur.

D. Visual
Berbeda dengan bahasa tulisan, foto meerupakan bahasa visual yang mudah ditangkap dan dimengerti tanpa orang harus membaca dan mencurahkan artinya.
Dengan demikian foto dapat mengatakan sesuatu kepada orang yang pandai dan yang bodoh sekaligus secara sama. Bahkan anak-anak yang belum dapat mambaca pun dapat menangkap satu pengertian tentang foto.

E. Kompak
Dilihat dari komposisi yang tersaji dalam gambar, foto dapat menjelaskan substansi berita itu secara kompak, teratur ia menyajikan gambar secara runtut sesuai dengan kejadian yang direkam. Tidak ada tumpang tindih, sehingga menimbulkan kesan gampang dimengerti dan karenanya dengan mudah pula merangsang reaksi orang yang melihatnya.

F. Selalu Aktual
Berbeda dengan tulisan yang ditandai dengan waktu penulisannya, foto tidak mengenal tanda waktu itu sifat foto yang selalu aktual itu terletak pada rekaman yang ekspresif yang selalu dapat menggugah eemosi orang yang melihatnya. Nilai aktual yang seperti itulah yang membuat foto selalu menarik . Ia merupakan dokumen otentik yang tidak dapat dibantah.