KESEDERHANAAN DALAM HITAM PUTIH

Warna secara psikologis punya pengaruh terhadap rasa. Warna-warna tertentu menjadi simbol dari sesuatu. Merah misalnya melambangkan keberanian, hitam melambangkan kemurungan, putih melambangkan kesucian. Warna-warna terang melambangkan keceriaan. Warna hitam putih adalah warna yang menunjukkan kesederhanaan.

Dalam dunia fotografi, warna merupakan salah satu elemen penting dalam membuat suatu karya foto. Menatap karya foto hitam putih, kadang menimbulkan kesan yang lain. Kadang timbul eksotis, mistis, religis dan menunjukkan pernyataan yang lebih bermakna mendalam. Pernyataan Ansel Adam seniman fotografi abad ini "Forget what it looks like. How does is feel?" Menjadi tak berlebihan dalam kontek ini.

Kesederhanaan sebuah kata yang mudah sekali diucapkan tapi sulit untuk dilaksanakan. Dalam kondisi bangsa yang mempunyai utang ribuan trilyun, kesederhanaan menjadi kata kunci yang semestinya dilakukan mulai dari pejabat kelurahan sampai pejabat paling tinggi beserta wakil-wakil rakyatnya. Mereka semestinya bisa menjadi panutan masyarakat.

Apakah mereka bisa menjadi panutan dalam hal kesederhanaan ?....................................................

Justru dalam kehidupan petani, nelayan, buruh, orang yang terpinggirkan kadang kita malah bisa menemukan contoh kesederhanaan.

Bisakah kita berkesederhanaan? .............................

Selasa, 25 Maret 2014

Sifat Foto Berita


Sifat Foto Berita

Fotografi di dalam kerja jurnalistik mempunyai peranan yang sangat penting. Ibarat masakan, foto dalam surat kabar atau majalah dapat diumpamakan sebagai bumbu penyedap. Bahkan foto berperan untuk mempercantik wajah media cetak dan membuat pembaca tidak lelah. Apa pun dan bagaimanapun bentuk foto itu, akan merupakan variasi yang sama sekali lain dengan tulisan yang hanya berisi huruf-huruf yang teratur rapi.
Namun demikian sebagai penyedap, tidak semua foto dapat dimasukkan atau ditampilkan di surat kabar atau majalah ada kaidah-kaidah tertentu yang harus dipenuhi dalam menampilkan foto di surat kabar atau majalah.
Di majalah, foto-foto yang dipajang di sampul depan bukan sekedar pajangan. Walaupun mungkin sampul depan majalah itu merupakan etalase yang menyajikan berbagai tawaran kepada pembaca untuk memasuki ruang-ruang yang ada. Melihat-lihat isi dan akhirnya membelinya. Namun foto sampul menyiratkan satu tema atau sajian berita.
Pemuatan foto yang menyiratkan tema atau sajian berita itu biasanya memang dipakai oleh majalah-majalah berita. Sedangkan majalah-majalah yang bersifat populer, majalah keluarga atau wanita, majalah mode dsb. Cenderung memajang foto model yang menonjolkan keindahan. Foto tersebut seringkali tidak mempunyai kaitan sama sekali dengan isinya.
Prof. Dr. RM. Soelarko dalam bukunya “Fotografi untuk nafkah” menyatakan, cover majalah dapat memuat foto yang menjadi bagian dari satu cerita dalam majalah itu yang disebut “cover story”. Diambil dari segi gambar-gambar yang dibuat dalam menghimpun cerita itu, maka foto yang terpilih dengan sendirinya harus memiliki sifat-sifat
           Memiliki news content
           Disajikan dengan jelas hingga mendukung ceritanya
           Teknik dan artistik disampaikan dengan baik

         “Cover Story” atau sampul cerita itu banyak digunakan oleh majalah umum atau majalah berita yang serius sifatnya. Dengan demikian, sebenarnya foto di majalah atau surat kabar itu merupakan visualisasi suatu kejadian, peristiwa atau berita. Oleh karena itu seluruh persyaratan yang berlaku bagi penulisan berita juga berlaku bagi pembuatan foto jurnalistik.
          Daya tarik yang berlaku bagi berita seperti konflik, seks, human interest (daya tarik manusiawi), kedekatan, kebaruan dst-nya itu juga berlaku untuk foto jurnalistik. Tetapi sering kali majalah atau surat kabar yang bersifat populer cenderung untuk menonjolkan unsur seksualitas sebagai satu-satunya daya tarik, walaupun ada pula yang mencoba menampilkan unsur kriminal seperti yang terdapat pada majalh-majalah kriminal.
Khusus bagi surat kabar atau majalah olah raga, foto sampul yang dipajang selalu berkaitan erat dengan olahraga tentunya kaidah menampilkan “ cover story” pada majalah olahraga juga harus dipenuhi. Daya tarik utama yang dipergunakan untuk bidang olahraga ini adalah “Action” yang memancing emosi pembaca, apakah itu tegang, senang atau sedih.
Apapun bentuk yang disajikan oleh surat kabar atau majalah dengan memuat foto dihalaman depan atau sampul, maksud yang terkandung dibalik pemajangan foto sebenarnya mendorong masyarakat untuk membeli produk tersebut. Itu berarti foto yang dipajang harus menarik minat masyarakat untuk membelinya. Dengan kata lain sebenarnya foto tersebut berfungsi sebagai iklan. Tetapi harus dibedakan dengan foto iklan yang memang benar-benar untuk iklan.
Untuk foto iklan, daya tariknya  ditumpukan pada keindahan atau artistiknya. Sedangkan untuk foto jurnalistik, daya tariknya ditekankan pada kekuatan ekspresi kejadian atau peristiwa yang digambarkannya.
Dengan demikian foto didalam surat kabar atau majalah dapat dibedakan fungsinya sebagai iklan, penunjang berita (Ilustrasi) atau berita.
Secara khusus sebenarnya ada perbedaan yang mendasar antara foto untuk majalah yang terbit mingguan, dwi mingguan atau bulanan, dengan foto untuk surat kabar harian.
Seperti halnya berita dalam surat kabar harian yang selalu mengutamakan (Hot), foto pun memerlukan kehangatan. Namun demikian ada kelebihan foto dibandingkan dengan berita tulisan. Kelebihan tersebut terletak pada kurun waktu aktualisasinya. Sebagai visualisasi suatu kejadian, ia memiliki usia yang lebih panjang, lebih abadi . Sedangkan untuk majalah, kecepatan dan kehangatan tersebut tidak terlalu dibutuhkan.
Foto-foto dimajalah lebih dimaksudkan sebagai penunjang (Ilustrasi) tulisan yang karenanya tidak berdiri sendiri. Namun majalah dapat menyaksikan (foto) sehingga pesan yang ingin disampaikan pun lebih mudah ditangkap pembacanya. Ini yang tidak mungkin dilakukan oleh surat kabar harian, yang lebih mengutamakan tulisan daripada foto (visual). Itu sebabnya presentase foto di surat kabar sangat sedikit, sedangkan di majalah ada perimbangan antara foto dengan tulisan.
Ada persamaan sifat tulisan berita dengan foto berita yaitu sama-sama mampu mencekam emosi pembacanya untuk dibawa seolah-olah menghadapi suatu peristiwa. Tetapi harus diakui bahwa foto jauh lebih unggul dalam merekam peristiwa. Ia tidak mungkin berbohong atau menutup-nutupi bagian-bagian tertentu peristiwa itu. Ia lebih cepat ditangkap dan dimengerti, tanpa harus didahului dengan  membaca keterangannnya. Sedangkan tulisan berita membutuhkan imajinasi penulisnya untuk menggambarkan suatu  peristiwa secara lengkap. Lagipula ada emosi penulis yang ikut terbawa ketika menceritakan suatu peristiwa, sehingga pembaca pun dipengaruhi emosi penulisnya itu.

Dilihat dari perbedaanya, foto mempunyai sifat-sifat sebagai berikut :

A. Mudah di buat
Foto sangat mudah dibuat . Siapa pun juga dapat melakukannya. Apalagi dengan perkembangan teknologi yang sangat cepat, peralatan foto yang canggih ditawarkan kepada kita. Tanpa dibutuhkan pengetahuan atau keterampilan, peralatan foto yang otomatis (kamera instamatik) dapat merekam peristiwa atau kejadian yang ada didepannya.
Kini bahkan tidak sekedar merekam, kamera-kamera polaroid yang banyak dijual memudahkan kita untuk merekam peristiwa atau kejadin langsung jadi. Dengan teknologi yang lebih canggih kamera digital jauh memudahkan kita untuk merekam.

B. Akurat
Foto juga mempunyai kelebihan didalam merekam peristiwa atau kejadian. Ia selalu akurat dan tidak pernah berbohong. Ia merekam apa yang kelihatan dan menyajikannya sebagaimana adanya. Dengan demikian dalam karya jurnalistik, wartawan foto telah merekam dengan kamera dan dapat dilihat di foto.

C. Universal
Sebagai bahsa visual, foto mempunyai sifat universal. Artinya ia dapat berlaku dimana saja tanpa kita harus menerjemahkannya ke dalam berbagai bahasa. Sebuah foto akan berbicara secara visual tentang kejadian yang direkam kepada berbagai orang scara sama ; tidak akan menunjukkan dirinya berbeda diantara satu dan orang lain. Misalnya foto tentang orang terkapar di jalan, akan dimengerti oleh semua orang bahwa foto itu menggambarkan bahwa orang itu terkapar di jalan. Di Eropa, di Amerika atau di Afrika mau pun di Asia, foto seperti itu akan menimbulkan kesan yang sama bagi yang melihatnya. Ini yang berbeda dengan bahasa tulis . Bahasa tulisan perlu menggambarkan secara jelas dan tepat. Jangan sampai ada pengertian yang berbeda apabila diterjemahkan dalam bahasa yang lain, misalnya maksudnya terkapar tetapi ditempat lain diartikan sebagai tidur.

D. Visual
Berbeda dengan bahasa tulisan, foto meerupakan bahasa visual yang mudah ditangkap dan dimengerti tanpa orang harus membaca dan mencurahkan artinya.
Dengan demikian foto dapat mengatakan sesuatu kepada orang yang pandai dan yang bodoh sekaligus secara sama. Bahkan anak-anak yang belum dapat mambaca pun dapat menangkap satu pengertian tentang foto.

E. Kompak
Dilihat dari komposisi yang tersaji dalam gambar, foto dapat menjelaskan substansi berita itu secara kompak, teratur ia menyajikan gambar secara runtut sesuai dengan kejadian yang direkam. Tidak ada tumpang tindih, sehingga menimbulkan kesan gampang dimengerti dan karenanya dengan mudah pula merangsang reaksi orang yang melihatnya.

F. Selalu Aktual
Berbeda dengan tulisan yang ditandai dengan waktu penulisannya, foto tidak mengenal tanda waktu itu sifat foto yang selalu aktual itu terletak pada rekaman yang ekspresif yang selalu dapat menggugah eemosi orang yang melihatnya. Nilai aktual yang seperti itulah yang membuat foto selalu menarik . Ia merupakan dokumen otentik yang tidak dapat dibantah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar